Rabu, 02 Mei 2012

Jejak Langkah Saung Kecil: Kidung Damai Lembar Pertama

Selasa 1 Mei 2012

"This is may day," desis saung kecil. Ditatapnya lekat-lekat cahaya lilin yang ada di depannya. Ruangan di sekeliling saung kecil gelap, pun di luar hanya pekat malam yang didapat.

Bias cahaya lilin itu memproyeksikan slide reminisense dalam benak saung kecil. Belasan tahun lalu kala ia mulai bisa mengingat samar-samar. Berlarian ke sana-kemari dalam balutan baju yang warna-warni. Sebentar-sebentar melendot di pangkuan ibunya. Lantas ketika ingatannya mulai jelas, saung kecil bisa mengingat hampir semua kejadian yang ia lalui bersama teman-teman sebayanya. Dengan balutan seragam yang beberapa tahun kemudian berganti warna. Saung kecil ingat betapa ia merasa bangga tiap kali warna seragam yang ia kenakan sudah berganti dari yang sebelumnya. Itu berarti pengalaman baru dan teman-teman baru baginya.

Saung kecil mengalihkan pandangannya ke cahaya orange yang dipancarkan oleh sang lilin. "...hingga sekarang saat kau tak pernah lagi memakai seragam, tak pernah lagi berdiri tangan hormat kepada bendera dengan sangat bangga...", batin saung kecil. Slide berhenti memutar. Sekarang saung kecil menatap lekat-lekat pada nyala lilin yang meliuk elegan. Di situlah pikiran saung kecil terangkum.

"Waktu..selama ini, kugunakan untuk apa waktuku? Sudahkah aku menjadi manusia yang sebenar-benarnya manusia seperti apa yang dititahkan Tuhan kepadaku?" "Belum," sahut diri saung kecil menjawab sendiri pertanyaan itu.
"Kalau begitu, mulai sekarang jadilah seperti layaknya manusia. Lekas! waktu terus beputar!"
Saung kecil terkedip kala api lilin itu meliuk resah. Saung kecil mengedarkan pandangnya pada sekitar. Masih gelap. Angin di luar pelan-pelan bertiup menggila. Saung kecil menutup jendela kamarnya, membiarkan sisa angin menabrakkan tubuhnya pada kusen kayu itu dan memantul. Saung kecil kembali dalam lingkaran perenungannya. Di depannya, cahaya itu kembali meliuk elegan.

Saung kecil membiarkan tatapnya terus jatuh pada cahaya itu. Pelan-pelan hangatnya merayapi tubuh saung kecil. Saung kecil tahu, kehangatan itu bukan dari nyala sepotong lilin yang ada di hadapannya. Hangat itu adalah pelukan Tuhan. Bulir bening menghinggapi pipinya. Saung kecil merasa sangat damai, hingga ia tak tahu lagi bagaimana caranya untuk mengungkapkan rasa syukur itu. Syukur atas nafas yang masih mengada, syukur atas limpahan berkah yang selalu mengikutinya, syukur atas pelukan hangat dari Sang Pencipta yang selalu ada untuknya.

Saung kecil masih menggayutkan dirinya dengan manja kepada Tuhannya. Malam itu, saung kecil hanya ingin berdua saja dengan Tuhan.


PS. Ada harga yang tak pernah bisa terbayarkan, harga ketika kamu merasakan kehangatan dan kasih sayang Allah saat Dia merengkuhmu dalam dekap-Nya. Subhanallah..Alhamdulillah..Allahu Akbar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar