Sabtu, 07 Juli 2012

Kau Telah Siap Berlabuh, Kawan

Sabtu, 7 Jul 12
10.53pm

Pagi tadi, satu lagi anak manusia yang melalui fase kehidupan barunya. Menikah. Seorang sahabat dekat. Dalam balutan kebaya merah, ia terlihat bagai bunga yang tengah mekar. Ranum.

Ya. Bunga itu ada di sana. Bersanding dengan lelaki pilihan. Senyum yang senantiasa merekah tak mampu menyembunyikan rasa yang membuncah di dada. Tangan mereka menyatu. Menggenggam harap untuk selalu seiya sekata dalam melabuhkan bahtera kasih sayang. 

Ya. Sahabat kita di sana. Janji suci telah terucap. Kini ia telah menjadi wanita pilihan. Bahagia rasanya menyaksikan sahabat kita bertumbuh dan akhirnya melalui fase baru dalam hidupnya. Satu langkah lagi mendekat menyempurna. Cinta mereka kini selalu disaksikan oleh Tuhan. Pengungkapan cinta yang paling romantis. Tatapan mata yang paling meneduhkan. Pelukan yang paling hangat. Senyum yang paling mendamaikan. Ciuman yang paling lembut. Tak ada yang menyaingi dahsyatnya rasa itu di dunia ini. Karena bahkan, Tuhan pun tak segan turut menyatukan cintaNYA pada dua insan manusia yang berikrar dalam suatu pernikahan suci atas namaNYA. Hingga tak lama lagi sahabat kita menjadi wanita seutuhnya. Ibu. Ah, betapa fase itu menjelma menjadi hal yang paling berharga. Bukankah wanita itu mulia? Bukankah surga itu di bawah telapak kaki Ibu?

Ya. Sahabat kita di sana. Ada setangkup sedih yang menghinggap di dada ini. Bukan, bukan sedih dalam artian tunggal. Bercampur. Entah apa nama rasa itu. Mungkinkah rasa kehilangan? Mungkinkah rasa cemburu? Mungkinkah terlalu jahat jikalau rasa itu hadir? Entah. Terkadang masih melihatnya sama seperti setahun lalu, dua tahun lalu, beberapa tahun lalu. Perkenalan singkat. Bahkan mungkin kenal begitu saja dari teman-teman lain yang saling menyebut nama kita, bukan berhadapan dan mengulurkan tangan. Lantas, waktu membawa kita bergulir melalui putarannya. Kita larut dalam permainan labirin atasnya. Suatu saat, kita bertemu pada titik tawa, canda, dan senyum. Suatu saat lain, kita bertemu pada titik tangis, kecewa, marah. Suatu saat lain lagi, kita memilih untuk menyusuri labirin itu sendiri. Tapi kita juga akan selalu merindukan titik di mana kita saling menyatu. Dan di kala ada yang mulai tersesat, kita membantunya menemukan jalan pulang. Pertemuan. Kita hanyalah anak manusia yang belajar bersama-sama menyusuri labirin itu.

Dan kini, sahabat kita itu telah memiliki labirin baru. Ia menyusurinya bersama lelaki pilihan. Mungkin dengan dua orang anaknya, atau lebih, kelak tak lama lagi. Labirin mereka terbangun jauh lebih indah. Jauh lebih berwarna. Labirin milik kita terlalu kanak-kanak. Penghuninya berkurang satu. Pindah. Labirin itu kini tak akan sama seperti dulu. Ada satu ruang kosong di dalamnya. Apakah ini yang namanya kehilangan? Terkadang melongok pada labirin baru milik sahabat kita. Begitu bercahaya. Apakah ini yang namanya cemburu? Apapun itu nama rasa yang mungkin hadir terasai, pintu labirin kanak-kanak ini akan selalu terbuka untuk sahabat kita itu. Barangkali untuk sesekali menyusurinya kembali bersama-sama. Atau memberi kabar bahagia. Atau bahkan untuk sekedar menyapa.

Untukmu, sahabat, selamat merasai fase kehidupan baru. Semoga menjadi keluarga sakinah, mawadah, warohmah. Amin.
Bertukar kabarlah pada kami. Kami masih akan bertukar tawa, canda, senyum, air mata. Kami masih akan berputar dalam labirin waktu. Berikanlah senyum terindahmu pada kami. Selalu. Terima kasih atas warna yang kau sapukan pada labirin kanak-kanak ini. You have to remember this: We love you, Annisa Luhabsari :*


Luhab-Eko's Wedding

Tidak ada komentar:

Posting Komentar