Senin, 28 Mei 2012

Kebebasan Berpendapat dan Berdiskusi?

Beberapa waktu lalu sempat santer terdengar di berbagai media pemberitaan tentang ricuhnya diskusi dari seorang tokoh reformist Islam: Irshad Manji. Beliau adalah seorang muslim Kanada yang gemas dengan keadaan kaum muslim dan ingin mengadakan reformasi-reformasi yang ada di dalamnya. Kedatangan Irshad Manji ke Indonesia, termasuk ke kota tempatku menuntut ilmu (Jogja) dimaksudkan untuk diskusi mengenai buku terbarunya yang berjudul "Allah, Liberty, and Love". Sebelumnya, beliau pernah menulis buku yang menuai banyak kontroversi dengan adanya pengakuan bahwa dirinya adalah seorang lesbian. Dan ya, dapat dipastikan, diskusi itu mendapat kecaman, bahkan hingga muncul tindakan anarkis dari kelompok FPI. Di Jogja sendiri, setelah pihak UGM membatalkan adanya diskusi tersebut dengan alasan keamanan, diskusi tetap berlanjut dengan berpindah lokasi di LKiS. Gedung tersebut tak luput dari aksi anarkis dari kelompok-kelompok Islam yang tidak setuju. 

Pro-kontra pun segera saja merebak di kalangan pemerhati masalah ini. Ada yang mengecam Irshad dan banyak yang menyesalkan aksi anarkis itu. Berbagai seruan yang menyoal kebebasan berpendapat dan berdiskusi pun menjadi perbincangan yang akrab menghiasi pemberitaan dan sosial media. Beberapa bahkan ada yang mengkutubkan kepada berbagai aliran keagamaan yang melatarbelakangi peristiwa kontroversial ini. 

Okay, rasanya aku tak perlu berbicara panjang lebar soal idealisme masing-masing pihak itu. Aku pun bahkan tak mengerti sama sekali hal itu. Bisa dibilang aku selama ini prek dengan segala perbedaan yang tumbuh di tubuh Islam sendiri. Aku bukan seseorang yang dibesarkan di lingkungan dengan basis keagamaan yang kuat. Pengetahuanku tentang agama hanya sebatas yang diajarkan di sekolah. Dan bukankah materi-materi pelajaran agama Islam di sekolah umum tidak pernah membahas segala macam perbedaan itu? Jadi sampai sekarang pun, jika aku ditanya aliran keagamaanku apa, aku menjawab Islam. Saja. Aku menjalankan ibadah sesuai dengan apa yang ada di dalam Al-Qur'an, bukan apa yang diajarkan pada masing-masing aliran itu. 

Lho, kok malah jadi nggak nyambung? Yaudah lah nggak pa-pa curcol dikit. haha. Yang jelas, sebelum aku melanjutkan pembicaraan ini, aku menegaskan kalau aku di sini berbicara atas nama diri pribadiku. Tanpa tendensi apapun. Tanpa memihak pada salah satu pihak atau aliran. Aku merasa perlu menjelaskan ini di awal mengingat permasalahan ini sangat-sangat kontroversial. Jadi, no offense lhoh yaa... :D


Banyak pihak yang menyesalkan sikap UGM yang seolah mengekang kebebasan berpendapat dan berdiskusi. "Padahal UGM sebagai institusi pendidikan seharusnya terbuka dengan adanya diskusi-diskusi semacam ini," kata mereka. "Katanya kita sudah hidup di zaman demokrasi. Mana nyatanya?" seru mereka lagi.  Maka muncullah anggapan bahwa UGM gagal menjadi contoh institusi pendidikan yang mampu mewadahi kekritisan mahasiswanya.

Menurutku, tolong digaris bawahi, MENURUTKU, kalau yang dipermasalahkan adalah kebebasan berpendapat, kebebasan untuk berdiskusi, sebenarnya bukan hanya sesederhana itu. Berbicara dan mengeluarkan pendapat tidaklah sama dengan mengeluarkan kentut yang hanya berefek sebentar kemudian hilang. Emang yo berbicara itu tidak menimbulkan dampak? Justru sangat besar. Orang akan menilai dirimu dari omonganmu. Dan orang awam juga akan menilai tamengmu seperti apa yang kamu omongkan. Misalnya yang ngomong itu seseorang yang ikut organisasi tertentu. Sebenarnya dia ngomong itu atas kepentingan dia sebagai dia pribadi, ngomong sesuai pikirannya bukan sesuai visi-misi organisasi. Tapi orang awam yang mendengar, most of them, cenderung mengkaitkan siapa yang berbicara dengan organisasi yang dibawa. 


MENURUTKU, bukan masalah kebebasan berpendapat atau keterkekangan berpendapat. Tapi lebih karena strategi pembicara untuk masuk ke audience. Nek di indonesia rusuh, menurutku wajar. Lha nilai-nilai yang dibawa jelas bertentangan dengan nilai masyarakat kebanyakan di indonesia. Analoginya itu sama dengan ulama yang mengajak berdiskusi tentang bid'ah pada masyarakat yang masih memegang kepercayaan animisme. Yo jelas masyarakat akan bertindak secara anarkis to? Jadi yang bikin anarkis bukan karena agama, bukan karena akademik. Tapi karena keyakinan yang dipegang selama ini seakan-akan dicela secara frontal. Memang bener kalau orang-orang yang bertindak anarkis itu belum tentu paham tentang apa sebenarnya yang ingin didiskusikan. Bisa jadi buku yang akan dibedah ini sama sekali tidak berkaitan dengan buku sebelumnya yang kontroversial, bisa jadi hanya membahas hal-hal universal yang semua orang cenderung menyepakatinya. Namun, bukankah sejarah itu mempengaruhi cara pandang seseorang? Irshad Manji, dalam riwayat hidupnya pernah menulis buku yang kontroversial, bukan tidak mungkin dalam buku-buku selanjutnya yang bertema hampir sama juga cenderung kontroversial. Karena seorang penulis pasti melibatkan pemikiran pribadinya, memasukkan karakter dirinya ke dalam tulisan yang ia buat meski tidak seluruhnya. Dan seorang penulis pasti memiliki kepentingan atas tulisannya. 

Aku pribadi justru setuju dengan pembatalan pelaksanaan diskusi di UGM. Menurut informasi yang kudapat, penyelenggara acara diskusi itu adalah UGM. Di saat-saat terakhir menjelang pelaksanaan diskusi, rektor mengambil sikap membolehkan diskusi itu tetap berjalan, hanya saja lokasi diskusi dipindah di LKiS. Ketika orang-orang mengecam kebijakan itu, aku mencoba mencermati lebih dalam alasan di balik pemindahan lokasi tersebut. Kemungkinan yang kudapatkan, para akademisi tidak membolehkan diskusi itu pada saat ini karena nyadar kalau bakal terjadi rusuh dan anarkis. Mereka nyadar kalau sasaran audience irshad manji kurang tepat untuk saat ini. Kecuali kalau Indonesia udah sebagian besar berpaham liberal, itu fine-fine aja. Diskusi irshad manji itu bagus banget sebenernya kalau utk orang-orang yang liberal. Aku sempat membaca beberapa bab buku Irshad Manji yang sangat kontroversial "Beriman Tanpa Rasa Takut", dan aku diam-diam memuji atas kekritisan beliau dan kecerdasan beliau. Jarang ada orang yang mempertanyakan apa yang sudah diyakininya sepenuh hati. Tapi sekali lagi, perbedaan budaya dan latar belakang kehidupan beliau berbeda dengan kita yang ada di Indonesia. Di Indonesia, masih banyak orang yang tidak setuju dengan liberalisme. Kalau untuk Indonesia, harusnya dilihat dulu rating/respon masyarakat pada buku itu, baru diadakan diskusi. Dan penting untuk melihat riwayat respon terhadap buku sebelumnya pada masyarakat sasaran diskusi.  Atau kalau memang dengan alasan kebebasan berdiskusi, toh diskusi itu tidak harus dengan bertatap muka, dan menyiapkan waktu khusus. Bisa lewat sosial media, kan, kalau tema yang diusung memungkinkan banyak tindakan anarkis. Jangan langsung dibuka untuk masyarakat umum untuk diskusi kali pertamanya. 



Kadang-kadang orang tu berlindung dibalik kebebasan berpendapat, padahal sebenarnya dia mungkin mendukung prinsip yang diusung si pembicara. Nggak dilihat dulu kalau kebebasan berpendapat itu bukan cuma sampai pada mengemukakan pendapat tapi juga pendapat itu menuai dampak di belakangnya. Banyak orang gembar-gembor kebebasan berpendapat, tapi lupa sesuatu yang lebih penting dari itu: esensi dari pendapat yang akan disampaikan.  Ini menyangkut masalah keyakinan, man! Nggak bisa disamakan dengan diskusi ilmiah. Dalam diskusi ilmiah, semuanya memang harus didasarkan pada bukti empiris yang rasional. Masalah keyakinan nggak bisa dibahas secara ilmiah. Gunakan pisau keyakinan untuk bicara masalah keyakinan dan gunakan pisau teori untuk bicara masalah ilmiah. 


Aku bukannya mendukung tindakan anarkis itu. Aku cuma mencoba melihat dan meraba sudut pandang mereka. Karena yang ada selama ini masing-masing pihak masih memakai sepatunya sendiri kan? Para pendukung diskusi mengutuk tindakan para anarkis karena tindakan para anarkis itu tidak bisa dibenarkan menurut mereka. Sebaliknya para anarkis mengutuk tindakan para pendukung diskusi karena tindakan para pendukung diskusi itu tidak bisa dibenarkan menurut mereka. Belum ada yang mencoba menyelami dari sudut pandang pihak lawan. Selalu ada alasan dibalik tindakan seseorang, bukan?

Once again, semua yang tertulis di sini adalah MENURUTKU. No tendency. No offense at all. 

Senin, 28 Mei '12

Tidak ada komentar:

Posting Komentar