Sabtu, 05 Mei 2012

Dimensi, Siluet, Tabir (Masih saja Merapal)

"Aku tak mengerti"
"Kau tak mengerti?"
"Karena aku bukan seperti itu!"
"Sedikit pun??"
"Ya. sedikit pun."
Kau terpana. Ada sayat yang sedikit saja menguakkan tabir itu. Selintas kita saling melihat. Hanya siluet. Kau makin garang menyayatnya agar koyak siluet itu, dan nyata yang ada di hadapanmu. Harapmu. Tapi tabir itu mengeras. Baginya, satu sayat itu cukup untukmu.

"Tidak!"
"Kenapa? Toh, kau masih bisa melihatnya"
"Melihatnya katamu? Bagaimana aku bisa melihatnya sementara kau masih tegak di sini?"
"Kau belum seutuhnya melihat"
Kau makin garang. Aku mengamatimu dari celah sayatan. Sangat cukup bagiku. Tanpa sayat itu pun aku bisa melihatmu.

"Berhentilah menyayat!"
Kau menghentikan parangmu di udara. Rahangmu mengeras dan aku bisa melihatnya hanya dari siluetmu.
"Rupanya kau sudah melupakannya!"
"Aku bahkan selalu mengingatnya, selalu merapalnya"
"Lantas?!"
"Bagaimana mungkin rapalan dengan segala reminisense itu nyata jika berjalan dalam dimensi yang berbeda? Mungkin kita punya rapalan yang sama, mungkin kita punya jalan setapak dengan motif yang sama. Tapi warna tak pernah sama."
"Ya. Dan aku benci warna siluet. Salah?"
"Tidak. Kau tetap bisa melihatku, bukan?"
Kau terdiam, tertunduk, masih memegang parang. Aku melangkah. Kutinggalkan kau dalam dimensiku. Atau sebenarnya kautinggalkan aku dalam dimensimu? Kita berjalan. Jalan yang sama, tapi warna tak pernah sama. Sedang dimensi selalu penuh warna.  



6/5/12
Merapal racau
3.30 am

Tidak ada komentar:

Posting Komentar