Selasa, 04 Maret 2014

Film Addict

Selasa, 4 Mar '14
10.17pm

Malam ini saya bingung menonton film apa. Film yang tersisa di folder saya yang belum ditonton tinggal yang thriller. Dan malam ini saya sedang ingin menonton yang ringan-ringan saja, dalam rangka berusaha memijak pada tanah, if you know what i mean.  Sebelum saya sempat menemukan film menarik apa yang bisa saya tonton (lagi), justru saya tiba-tiba tersadar betapa saya sangat keranjingan nonton film sampai-sampai hampir semua film dalam folder saya tidak hanya sekali tonton, bahkan ada yang sampai lebih dari 5 kali tonton tetap menarik bagi saya.

Saya memang sudah dikenalkan untuk menonton film sejak sekitar kelas 2 atau kelas 3 SD. Saya ingat waktu itu, hampir setiap malam minggu, bapak dan ibu mengajak saya dan kakak saya jalan-jalan ke kota (kabupaten) kemudian menyewa VCD. Sebelum itu pernah 2 kali saya diajak menonton Pinocchio dan Jurrasic Park di bioskop di kota. Setelah terjadi kebakaran (atau dibakar?) bioskop, barulah bapak dan ibu saya beralih mengajak saya menyewa VCD yang kemudian ditonton di rumah. Pada tahun-tahun itu persewaan film baru ada di purworejo, belum merambah ke kutoarjo jadi hanya bisa menyewa film pada saat weekend sambil jalan-jalan. Enggak sih, naik angkot jalur A, bukan jalan, haha.

Film yang dipinjem jelas film anak-anak macam "Cat and Dog", "Airbud", "Freewilly", dan film-film yang tokohnya hewan macam itu, atau yang tokohnya anak-anak kayak "Alice in Wonderland", "Marry Poppins", "Secret Garden" dan sebangsa itu aku tidak bisa mengingat semuanya. Mungkin itulah sebabnya saya jarang tahu film-film kartun yang diputer di televisi. Bapak saya memang tidak mengizinkan saya terlalu banyak menonton kartun karena suara dubbingnya tidak enak didengar. Kartun yang lumayan kadang-kadang saya tonton hanyalah sailormoon, doraemon, dan dragonball. Sudah itu saja. Itu pun hanya kadang-kadang dan makin jarang sejak saya lebih menyukai film-film sewaan itu yang tidak di dubbing.

Saat SMP, di saat sudah mulai jarang meminjam kaset VCD, saya menemukan tempat untuk tetap bisa menonton film. Televisi. Setiap hari senin malam selasa jam 21.00 di RCTI dan setiap hari kamis malam jumat jam 22.00 di SCTV. Film-film box office. Jadilah saya punya kebiasaan baru dua kali dalam seminggu saya menonton film di televisi dan kebiasaan saya tidur tengah malam dimulai saat itu, kelas 1 SMP. Film yang diputar pada hari itu bergenre horror atau thriller, dan saya ketika menonton selalu mengajak ibu saya meskipun ibu juga menemani sambil tidur. Seingat saya film box office itu hadir setiap hari di jam itu tetapi dengan genre yang berbeda-beda. Dan saat itu saya menyukai film-film horror dan thriller. Jangan-jangan diam-diam saya punya bakat psikopat yang terpendam sejak SMP nih. haha :p

Kebiasaan itu terus berlanjut, meski pada saat SMA kebiasaan tidur tengah malam saya hampir terjadi setiap hari karena jika tidak dihabiskan dengan menonton film box office itu, larut malam saya gunakan untuk mendengarkan radio. Masa SMA ini saya merasakan fungsi televisi hanyalah untuk menonton film box office, menonton berita, dan sebagai figuran teman makan malam bersama keluarga. Sudah, selebihnya itu televisi mati. Orang tua saya memang tidak membiasakan anak-anaknya menonton televisi terlalu lama pun juga selektif terhadap acara yang ditonton. Saya pikir alasannya benar juga mengingat acara televisi juga banyak yang tidak mendidik. Toh akhirnya saya lebih kepincut pada radio ketimbang televisi. Saya lebih kepincut pada musik ketimbang sinetron, kartun, gosip artis, ataupun F1 (jaman SMA moncer banget tuh F1). Makanya jika teman-teman saya suka membahas sebuah sinetron atau kartun atau apapun itu acara televisi yang lagi hot, saya sering nggak ngerti. Sedih sih sebenernya tapi lha wong memang nggak menarik e..

Masuk kuliah, punya laptop, makin gencar lah aktivitas menonton film. Hampir setiap weekend atau pas selo nggak ada tugas, saya dan temen-temen kos patungan buat menyewa film. Kebetulan deket kos ada persewaan film. Ha lha yo wis, memang jodoh. Kebetulannya lagi, kuliah saya sering analisis kasus dari film sehingga referensi saya tentang film makin bertambah, terutama film thriller. Saking seringnya saya menyewa film, berakibat rusaknya CD Room laptop saya. Kata mas-mas waktu servis, optik atau semacam magnet yang buat ngebaca kepingan CD udah ilang karena terlalu sering digunakan sehingga nggak detect lagi. Analoginya kayak magnet di simcard, kalau kita sering buka-pasang simcard lama-lama magnetnya ilang dan nggak kebaca di handphone kan? Nah seperti itulah kira-kira.

Saya sempat desperate dan beranggapan bahwa ini tanda dari Tuhan biar aku nggak terlalu sering nonton film. Selama beberapa waktu saya menghentikan kebiasaan menonton film. Tapi ternyata nggak berlangsung lama, karena kemudian kami berpindah menyetel filmnya di laptop teman saya, dan saya juga mengopy-nya lewat flashdisk biar bisa saya tonton ulang di laptop saya sendiri sewaktu-waktu. Sebelum-sebelumnya sih memang kalau filmnya bagus selalu saya copy ke laptop, tetapi untuk urusan mengeplay keping CD film sebelum-sebelumnya sering menggunakan laptop saya karena hanya punya sayalah yang 14 inch, yang lainnya netbook yang tidak ada CDroom'nya dan punya teman saya yang menjadi sasaran nonton film selanjutnya itu laptop 13 inch.

Makin lama di Jogja, makin paham di warnet-warnet mana yang punya persediaan film cukup lengkap dan update. Nah mulai saat-saat menjadi mahasiswa akhir yang selo banget, di situlah kemudian saya dan teman-teman kos mengoleksi film untuk ditonton diwaktu-waktu senggang ataupun pas stress banyak tugas macem sekarang ini. Tidak pernah lagi menyewa keping CD film karena selain harga sewanya lebih mahal dibandingkan ketika pergi ke warnet selama sejam untuk mengopy film, juga karena kapasitas file dari VCD/DVD lebih banyak dibandingkan file film-film download'an yang ada di warnet sehingga bisa lebih hemat secara kapasitas juga. Dan itu berlanjut hingga sekarang.

Kadang-kadang sih, saya jadi kasihan sama televisi di rumah. Rusak sejak saya masih masa-masa galau skripsi dan dibiarkan saja teronggok di atas meja. Memang sih, seperti yang saya bilang tadi, televisi tidak mendapatkan animo di mata anggota keluarga saya. Praktis semenjak saya di jogja, di mana berarti hanya ada bapak dan ibu berdua saja di rumah, televisi tidak pernah menyala. Bapak lebih suka menggunakan internet (streaming atau youtube) dan ibu saya menimbrung saja apa yang ditonton oleh bapak. Televisi baru akan menyala ketika saya dan kakak saya pulang ke rumah dan di waktu-waktu makan bersama. Selesai makan, televisi langsung dimatikan. Makanya, nggak heran kalau ketika televisi di rumah rusak, tidak ada yang berinisiatif memperbaiki atau membeli yang baru. Kasihan si televisi *pukpuk*. Tapi lebih kasihan lagi kalau beli lagi yang baru tetapi tidak pernah digunakan sama sekali, itu akan lebih merendahkan harga diri si televisi kan yah? Jadi yasudahlah, toh tayangan televisi sekarang makin kacau. Toh kalau mau update berita atau pengetahuan bisa juga via internet :)

Jadi, gimana? Ayo katanya mau nonton film malam ini, jadi nggak? Yuk, nonton yang ringan-ringan saja lah sebagai penghantar tidur..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar