Tampilkan postingan dengan label My Mind. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Mind. Tampilkan semua postingan

Jumat, 21 Maret 2014

Pahlawan Kecil F18/c

Sabtu, 22 Maret 2014

Di zaman yang kelihatannya jarak sosial semakin dekat, bahkan hampir tak berjarak dengan adanya teknologi, masih tersisa gelintir orang yang menciptakan jarak nyata dengan orang yang dianggap lebih rendah secara sosial.

Salah satunya seperti yang terjadi antara pemilik kos saya dengan mbak Yah. Mbak Yah adalah seorang mbak-mbak yang bertugas membersihkan kos setiap dua hari sekali. Mbak Yah ini adalah pembantu yang paling lama bekerja di kos saya dibandingkan dengan mbak-mbak yang terdahulu. Sepanjang hampir 6 tahun saya tinggal di kos F18/c, pembantu kos sudah beberapa kali ganti. Pertama kali masuk kos adalah seorang ibu-ibu (maaf, saya tidak tahu namanya) yang masih tergolong tetangga kos. Rumahnya hanya berbeda blok dengan kos saya. Ibu itu datang untuk membersihkan kos setiap pagi. Hanya sekitar dua tahun masa kepemimpinan ibu itu, kemudian beliau mengundurkan dirinya. Kemudian, diganti dengan mbak-mbak (ini beneran mbak-mbak atau malah saya curiga dia seumuran dengan saya). Dengan mbak-mbak muda ini, saya jarang bertegur sapa karena mbak ini datangnya siang di jam-jam saya kuliah. Hanya sesekali kalau pas kebetulan ketemu, saya melempar senyum padanya. Hanya sebatas itu. Mbak ini tidak terlalu bersih kerjaannya jika dibandingkan dengan ibu-ibu sebelumnya. Oh ya, sejak ibu itu mengundurkan diri dari jabatannya sebagai pembantu kos, sampai sekarang saya masih suka bertegur sapa dengan beliau jika kebetulan papasan di jalan.

Mbak-mbak muda ini tidak bertahan lama, hanya dalam hitungan bulan yang tak sampai habis hitungan satu tangan, mbak ini tidak lagi pernah datang. Untuk urusan sampah, sesekali Mas Repsol (anak pemilik kos yang dipasrahi penuh terhadap urusan kos, nama disamarkan) yang ngambilin. Kami para anak kos sering nyinyir jika itu terjadi. Yah, bagi yang pernah kos, setidaknya tahulah apa lagu paling klise untuk konflik hubungan anak kos dan pemilik kos.

Setelah itu, datang mbak-mbak baru. Ibu-ibu sebenarnya, tapi kami memanggilnya Mbak. Mbak Yah. Mbak Yah bekerja untuk Pak Sandal (pemilik kos, nama disamarkan, ayah dari Mas Repsol) sejak Pak Sandal memiliki dua rumah kos di Jogja ini. Pak Sandal sendiri tidak bertempat tinggal di Jogja, beliau berada di Temanggung sehingga untuk masalah kos diserahkan kepada Mas Repsol. Mbak Yah seorang pembantu yang mengurusi dua rumah gedhe-gedhe. Mbak Yah disediakan kamar tempat tinggal di kos yang baru (daerah Pogung). Mekanisme kerja Mbak Yah tetap harian. Pagi-pagi Mbak Yah diantar Mas Repsol ke kos saya, kemudian siangnya setelah selesai, mbak Yah kembali ke Pogung dengan naik angkot. Siang hingga malam beliau mengurusi kos Pogung.

Tapi kegiatan antar-mengantar itu tidak bertahan lama. Lama-kelamaan, Mbak Yah disuruh untuk berangkat dan pulang sendiri. Pemberian uang untuk mengangkot juga hanya terjadi di awal-awal bekerja saja. Gaji Mbak Yah sangat kecil, 250ribu/bulan untuk dua rumah. Mbak Yah kemudian memutuskan untuk berangkat dan pulang dengan berjalan kaki demi menghemat uang gajinya. Padahal jarak antara kos saya dan kos Pogung jauh, sekitar 30-45 menit jika ditempuh dengan jalan kaki. Dan itu harus dilakukannya setiap hari.

Pada bulan Ramadhan yang saya lupa tahun kapan itu, Mbak Yah sempat bercerita dia akan mengundurkan diri dari kos F18/c. Beliau merasa terlalu capek jika harus bolak-balik kuningan-pogung dengan berjalan kaki setiap harinya. Beliau mau mengurus satu rumah saja yaitu pogung. Kami mendukung penuh rencana Mbak Yah. Bukan kami jahat tidak mau lagi melihat Mbak Yah menginjakkan kaki di kos kami. Bukan, sama sekali bukan. Kami merasa kasihan kepada Mbak Yah yang kecapekan dan bergaji kecil sehingga kami pikir sudahlah kos F18c biar kami saja yang gantian piket membersihkannya.

Libur lebaran semua pulang kampung. Begitu saya balik kos, saya kaget karena ada Mbak Yah. Ngobrollah saya dengan beliau. Ternyata ketika Mbak Yah mengemukakan keinginannya untuk mengurus satu rumah saja, Pak Sandal dan keluarga mendatangi rumah Mbak Yah di Klaten untuk menjemput Mbak Yah agar mau bekerja lagi di dua kos itu. Akhirnya Mbak Yah bersedia dengan syarat datang ke kos F18c setiap dua hari sekali saja agar tidak kecapekan bolak-baliknya. Dan seperti itulah keputusan akhirnya.

Kami anak kos dekat dengan Mbak Yah, sering mengobrol. Saya sendiri (terutama saat-saat saya menjadi mahasiswa akhir yang cenderung selo, apalagi saat sudah lulus, atau jika sekarang weekend saya berada di kos) sering cerita-cerita dengan Mbak Yah. Yaa meskipun saya sambil sesekali ngutik-ngutik laptop dan Mbak Yah dengan sapunya duduk di depan pintu kamar saya. Sudah, mengobrol di situ, curhat, becandaan, kadang sampai lama. Kadang jika saya punya makanan kecil, saya angsurkan ke Mbak Yah supaya ikut ngemil bersama saya.

Pertengahan tahun lalu, Pak Sandal resmi membuka satu rumah kos lagi di Jogja. Kabarnya, itu dulunya bekas gereja yang entah tidak lagi dipakai entah dibeli oleh Pak Sandal. Mbak Yah hingga saat ini mengurusi tiga rumah dengan gaji 500ribu. Kami tahu semua itu dari cerita-cerita yang dituturkan Mbak Yah.

Miris mendengar curhatan Mbak Yah tentang kehidupannya. Perjuangan kaum bawah yang susah payah mengais repih-repih kehidupan yang sebisa mungkin didapatkannya. Kekontrasan yang nyata antara apa yang terjadi pada Pak Sandal dan Mbak Yah. Ada jarak begitu jauh yang sengaja diciptakan oleh Pak Sandal, termasuk jarak sosial dan moral sebagai manusia.

Mbak Yah memang bukan siapa-siapa. Beliau hanyalah pembantu yang bekerja di kos saya. Tugasnya memang hanya menyapu,mengepel, mengambil sampah dari bak sampah masing-masing anak kos, dan membersihkan kamar mandi. Tapi Mbak Yah bagai hadir dari sisi lain bentuk kehidupan. Layaknya dewi penolong yang diutus Tuhan untuk mengajarkan kepada kami banyak hal dari hal yang kecil di sekitar kita. Tentang moral, tentang manusia, dan tentang kerasnya hidup. Mungkin kami anak kos tidak pernah bisa membantu Mbak Yah secara finansial ataupun mengadukan keluhan-keluhan beliau kepada Pak Sandal, tapi biarlah kami menjadi tempat sampah Mbak Yah agar pikiran Mbak Yah tidak kepenuhan atau meledak saking banyaknya hal yang harus dipikirkannya.


PS. Tulisan ini ditulis ketika melihat Mbak Yah datang ke F18/c.

Selasa, 28 Mei 2013

SD Negeri Kutoarjo 1, Riwayatmu Kini


Rabu, 29 Mei 2013


Beberapa hari lalu saya diajak bapak berkunjung ke SD saya dulu, SD Negeri Kutoarjo 1. Bapak memang sedang menerima proyek nglatih drama untuk perpisahan SD beberapa minggu lagi. Nah, berhubung saya dan kakak saya sedang pulang kampung, kami sekeluarga "ikut" latihan, sekaligus napak tilas kalau bagi saya dan kakak saya. Komentar saya ketika memasuki kembali gedung sekolah itu: "Wow, beda banget ya sekarang?". Jelas lah banyak terjadi perubahan dalam kurun waktu 11 tahun sejak saya lulus dari sana. Dari yang terlihat secara fisik bangunannya, hingga karakter anak-anaknya (dari hasil observasi saya) pun berbeda jauh.

Dari jaman saya sekolah dulu, secara gampang gedung dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama (depan) berisi deretan ruang kelas dengan ruang guru terletak di tengah-tengah barisan. Bagian kedua (di belakang kelas dibatasi oleh taman) adalah deretan aula, kamar mandi, perpustakaan, dan UKS. Saya menyusuri deretan ruang kelas, mengintip dari balik kaca jendelanya. Perbedaan yang paling mencolok adalah sekarang semuanya sudah berkeramik. Semasa saya sekolah, satu-satunya ruangan yang berkeramik adalah ruang guru. Melongok ke dalam kelas, tidak banyak yang berubah, tempat duduknya masih sama, bangku jaman dulu yang di bagian ujung tengah meja terdapat lubang bulat. SD saya sudah ada sejak jaman penjajahan belanda. Pada jaman dahulu, siswa-siswanya menulis dengan bulu yang ujungnya dicelupkan pada tinta. Nah, lubang di meja itu dimaksudkan untuk tempat menaruh botol tinta.

Bentuk bangku yang seperti itu menampung cukup banyak siswa. Saya ingat dulu di kelas-kelas awal (kelas 1-3) teman sekelas saya cukup banyak, sekitar 50an anak. Sehingga banyak bangku yang diisi oleh 3 anak, padahal idealnya satu bangku kapasitas 2 anak. Di sebelah kiri gedung kelas dulunya adalah rumah milik Bu Lis, guru bahasa jawa. Dulu kami sering bermain-main di halaman rumah Bu Lis ini. Tapi sekarang sudah dibangun mushalla, sudah sejak beberapa tahun yang lalu sih.

Beralih ke bagian belakang deretan kelas. Formasi semasa saya sekolah, di paling kiri (belakang rumah Bu Lis) ada UKS. Jarang ada yang mau ke UKS, suasananya surem di sini. Di sebelahnya ada perpustakaan dan ruang baca. Perpustakaan ini entah kenapa suasananya juga surem, gelap, jadi jarang yang berkunjung ke perpustakaan. Ngomong masalah perpustakaan, saya jadi ingat dulu pas awal-awal kelas 4 saya pernah main kejar-kejaran sama seorang teman. Pas kejar-kejaran itu kepergok sama guru agama, beliau bilang "Daripada oyak-oyak'an (kejar-kejaran) mending nyapu perpus" sambil mengangsurkan dua buah sapu pada kami. Haha, unforgetable. Di sebelah perpustakaan ada aula. Aula ini disebut-sebut sebagai pusat keangkeran sekolah. Macam-macam saja cerita yang beredar. Kami tidak ada yang berani masuk ruang aula sendirian. Harus bersama-sama, atau minimal berdua. Saya inget pada satu hari Jum'at, anak laki-laki melaksanakan sholat jum'at di masjid agung seberang alun-alun sedangkan anak perempuan sholat dzuhur di aula. Sembari menunggu waktu jum'atan selesai, kami sok-sokan mengungkap misteri aula. Jadi menurut mitos, makhluk halus bakal menampakkan diri apabila ada cermin. Lalu kami pun mempraktekkan hal tersebut. Kami mengarahkan cermin ke satu sudut di aula. Setelah beberapa saat, tiba-tiba saja salah satu temen saya menjerit. Kami pun lari tunggang-langgang. Setelah agak tenang, teman saya tersebut bercerita kalau dia melihat ada sesosok anak laki-laki duduk menghadap ke barat, matanya melotot merah. Hanya dia yang melihat "penampakan" itu. Tentang keakuratannya, entahlah, saya pun juga tidak melihat apa-apa saat kejadian.

Di sebelah aula ada jalan pintas menuju SD belakang, SD Prajuritan. Dulu pintu ini jadi pintu favorit kalau telat upacara pas hari senin. Kenapa? Karena siswa yang telat tetap bisa masuk ke area sekolah tanpa harus menunggu upacara selesai, termasuk saya yang sering telat. Saya suka masuk lewat samping SD Prajuritan, terus masuk lewat pintu kecil itu. Beres. Tau-tau pas selesai upacara saya udah ada di kelas aja. haha. Di sebelah pintu masuk rahasia itu adalah deretan koperasi (menjual alat-alat tulis), gudang (tempat penyimpanan alat drumband), dan satu ruang lagi terletak di antaranya, kalau tidak salah sih digunakan sebagai ruang guru juga karena yang di gedung depan tidak cukup, saya agak2 lupa. Haha. Di depan deretan ruang ini ada taman kecil. Di sebelah kanan deretan ruang-ruang itu di pisahkan jalan kecil, ada deretan kamar mandi. Ada tiga kamar mandi dan kesemuanya gedhe-gedhe (bisa dibayangkanlah perbandingan antara kamar mandi jaman belanda dengan jaman sekarang). Dulu juga nggak ada yang berani ke kamar mandi sendirian, pasti bawa temen. Di sebelah deretan kamar mandi ada tempat parkir. Banyak siswa yang pergi ke sekolah dengan naik sepeda. Tempat parkir ini tempat yang paling jarang saya kunjungi. Tentu saja, jarak sekolah dengan rumah saya cukup ditempuh dengan jalan kaki. Di depan tempat parkir ada lapangan basket, kadang-kadang kami menggunakan lapangan itu pada saat jam olah raga. Tapi masih lebih sering olahraga di alun-alun kutoarjo sih, depan sekolah ini.hehe.

Di sebelah tempat parkir ada kantin Pak Slamet. Kantin Pak Slamet ini cukup populer di kalangan kami, bahkan anak-anak SMP 16 (dulu letaknya di sebelah SD) sering njajan di situ. Sekalian mbathi liat anak-anak SD yang imut kali ya motivasinya. Haha.

Nah, gedung belakang inilah yang formasinya sudah banyak berubah. UKS jelas sudah tidak di tempatnya dulu. Bangunan mushalla memanjang dari depan sampai belakang, entah sekarang UKS pindah ke mana. Perpustakaan sekarang sekaligus gudang. Aula kini sudah dipugar, temboknya diruntuhkan sehingga tampak seperti pendhapa. Aura surem sudah lenyap. Ruang-ruang setelahnya hingga tempat parkir tidak ada perubahan kecuali perubahan jadi keramik. Kantin Pak Slamet sudah diperluas, ditambah meja dan kursi untuk makan, juga dikeramik. Overall, secara fisik, nuansa klasik dan ornamen kekunoan belanda'nya sudah tersamarkan. Meski masih ada beberapa properti "kuno" yang dipertahankan, tapi kalah dengan renovasi-renovasi modern itu.

Beralih pada proses latihan, seperti kebiasaan bapak, menggabungkan konsep drama dan musik live yaitu menggunakan gamelan. Gamelan yang pokok saja seperti bonang, saron, dan gong. Gamelan yang sama yang pernah saya dan beberapa teman mainkan pada masa kelas 6. Saat itu acara perkemahan sekolah (persami), saya dan beberapa teman diberi tugas untuk mempertunjukkan pertunjukan musik gamelan. Yeah, well, saya kebagian memegang peking, semacam saron tapi dia konsepnya dua kali ketukan dari saron, jadi untuk memainkannya dituntut kecepatan tangan. Rada susah memang ketika harus memainkan gendhing yang bertempo cepat. Dulu bonang dipegang sama Dani, saron dipegang sama Sekar. Dan gegara nggak ada yang bisa mainin peking selain saya, maka saya disuruh ikut pesta siaga sekecamatan. Padahal sebenernya saya tidak masuk dalam tim perwakilan sekolah. Entahlah saya harus bangga atau sedih. haha. Selama latihan, rekaman-rekaman ingatan itu bermunculan.

Saya juga sedikit berbincang dengan guru olahraga dan seni, masih sama dari semenjak saya SD dulu, Pak Ali. Anak-anak SD sekarang besar-besar (secara fisik) dan kata beliau banyak slentingan dari rekan-rekannya "Pantesan betah jadi guru olahraga, lha wong bocahe wis gedhe-gedhe ngono". Haha, yah, sekedar selentingan nakal saja. Memang, harus saya akui, sekarang saya kalah besar dengan anak-anak SD. Bahkan jika saya bergabung bersama mereka, orang nggak akan tahu kalau saya hampir 10tahun lebih tua dari mereka. Itu poin pertama yang sangat terlihat mencolok. Hal lain, saya sedikit kaget ketika mencuri dengar percakapan mereka. Mereka sekarang lebih banyak berkomunikasi dengan bahasa Indonesia. Well, ke mana bahasa Jawa? Kutoarjo bisa dibilang ndeso, dulu saya dan teman-teman saya tidak ada yang berkomunikasi (informal) dengan bahasa Indonesia, semua dikemas dengan bahasa jawa sehari-hari. Tapi sekarang kok menghilang ya? Mereka masih orang Jawa, tetapi komunikasi sehari-hari mereka tidak menggunakan bahasa Jawa. Gejala apa ini? Jujur saya prihatin. Orang tua jaman sekarang nyatanya lebih suka mengajarkan anak berbicara keseharian dalam bahasa Indonesia, anak tidak dikenalkan interaksi dengan bahasa daerahnya sendiri. Mungkin ungkapan "wong jawa ilang jawane" sudah mulai tampak menggejala di masyarakat Jawa dalam beberapa dekade ini.

Yea, mungkin perubahan yang saya temui itu hanya sekelumit dari perubahan-perubahan yang terjadi. Everybody's changing, kalau kata lagu. Tapi at least pasca saya napak tilas kemarin, banyak perenungan-perenungan yang terjadi dalam diri saya.        

Minggu, 19 Mei 2013

Cinta Beda Agama: Candu yang Mematikan

Senin, 20 Mei 2013

Selamat hari kebangkitan nasional! Semoga semangat untuk bangkit dari segala macam bentuk keterpurukan selalu menjiwa dalam diri kita :D

Tanggal kebangkitan nasional ini mengingatkan saya akan sesuatu. Dan anehnya beberapa hari belakangan ini juga pikiran saya berkutat tentang hal itu. Bermula dari beberapa hari yang lalu ketika saya mengurus sesuatu di kampus. Secara kebetulan saya bertemu dengan kakak tingkat yang dulu juga satu organisasi. Sebut saja namanya Mbak K. Saya jadi ingat suatu kisah dalam satu fase hidupnya di mana dia terpuruk dan menghambat prosesnya menyelesaikan skripsi. Di saat saya mencapai tahap-tahap akhir dalam mengerjakan skripsi, dia masih berada di tengah-tengah (well, info itu saya dapat dari budhe'nya yang kebetulan ketemu di jalan dan mengobrol). Padahal dia angkatan dua tahun di atas saya. "Sejak dia putus sama pacarnya, dia jadi males-malesan nglanjutin skripsinya," begitu tutur budhenya kala itu.

Oh ya? Saya sendiri sebenarnya mengenal mantan pacar mbak K itu, sebut saja namanya mas A. Dia juga satu organisasi dengan saya. Mereka juga berada dalam satu organisasi lain di mana saya tidak ikut di dalamnya, sebut saja organisasi T. Sejauh pengamatan saya dan menurut cerita-cerita yang saya dengar dari teman-teman, mereka ini pasangan yang ideal. Sungguh nyaris sempurna. Kecuali satu, beda agama. Mbak K beragama katholik dan mas A adalah seorang protestan. Keduanya kristen memang, tapi dalam perkembangan sejarahnya dulu (masa martin luther, kalau tidak salah ingat), kristen itu kemudian pecah menjadi 2, yaitu kristen katholik dan kristen protestan. Dan segala macam aturan dan hukum-hukumnya berbeda, sudah menjadi dua agama yang berbeda, bukan lagi sekedar tataran aliran.

Sementara itu, di organisasi T tersebut, ada sepasang lagi yang juga memiliki nasib yang sama. Sama-sama beda agama dan sama-sama lebih tua ceweknya selisih setahun. Sebut saja Y dan mbak L. Y adalah teman seangkatan saya, agamanya Islam. Sedangkan mbak L beragama protestan. Mereka pun disebut-sebut sebagai pasangan yang serasi. Nah entah karena apa, mungkin karena terlalu senasib, mereka putusnya pun bareng-bareng. Beberapa waktu setelah putus semuanya, secara mengejutkan saya mendapat kabar bahwa mas A sekarang jadian dengan mbak L. Nah lho! Kok semacam menikung ya? Mereka semua satu organisasi pulak! Tapi dengan begitu semuanya ada di jalur kebenaran. Mas A dan mbak L satu agama, protestan, sehingga hubungan mereka bukanlah hubungan terlarang. Yah, Tuhan memang lebih mengerti yang terbaik untuk kita.
Ketika salib dan tasbih menyatu

Hikmah itu pun menyambar dalam kehidupan saya. Satu fase dalam hidup saya pernah hampir terjebak dalam cinta beda agama, semasa saya sekolah. Sistem plotting kelas yang diberlakukan oleh sekolah saya adalah dengan mengelompokkan siswa-siswa yang beragama non-islam ke dalam satu kelas dari total 6 kelas. Sekolah saya adalah sekolah umum, bukanlah sekolah yang berbasis agama. Tapi memang kebijakannya seperti itu, mungkin untuk memudahkan jadwal pelajaran agama, agar siswa yang beragama non mendapatkan pelajaran agama mereka di waktu yang bersamaan, sehingga tidak mengganggu mata pelajaran yang lain. Nah, kebetulan saya ditempatkan di kelas campuran tersebut. Separuh dari isi kelas beragama non-islam. Sejak itulah saya sedikit mengenal tentang pandangan-pandangan dari agama yang beragam, bagaimana itu katholik, bagaimana itu protestan.

Nah, entah bagaimana mulanya, saya terlibat flirting diam-diam dengan salah seorang teman saya. Sayangnya dia protestan. Awalnya saya tidak menyadari kehadirannya, hingga lama-lama saya tersadar bahwa ada sesuatu yang berbeda yang ia tunjukkan kepada saya (itu sih kalau saya nggak keGRan.haha). Mungkin karena kami masih terlalu lugu, nggak ada yang berani ngomong duluan. Akhirnya yah cuma flirting dan kode-kode an. Sampai akhirnya kami tidak lagi bersekolah di sekolah yang sama dan lost contact. Awalnya memang sedih dan bahkan saya tetap menyimpan perasaan itu hingga bertahun-tahun. Hingga kemudian saya tersadar bahwa itulah jalan yang dipilihkan Tuhan kepada kami. Ya, dulu kami tidak berada di jalan yang benar, sehingga Tuhan meluruskannya. Mungkin iya kami menyimpan perasaan yang sama, tapi kami tidak berada dalam jalur keyakinan yang sama. Saya Islam, dia protestan. Sakit memang ketika sama-sama tertarik tetapi terhalang oleh tembok keyakinan. Bisa sih kita menabrak tembok itu. Tapi ke depannya pastilah lebih sulit. Mungkin kita bisa menghancurkan beberapa tembok di awal, tapi tembok yang berada di ujung, yang paling menentukan, nggak pernah bisa kita hancurkan. Tembok menuju ke pernikahan. Pacaran boleh saja beda agama, tapi dalam pernikahan, agama apapun melarang pernikahan beda agama. Dan bisa dibayangkan bagaimana rasa sakitnya ketika sudah menyambung hati tapi tetap tidak bisa menikah. Saya bersyukur karena Tuhan tidak membiarkan kami terus berkontak, Tuhan tidak mengizinkan kami pacaran. Tuhan menghentikan laju perasaan itu di hati kami masing-masing. Tuhan tidak ingin saya maupun dia terluka.         

Dan begitu sajalah. Cinta beda agama itu candu yang mematikan. Entah kenapa sejauh saya mengenal orang-orang non-Islam, menurut saya mereka lebih bisa menghargai perbedaan dan menjunjung tinggi nilai toleransi dalam beragama. Mungkin karena itu lah orang-orang non-Islam banyak memukau orang Islam dan menjadikannya nyaman dalam berinteraksi. Tapi kembali lagi, Tuhan berbicara di sini. Tuhan tahu apa yang kita butuhkan. 

Dan hari kebangkitan nasional sendiri, selain hari perenungan tentang perjuangan bangkit dari keterpurukan, bagi saya pribadi juga sekaligus perenungan tentang makna perbedaan agama. Tanggal ini ada di antara keduanya.   

Rabu, 10 April 2013

Rest In Peace : Popo


Rabo, 10 April 2013
9.48pm

Pagi tadi, masih kusapa kau di bangun tidurku. Pagi tadi masih kau sapa aku dengan tatapan khas matamu. Pagi tadi, ya, pagi tadi, semuanya masih sama seperti hari-hari lalu. Kecuali satu hal. Aku merasa sangat ingin bermain-main denganmu seharian ini. Tapi aku tak bisa, aku harus beraktivitas hingga sore. Dan aku mulai berkelakar padamu: "aku pengen banget bawa kamu bareng aku e. Kamu tak masukin tas mau ya? Apa milih tak masukin saku?" Ya. Itu kelakarku tadi pagi. Kelakar yang tak kusangka menjadi kelakar terakhirku untukmu.

Mungkin sore ini menjadi sore yang masuk dalam daftar hal yang paling tak kuharapkan. Aku kehilanganmu. Kamu meninggalkanku. Ah, mungkin salah. Mungkin lebih tepat disebut aku yang meninggalkanmu. Genap seminggu ini aku jarang bermain-main denganmu. Hanya sapaan sesekali yang masih kutujukan untukmu. Seminggu ini, aku terlalu berkutat dengan aktivitas baruku. Aku hanya punya dua waktu bersamamu: pagi hari selama beberapa menit sebelum keberangkatanku, dan maghrib senja hari selama beberapa menit setelah aku memasuki kamarku. Setelah itu, aku tertidur hingga pagi, tidak lagi punya waktu untuk sekedar berbagi cerita denganmu seperti hari-hari sebelumnya.   

Maafkan aku, aku tak bermaksud mengabaikanku. Andai kamu tahu, sejak aku kehilangan banyak waktu bersamamu seminggu ini, aku selalu merindumu. Aku kangen melihatmu berguling-guling menghiburku kala aku sedih. Aku kangen dengan tatap matamu yang membiusku, melenyapkan penatku seketika.

Maafkan aku, seharusnya aku tahu, umurmu tak akan lama lagi. Aku tahu, tapi seharusnya aku menyadari itu. Mungkin kau juga ingin menghabiskan masa tuamu bersamaku. Tapi aku tak menyadari itu. Aku tak menyadari hingga semuanya ini terjadi. Aku terlambat. Waktumu tak sanggup lagi menunggu waktuku. Dan aku mengabaikan tanda itu. Aku jahat, maafkan aku.

Dan kemudian, masih bolehkah aku berterima kasih kepadamu? Terima kasih atas hari-hari yang telah terlalui. Terima kasih atas kesetiaanmu menemaniku kala lelah. Terima kasih atas tak bosanmu mendengarkan tiap kesahku. Terima kasih atas semangat yang selalu kau tularkan padaku. Dan terima kasih atas tatap bening matamu yang selalu menghangatkanku.

Kehendak-Nya. Tak ada yang bisa menghalangi. Semua makhluk hidup berasal dariNya dan akan kembali kepadaNya. Semoga kau tenang di sisiNya, Popo. Amin.  


PS. Popo (Februari 2011 - 10 April 2013)





Rabu, 19 Desember 2012

Why It Must be "Dandelion"?

Kamis, 20 Desember 2012

H-2 menuju hari ibu. Sudahkah kita memberikan yang terbaik untuk ibu kita? Sudahkah kita menyatakan rasa sayang kita kepada ibu? Sudahkah kita membuat ibu bangga dengan kita? Atau, minimal, sudahkah kita membuat sebuah lengkungan manis di bibir ibu karena apa yang kita lakukan? Sudah saatnya kita merenungkan semuanya. Tapi, tulisan ini tidak menceritakan tentang itu....

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah. Manusia yang berjiwa besar adalah manusia yang menghargai masa lalunya sebagai bagian dari proses hidup. Begitu pula blog yang berkualitas adalah blog yang mengetahui sejarah penamaannya.


Kerajaan:Plantae
Divisi:Magnoliophyta
Kelas:Magnoliopsida
Ordo:Asterales
Famili:Asteraceae
Genus:Taraxacum

Randa Tapak atau Dandelion adalah bagian dari Taraxacum, sebuah genus besar dalam keluarga Asteraceae. Nama Randa Tapak sendiri biasa digunakan untuk merujuk kepada sebuah tumbuhan yang memiliki "bunga" yang memiliki "bunga-bunga" kecil yang terbang ditiup angin. Asal asli dari tumbuhan ini adalah Eropa dan Asia, namun sudah menyebar ke segala tempat. Yang disebut sebagai bunga dari tumbuhan ini menjadi semacam jam hayati yang secara teratur melepaskan banyak bijinya. Biji-biji ini sesungguhnya adalah buahnya (Wikipedia, http://id.wikipedia.org/wiki/Randa_Tapak). 


Keberadaan dandelion seringkali terabaikan. Mungkin karena bentuknya yang kecil dan biasanya berada di tepi-tepi jalan, sehingga sering luput dari perhatian orang. Tapi saya melihat dandelion bukanlah sekedar tanaman rumput kecil yang tidak menarik dan hanya berfungsi sebagai pembatas jalan. Tidak. Dandelion lebih dari sekedar itu. Ini tentang makna dirinya sendiri. 

Bunga-bunga kecil dandelion (biji) ini sangat mudah tertiup angin. Terbang tinggi dan jauh, kemudian akan jatuh pada suatu tempat. Biji tersebut kemudian akan tumbuh kembali menjadi bunga dandelion. Di sini, betapa dandelion mengajari kita arti kesetiaan. Ia rela meninggalkan induk dan teman-temannya yang ia sayangi ketika tiba waktunya ia harus pergi. Kepergiannya tidak lantas memusnahkan rasa cintanya. Ia pergi untuk memberikan kehidupan baru di tempat lain. Itulah keikhlasan dalam kesetiaan. Dandelion mengajari kita arti kesetiaan. Bahwa setia bukanlah berarti kita harus selalu bersama secara fisik. Setia lebih bermakna bahwa kita harus selalu bersama secara batin. Karena itulah, ketika kita berpisah secara fisik dengan orang yang kita sayangi, kita merasa ikhlas karena yakin bahwa kebersamaan kita tetap terjalin meski raga memisahkan. Seperti biji dandelion yang terlepas dari induk dan teman-temannya yang lain, tapi ternyata ia tidak bisa memungkiri rasa cintanya. Ia tumbuh di lain tempat, tetap dengan wujud dandelion dan cita rasa yang sama sehingga ia tetap akan selalu mengingat bagaimana kehidupan ia bersama induk dan teman-temannya dahulu kala. 

Tidak hanya mengajari tentang kesetiaan dan keikhlasan. Dandelion juga mengajari kita tentang semangat menggapai cita-cita. Biji dandelion yang tertiup angin tersebut terbang membawa satu misi: memberikan kehidupan di tempat lain. Sungguh misi yang sangat mulia. Ketika ia ingin sampai kepada misi tersebut, ia harus terbang tinggi dan jauh. Sama seperti kita. Untuk dapat menggapai cita-cita, kita harus semangat terbang tinggi dan berusaha untuk mencapainya. Hingga biji dandelion singgah di suatu tempat untuk menumbuhkan jiwa baru, kita pun tiba di suatu tempat cita-cita kita, tempat di mana kita bisa bermanfaat untuk orang lain.   

Dandelion tumbuh dengan segala kebersahajaannya. Ia tidak mewah, tidak harum, pun tidak berwarna cerah. Rapuh sekaligus kuat. Rapuh karena mudah terbawa angin. Tapi kuat dengan kesetiaan, keikhlasan, dan tekad menggapai cita-cita.


So, why it must be Dandelion? I bet you get it :D


PS. Kalau mau tau gimana bunga dandelion yang awalnya kuning perlahan berubah bentuk dan warna menjadi putih dengan biji-bijinya, cekidot --> Time lapse Dandelion flower to seed head

Jumat, 02 November 2012

Ini Hidup Terlewati, Ini Hidup Kau Mulai

Jumat, 2 Nov '12


Ini hidup terlewati
Ini hidup ketika kau mulai harus berdiri sendiri di atas kedua kakimu
Ketika kau menyadari bahwa kau haruslah berpikir tentang hidupmu
Apa yang akan kau lakukan, untuk apa dan siapa dirimu mengada,
Lantas akan kau kemanakan hidupmu?
Sisi dirimu bersorak atas kemenangan ini
Kala kau berhasil bergelut dengan sesuatu yang mungkin memenjarakanmu selama bertahun-tahun
Dan kau telah sampai di titik ini, maka kau disebut menang oleh orang-orang
Tapi benarkah kau menang?
Lihatlah, kau sedang ada di mana sekarang
Bahkan kau hampir-hampir tak tahu siapa dirimu jika kau tak cepat melangkah
Tapi kau masih perlu kompas untuk menjejakkan kakimu 
Kau tak bisa kembali meski dimensi di belakangmu kau rasa lebih nyaman
Jejakan kakimu pun berisi penuh tanggung jawab
Atas apa yang kau lewati, atas apa yang kau simpan, atas apa yang kau maknai
Ya, ini kemenangan. Ya, ini awal perjalanan. Ya, ini dimensi lain. Ya, ini awal perjuangan.
Ya, dan suatu saat kau akan sampai di ujung kemenangannya, berjalan ke dimensi lainnya


PS. Thanks God for this wonderful gift..hingga aku ada di titik ini, titik yang beberapa minggu lalu bahkan masih terasa sangat jauh dari jangkauan logika.

-03.08pm-

Selasa, 24 Juli 2012

Do You Remember Me, Like I Remember You?

Selasa, 24 Jul '12 
10.00 pm

"Swarin, hari, boy,,, inget g thn lalu kita buka di lapangan blkg rumah rozaq,,"

Sms dari Mbak Pam tertanggal hari ini jam 5.25 pm. Butir bening seketika meleleh saat membaca barisan kalimat itu. Ya. Aku tak pernah melupakan saat itu. Bahkan aku masih bisa mengingat warna dan aroma yang menguar dari senja menjingga kala itu.

16 Agustus 2011. Belum genap satu tahun yang lalu. Awalnya, aku hanya mencari tempat inspirasi untuk menggarap tugas KKN. Rencana awal adalah di daerah atas, sekalian ngabuburit ceritanya. Tapi karena waktu yang tidak memungkinkan untuk mencapai atas, Mbak Pam punya ide untuk ke sebuah lapangan yang terletak di belakang rumah Rozaq. Okelah ke sana. Hanya berempat yang mau ikut: Mbak Pam, Hari, Boy, dan aku. Lalu ide itu tercuat. Untuk buka puasa bersama di lapangan. Sebungkus es dan beberapa potong gorengan.

Masih ingatkah kalian, suasana yang tercipta kala itu? Senja, lantunan adzan Maghrib, rumput, langit, angin, dan sahabat. Entah, bagiku perpaduan semua hal itu membawa romantisme tersendiri. Di situ, aku benar-benar merasakan ada sulur-sulur hangat yang mengalir dan enggan pergi. Saat kita duduk melingkar beralaskan rumput. Saat kita menyantap makanan berbuka. Saat kita berada di tengah lapangan. Saat kita berbagi cerita. Saat kita saling menatap. Terasa hangat. Dan bahkan, Tuhan pun meniupkan cintaNya untuk turut hadir di tengah-tengah kita kala itu. Saat mendengar lantunan Adzan Maghrib, aku benar-benar merasakan bahwa Allah tengah memeluk kita erat.

Aku bahkan masih ingat, saat itu aku ketakutan. Kalian bercerita tentang hal-hal yang tak nampak. Beberapa kali aku terpaksa menjauh dari kalian, agar tak mendengar. Aku memang penakut, dan kalian memanfaatkan itu (*tersenyum geli). Di jalan pulang, kalian tak henti-hentinya menakut-nakutiku. Aku tutup telinga, aku merajuk agar kalian menghentikannya. Tapi kalian tetap saja meneruskannya. Boy, kau yang paling getol menakut-nakutiku! (Haha). 

Tapi jujur, meski aku ketakutan setengah mati, meski mungkin aku teraniaya saat itu, aku tetap saja merasa senja itu penuh dengan romantika. Ada warna dan rasa yang tak punya nama. Sesuatu yang khas. Kalian membuatku merasa disayang. Entah, mungkin hanya aku yang berlebihan. Tapi itu nyata kurasakan. 

Aku kangen kalian. Masih bisakah kita berbuka bersama lagi? Masih bisakah kita berbagi cerita lagi? Masih bisakah aku melihat senyum kalian lagi? Mbak Pam, kau membuatku merasa menemukan sosok kakak, dan aku suka caramu memanggilku (kau tau itu), kapan aku bisa mendengarnya lagi? Hehe. Hari, kau menemukan sesuatu di rumput kah saat mengeksplore lapangan? Haha. Boy, kau paling ahli menakut-nakuti dan pasang tampang horor (bikin berasa main di film thriller. Tapi lebih baik begitu daripada tak menyapaku, tau'. Haha, piss komandan! :P). Tahu nggak si kalian, aku kangen itu semua. Sekarang, setelah setahun berlalu, kita jarang sekali bertemu. Kita tenggelam dalam kesibukan kita masing-masing. Aku kadang nangis sendiri kalau inget kedekatan kita berdua puluh dan warna-warni apa yang tersembunyi di baliknya (yeah, you know that..*nelen ludah). Tak apa. Tapi, ikatan itu jangan pernah putus ya? Apapun yang terjadi. At least, kita pernah saling kenal, kita pernah saling berbagi.

PS. Aku sayang kalian.. :*       
~ Ini kisah tentang kita, pernah menyatu di suatu senja ~

Senin, 09 Juli 2012

Aku Kangen Kamu, Ay..

Minggu, 8 Jul 12
10.28pm

Aku kangen kamu, Ay..
Hampir setahun kita tak bersua. Pasca KKN, kau menghilang. Kita masih sama-sama mengambil kuliah full selama satu semester. Tapi mata kuliah kita berbeda. Kita tak pernah sekelas lagi.


Cahya Aya RuLin
makasi Swarinda Tyaskyesti dah nemenin ubek2 gale nyari sepatu kemarin :3 ahaha pgen yg lucu itu tpi ko 400 T.T huuw...
Like Unlike · · October 20, 2011 at 2:05pm
* 
Shafrida F. Sukoco, Ridwan Kharis Syuhada' II and 3 others like this.
         
Leni Rahmida: Huuuuu g ngjak2...pdhl td aq bwain oleh2 yg buat klian...tp g ktmu...Aya jg abis ktmu lgsg ilang..
October 20, 2011 at 2:30pm
         
Cahya Aya RuLin: T.T woaa mauu mana lenni..... lha aku di perpus sayangg... :(
October 20, 2011 at 2:33pm

Swarinda Tyaskyesti: Sama-sama Ay sayaang..kapan2 kesana lagi beli yg 400rb itu buat aku y?haha..Leni Rahmida, mana oleh2ny? kos'ku masih tetep kok Len,drpd g ketemu2 aku di kampus, :)
October 20, 2011 at 11:21pm

Cahya Aya RuLin: Swarinda Tyaskyesti haha bole besok ya kalo uda up to 70% :P nyahaha
October 23, 2011 at 12:07pm

Leni Rahmida: ada kan up 70% tgl 28-30 ini, di Amplaz tapi
October 23, 2011 at 1:44pm

Cahya Aya RuLin: @Leni Rahmida uda beli len... T.T jangan buat saya kepingin..
October 31, 2011 at 2:22pm
Itu terakhir kita bertemu hingga hari ini. Sejak itu, nomormu nggak aktif. Kau pun tak pernah kelihatan di kampus. Aku membiarkan. Mungkin sibuk, pikirku. Lama-lama, aku kangen kamu, Ay. Kau benar-benar seperti menghilang, meluncur ke planet lain. Berbagai social media yang kau ikuti pun sudah tak lagi kau urusi.

Berulang kali aku mencoba menghubungimu. Aku ingat kau punya beberapa nomor. Sms delivered. Aku tunggu. Tak ada balasan. Aku meneleponmu. Nihil. Nada tersambung, tapi tak ada respon. Aku mulai putus asa. Kubiarkan. Hingga rindu itu membuncah. Aku mencoba menghubungimu lagi. "Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif" Hanya suara operator itu yang kudengar. Dari ketiga nomormu. Parah.

Salahku memang, aku tidak tahu di mana kos'mu. Jarak kos'mu yang jauh dari kampus membuatku belum sempat mengunjungimu. Pun dengan teman-teman yang lain. Tidak ada yang tahu tempat kosmu, tidak ada yang tahu bagaimana cara menghubungimu.

Rumah. Ya. Rumahku dan rumahmu masih satu kabupaten. Tapi, aku pun tak tahu rumahmu. Lagi-lagi jarak. Dan sebelum kuliah, aku dan kamu tak saling kenal. Bahkan, aku mencarimu melalui situs DAA universitas. Data mahasiswa. Status kemahasiswaanmu tidak aktif pada semester 8 ini. Artinya, kamu tak registrasi atau sengaja mengambil cuti. Lantas, aku harus mencarimu ke mana lagi?

Tak hanya satu, dua orang yang menanyakan keberadaanmu padaku. Banyak, Ay. Tiap kali aku ke kampus, ketemu teman-teman, mereka selalu menanyakanmu padaku. Lantas, aku harus menjawab bagaimana? Aku pun kehilangan jejakmu. Bahkan yang paling gila adalah ketika seseorang yang tak kukenal, menghubungiku lewat private message di sebuah social media. Ia menanyakan keberadaanmu! Bagaimana mungkin ia yang sama sekali tak mengenalku (bahkan tak pernah tahu dan bertemu) bisa secara tiba-tiba menghubungiku hanya untuk menanyakan keberadaanmu. Aku tak tahu..dan aku semakin diingatkan bahwa aku kehilanganmu.

8 Juli 2012. Happy Birthday, Ay..Ini hari kamu berulang tahun. Aku nggak ngerti bagaimana caraku mengucapkan selamat padamu? Pada angin? Aku tak yakin ia akan bertiup sampai pada kediamanmu. Pada bintang menggantung di langit sana? Aku tak yakin kau tengah melihat pada langit yang sama.

Aku kangen kamu, Ay. Aku nggak tahu kamu kangen sama aku atau nggak. Atau bahkan mungkin kau sudah tak lagi mengingatku? Pedih. Karena aku mengingat bagaimana kita sering menghabiskan waktu bersama. Menggeje bersama. Kadang beramai-ramai dengan aiy, luhab, dwi, diah, susan, leni. Kadang pun kita hanya melewatkannya berdua saja. Mengerjakan tugas, becanda, membolang bersama. Kau selalu bisa menghidupkan suasana dengan leluconmu yang kadang tak terduga. Tapi terkadang kau pun bisa diam seribu bahasa. Bukan. Bukan karena kau sedih atau sedang ada masalah. Kau diam karena kau terlalu asyik dengan HPmu. Haha. Menyebalkan memang. Kita bersebelahan tapi tak saling bicara. Tapi itu konyol. Dan aku bisa tertawa sendiri kala mengingatnya. Oh ya, kau ingat, kita bahkan punya basecamp. Kamar kosku dan sebuah warung makan murah meriah dekat kosku. Kini, sudah lama kamar kosku sepi. Aku pun ke warung cuma membeli makanan dibungkus. Terkadang rasanya hampa, Ay..

Aku nggak tahu kamu akan membaca tulisanku ini atau nggak. Aku hanya ingin berbagi denganmu lagi. Seperti dulu. Dan aku pikir hanya tulisan ini yang mampu kuhadirkan untukmu saat ini. Semoga kau masih berada di planet yang sama denganku.


PS. Happy Birthday..semoga diberi usia yang berkah. Semoga kau selalu mendapatkan yang terbaik dalam hidupmu.Selalu menjadi Aya yang lebih baik dari hari kemarin..dan menapaki hidup dengan lebih hidup..hidup dengan pemaknaan..lebih dari sekedar menggelinding bersama waktu..dan temukan Allah di setiap hembus nafas.

I miss you so much, Ay..     



Sabtu, 07 Juli 2012

Kau Telah Siap Berlabuh, Kawan

Sabtu, 7 Jul 12
10.53pm

Pagi tadi, satu lagi anak manusia yang melalui fase kehidupan barunya. Menikah. Seorang sahabat dekat. Dalam balutan kebaya merah, ia terlihat bagai bunga yang tengah mekar. Ranum.

Ya. Bunga itu ada di sana. Bersanding dengan lelaki pilihan. Senyum yang senantiasa merekah tak mampu menyembunyikan rasa yang membuncah di dada. Tangan mereka menyatu. Menggenggam harap untuk selalu seiya sekata dalam melabuhkan bahtera kasih sayang. 

Ya. Sahabat kita di sana. Janji suci telah terucap. Kini ia telah menjadi wanita pilihan. Bahagia rasanya menyaksikan sahabat kita bertumbuh dan akhirnya melalui fase baru dalam hidupnya. Satu langkah lagi mendekat menyempurna. Cinta mereka kini selalu disaksikan oleh Tuhan. Pengungkapan cinta yang paling romantis. Tatapan mata yang paling meneduhkan. Pelukan yang paling hangat. Senyum yang paling mendamaikan. Ciuman yang paling lembut. Tak ada yang menyaingi dahsyatnya rasa itu di dunia ini. Karena bahkan, Tuhan pun tak segan turut menyatukan cintaNYA pada dua insan manusia yang berikrar dalam suatu pernikahan suci atas namaNYA. Hingga tak lama lagi sahabat kita menjadi wanita seutuhnya. Ibu. Ah, betapa fase itu menjelma menjadi hal yang paling berharga. Bukankah wanita itu mulia? Bukankah surga itu di bawah telapak kaki Ibu?

Ya. Sahabat kita di sana. Ada setangkup sedih yang menghinggap di dada ini. Bukan, bukan sedih dalam artian tunggal. Bercampur. Entah apa nama rasa itu. Mungkinkah rasa kehilangan? Mungkinkah rasa cemburu? Mungkinkah terlalu jahat jikalau rasa itu hadir? Entah. Terkadang masih melihatnya sama seperti setahun lalu, dua tahun lalu, beberapa tahun lalu. Perkenalan singkat. Bahkan mungkin kenal begitu saja dari teman-teman lain yang saling menyebut nama kita, bukan berhadapan dan mengulurkan tangan. Lantas, waktu membawa kita bergulir melalui putarannya. Kita larut dalam permainan labirin atasnya. Suatu saat, kita bertemu pada titik tawa, canda, dan senyum. Suatu saat lain, kita bertemu pada titik tangis, kecewa, marah. Suatu saat lain lagi, kita memilih untuk menyusuri labirin itu sendiri. Tapi kita juga akan selalu merindukan titik di mana kita saling menyatu. Dan di kala ada yang mulai tersesat, kita membantunya menemukan jalan pulang. Pertemuan. Kita hanyalah anak manusia yang belajar bersama-sama menyusuri labirin itu.

Dan kini, sahabat kita itu telah memiliki labirin baru. Ia menyusurinya bersama lelaki pilihan. Mungkin dengan dua orang anaknya, atau lebih, kelak tak lama lagi. Labirin mereka terbangun jauh lebih indah. Jauh lebih berwarna. Labirin milik kita terlalu kanak-kanak. Penghuninya berkurang satu. Pindah. Labirin itu kini tak akan sama seperti dulu. Ada satu ruang kosong di dalamnya. Apakah ini yang namanya kehilangan? Terkadang melongok pada labirin baru milik sahabat kita. Begitu bercahaya. Apakah ini yang namanya cemburu? Apapun itu nama rasa yang mungkin hadir terasai, pintu labirin kanak-kanak ini akan selalu terbuka untuk sahabat kita itu. Barangkali untuk sesekali menyusurinya kembali bersama-sama. Atau memberi kabar bahagia. Atau bahkan untuk sekedar menyapa.

Untukmu, sahabat, selamat merasai fase kehidupan baru. Semoga menjadi keluarga sakinah, mawadah, warohmah. Amin.
Bertukar kabarlah pada kami. Kami masih akan bertukar tawa, canda, senyum, air mata. Kami masih akan berputar dalam labirin waktu. Berikanlah senyum terindahmu pada kami. Selalu. Terima kasih atas warna yang kau sapukan pada labirin kanak-kanak ini. You have to remember this: We love you, Annisa Luhabsari :*


Luhab-Eko's Wedding

Senin, 28 Mei 2012

Kebebasan Berpendapat dan Berdiskusi?

Beberapa waktu lalu sempat santer terdengar di berbagai media pemberitaan tentang ricuhnya diskusi dari seorang tokoh reformist Islam: Irshad Manji. Beliau adalah seorang muslim Kanada yang gemas dengan keadaan kaum muslim dan ingin mengadakan reformasi-reformasi yang ada di dalamnya. Kedatangan Irshad Manji ke Indonesia, termasuk ke kota tempatku menuntut ilmu (Jogja) dimaksudkan untuk diskusi mengenai buku terbarunya yang berjudul "Allah, Liberty, and Love". Sebelumnya, beliau pernah menulis buku yang menuai banyak kontroversi dengan adanya pengakuan bahwa dirinya adalah seorang lesbian. Dan ya, dapat dipastikan, diskusi itu mendapat kecaman, bahkan hingga muncul tindakan anarkis dari kelompok FPI. Di Jogja sendiri, setelah pihak UGM membatalkan adanya diskusi tersebut dengan alasan keamanan, diskusi tetap berlanjut dengan berpindah lokasi di LKiS. Gedung tersebut tak luput dari aksi anarkis dari kelompok-kelompok Islam yang tidak setuju. 

Pro-kontra pun segera saja merebak di kalangan pemerhati masalah ini. Ada yang mengecam Irshad dan banyak yang menyesalkan aksi anarkis itu. Berbagai seruan yang menyoal kebebasan berpendapat dan berdiskusi pun menjadi perbincangan yang akrab menghiasi pemberitaan dan sosial media. Beberapa bahkan ada yang mengkutubkan kepada berbagai aliran keagamaan yang melatarbelakangi peristiwa kontroversial ini. 

Okay, rasanya aku tak perlu berbicara panjang lebar soal idealisme masing-masing pihak itu. Aku pun bahkan tak mengerti sama sekali hal itu. Bisa dibilang aku selama ini prek dengan segala perbedaan yang tumbuh di tubuh Islam sendiri. Aku bukan seseorang yang dibesarkan di lingkungan dengan basis keagamaan yang kuat. Pengetahuanku tentang agama hanya sebatas yang diajarkan di sekolah. Dan bukankah materi-materi pelajaran agama Islam di sekolah umum tidak pernah membahas segala macam perbedaan itu? Jadi sampai sekarang pun, jika aku ditanya aliran keagamaanku apa, aku menjawab Islam. Saja. Aku menjalankan ibadah sesuai dengan apa yang ada di dalam Al-Qur'an, bukan apa yang diajarkan pada masing-masing aliran itu. 

Lho, kok malah jadi nggak nyambung? Yaudah lah nggak pa-pa curcol dikit. haha. Yang jelas, sebelum aku melanjutkan pembicaraan ini, aku menegaskan kalau aku di sini berbicara atas nama diri pribadiku. Tanpa tendensi apapun. Tanpa memihak pada salah satu pihak atau aliran. Aku merasa perlu menjelaskan ini di awal mengingat permasalahan ini sangat-sangat kontroversial. Jadi, no offense lhoh yaa... :D


Banyak pihak yang menyesalkan sikap UGM yang seolah mengekang kebebasan berpendapat dan berdiskusi. "Padahal UGM sebagai institusi pendidikan seharusnya terbuka dengan adanya diskusi-diskusi semacam ini," kata mereka. "Katanya kita sudah hidup di zaman demokrasi. Mana nyatanya?" seru mereka lagi.  Maka muncullah anggapan bahwa UGM gagal menjadi contoh institusi pendidikan yang mampu mewadahi kekritisan mahasiswanya.

Menurutku, tolong digaris bawahi, MENURUTKU, kalau yang dipermasalahkan adalah kebebasan berpendapat, kebebasan untuk berdiskusi, sebenarnya bukan hanya sesederhana itu. Berbicara dan mengeluarkan pendapat tidaklah sama dengan mengeluarkan kentut yang hanya berefek sebentar kemudian hilang. Emang yo berbicara itu tidak menimbulkan dampak? Justru sangat besar. Orang akan menilai dirimu dari omonganmu. Dan orang awam juga akan menilai tamengmu seperti apa yang kamu omongkan. Misalnya yang ngomong itu seseorang yang ikut organisasi tertentu. Sebenarnya dia ngomong itu atas kepentingan dia sebagai dia pribadi, ngomong sesuai pikirannya bukan sesuai visi-misi organisasi. Tapi orang awam yang mendengar, most of them, cenderung mengkaitkan siapa yang berbicara dengan organisasi yang dibawa. 


MENURUTKU, bukan masalah kebebasan berpendapat atau keterkekangan berpendapat. Tapi lebih karena strategi pembicara untuk masuk ke audience. Nek di indonesia rusuh, menurutku wajar. Lha nilai-nilai yang dibawa jelas bertentangan dengan nilai masyarakat kebanyakan di indonesia. Analoginya itu sama dengan ulama yang mengajak berdiskusi tentang bid'ah pada masyarakat yang masih memegang kepercayaan animisme. Yo jelas masyarakat akan bertindak secara anarkis to? Jadi yang bikin anarkis bukan karena agama, bukan karena akademik. Tapi karena keyakinan yang dipegang selama ini seakan-akan dicela secara frontal. Memang bener kalau orang-orang yang bertindak anarkis itu belum tentu paham tentang apa sebenarnya yang ingin didiskusikan. Bisa jadi buku yang akan dibedah ini sama sekali tidak berkaitan dengan buku sebelumnya yang kontroversial, bisa jadi hanya membahas hal-hal universal yang semua orang cenderung menyepakatinya. Namun, bukankah sejarah itu mempengaruhi cara pandang seseorang? Irshad Manji, dalam riwayat hidupnya pernah menulis buku yang kontroversial, bukan tidak mungkin dalam buku-buku selanjutnya yang bertema hampir sama juga cenderung kontroversial. Karena seorang penulis pasti melibatkan pemikiran pribadinya, memasukkan karakter dirinya ke dalam tulisan yang ia buat meski tidak seluruhnya. Dan seorang penulis pasti memiliki kepentingan atas tulisannya. 

Aku pribadi justru setuju dengan pembatalan pelaksanaan diskusi di UGM. Menurut informasi yang kudapat, penyelenggara acara diskusi itu adalah UGM. Di saat-saat terakhir menjelang pelaksanaan diskusi, rektor mengambil sikap membolehkan diskusi itu tetap berjalan, hanya saja lokasi diskusi dipindah di LKiS. Ketika orang-orang mengecam kebijakan itu, aku mencoba mencermati lebih dalam alasan di balik pemindahan lokasi tersebut. Kemungkinan yang kudapatkan, para akademisi tidak membolehkan diskusi itu pada saat ini karena nyadar kalau bakal terjadi rusuh dan anarkis. Mereka nyadar kalau sasaran audience irshad manji kurang tepat untuk saat ini. Kecuali kalau Indonesia udah sebagian besar berpaham liberal, itu fine-fine aja. Diskusi irshad manji itu bagus banget sebenernya kalau utk orang-orang yang liberal. Aku sempat membaca beberapa bab buku Irshad Manji yang sangat kontroversial "Beriman Tanpa Rasa Takut", dan aku diam-diam memuji atas kekritisan beliau dan kecerdasan beliau. Jarang ada orang yang mempertanyakan apa yang sudah diyakininya sepenuh hati. Tapi sekali lagi, perbedaan budaya dan latar belakang kehidupan beliau berbeda dengan kita yang ada di Indonesia. Di Indonesia, masih banyak orang yang tidak setuju dengan liberalisme. Kalau untuk Indonesia, harusnya dilihat dulu rating/respon masyarakat pada buku itu, baru diadakan diskusi. Dan penting untuk melihat riwayat respon terhadap buku sebelumnya pada masyarakat sasaran diskusi.  Atau kalau memang dengan alasan kebebasan berdiskusi, toh diskusi itu tidak harus dengan bertatap muka, dan menyiapkan waktu khusus. Bisa lewat sosial media, kan, kalau tema yang diusung memungkinkan banyak tindakan anarkis. Jangan langsung dibuka untuk masyarakat umum untuk diskusi kali pertamanya. 



Kadang-kadang orang tu berlindung dibalik kebebasan berpendapat, padahal sebenarnya dia mungkin mendukung prinsip yang diusung si pembicara. Nggak dilihat dulu kalau kebebasan berpendapat itu bukan cuma sampai pada mengemukakan pendapat tapi juga pendapat itu menuai dampak di belakangnya. Banyak orang gembar-gembor kebebasan berpendapat, tapi lupa sesuatu yang lebih penting dari itu: esensi dari pendapat yang akan disampaikan.  Ini menyangkut masalah keyakinan, man! Nggak bisa disamakan dengan diskusi ilmiah. Dalam diskusi ilmiah, semuanya memang harus didasarkan pada bukti empiris yang rasional. Masalah keyakinan nggak bisa dibahas secara ilmiah. Gunakan pisau keyakinan untuk bicara masalah keyakinan dan gunakan pisau teori untuk bicara masalah ilmiah. 


Aku bukannya mendukung tindakan anarkis itu. Aku cuma mencoba melihat dan meraba sudut pandang mereka. Karena yang ada selama ini masing-masing pihak masih memakai sepatunya sendiri kan? Para pendukung diskusi mengutuk tindakan para anarkis karena tindakan para anarkis itu tidak bisa dibenarkan menurut mereka. Sebaliknya para anarkis mengutuk tindakan para pendukung diskusi karena tindakan para pendukung diskusi itu tidak bisa dibenarkan menurut mereka. Belum ada yang mencoba menyelami dari sudut pandang pihak lawan. Selalu ada alasan dibalik tindakan seseorang, bukan?

Once again, semua yang tertulis di sini adalah MENURUTKU. No tendency. No offense at all. 

Senin, 28 Mei '12

Rabu, 25 April 2012

Tujuh Tokoh Cerita Hari Itu

Memoar Senin, 23 April 2012

Di suatu gerbong kereta: 07.00 am
Tokoh 1: Duduk manis sembari membaca buku pinjaman dari seorang temannya. Sesekali matanya ia tumbukkan ke arah hijau panorama di luar dari balik jendela kereta.
Tokoh 2: Duduk di bangku pojok, menyandarkan punggung pada dinding gerbong. Asyik membaca buku sembari sesekali mencoret-coretkan sesuatu di dalamnya dengan bolpennya.
Tokoh 3: Duduk melamun hingga datang seorang bapak dan kemudian mereka mengobrol sepanjang perjalanan
Tokoh 4: Memejamkan matanya dengan damai, asyik berkelana ke alam mimpi a.k.a tidur.
Tokoh 5: Sehati dengan tokoh 4, memejamkan matanya dengan damai sembari memeluk sebuah bungkusan besar yang sangat berharga.

Dalam cerita ini, mereka akan ada di tempat yang sama, di waktu yang sama, dengan pikiran dan perasaan yang berbeda.  


Sampai di stasiun tujuan, Stasiun kutoarjo: 08.00 am
"Gimana, kalian mau mampir ke rumahku atau nunggu di terminal buat langsung ke tempat Mbak Dwi? Mampir ke rumahku dulu aja yuk!" ajak tokoh 1.
"Langsungan aja lah, kita tunggu di perempatan deket terminal itu ya? Jangan lama-lama lho!" sahut tokoh 4 mengambil keputusan.
"Okay." Tokoh 1 pun bergegas menuju angkutan bertuliskan jalur A, angkot yang akan membawanya menuju rumah untuk meletakkan tas ranselnya. Tokoh 1 memang berniat untuk sekalian pulang ke rumahnya setelah acara di tempat temannya itu selesai. Baru saja ia meletakkan pantatnya pada tempat duduk angkot, ia melihat tokoh 3 berlari-lari kecil dan ikut masuk ke dalam angkot.
"Lho, kok kamu ikut? Mampir semua dulu jadinya?" tanya tokoh 1 dengan nada bingung.
"Nggak. Aku aja, sekalian mau titip tas juga," jawab tokoh 3 nyengir sambil menunjuk pada tas ranselnya. Tokoh 1 mengangguk-angguk meski masih merasa bingung. Sampai di rumah, mereka di sambut baik oleh bapak tokoh 1. Tokoh 1 pun bergegas mengganti tasnya dengan tas cangkong kecil yang lebih pas dengan acara yang akan dihadiri itu. Setelah menyantap sedikit jajanan yang disajikan, mereka pun kembali menunggu angkot yang membawa mereka ke terminal. Di sana, tokoh 2,4, dan 5 sudah menunggu. Tak berapa lama, angkot berwarna coklat bertuliskan angka 4 datang. Mereka segera masuk dan angkutan itu melaju.  


Sebuah rumah di Kemiri Kidul: tepat pukul 9
Tokoh 1, tokoh 2, tokoh 3, tokoh 4, dan tokoh 5 bersalaman dengan para penerima tamu yang berjajar di barisan depan. Janur kuning yang terpasang di sana ikut menyambut kedatangan kelima tokoh itu. Kursi yang tersedia belum terisi penuh sehingga mereka dapat dengan mudahnya menemukan keberadaan tokoh 6 dan tokoh 7. Tempat duduk ketujuh tokoh itu berada di samping tempat ijab kabul sehingga hanya dapat melihat kedua mempelai tampak samping. Acara ijab kabul yang sedianya dijadwalkan jam 9 akhirnya terlaksana pada jam 9.30. Suasana riuh pun berubah menjadi hening nan khidmat. Utusan dari studio foto dan video merangsek maju mendekati TKP ijab kabul, termasuk tokoh 3 yang ikut mendokumentasikan moment berharga itu dengan kamera yang dibawa oleh tokoh 1.
 "Jangan-jangan dia nggak bisa pake'nya. Cuma ngepaske gambarnya aja tapi tombolnya nggak dipencet," kata tokoh 6 mengungkapkan kekhawatirannya kepada tokoh 7 yang duduk di sampingnya, tokoh 1, dan tokoh 4 yang duduk di belakangnya.
"Iya. Udah dengan gaya profesional ternyata nggak kerekam tu lho, sama aja." Kali ini tokoh 4 yang bersuara disambut oleh tawa tokoh 1, tokoh 6, dan tokoh 7.

Prosesi pengucapan ijab dan kabul pun berlangsung. Mempelai laki-laki mengucapkan kalimat sakral itu dengan lancar dan penuh semangat '45. Wuih, semangat sekali, batin tokoh 1. Tapi entah kenapa terdengar cekikik kecil dari para tamu undangan yang datang, kemudian pengucapan ijab kabul itu diulangi. Lhoh, kenapa?? Entah, pasti ada yang salah.
"Saudara ... (nama disamarkan), saya nikahkan dengan anak saya ... (nama disamarkan), dengan mas kawin seperangkat alat sholat yang dibayar tunai"
"Saya terima nikahnya ... (nama disamarkan) dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai" "Sah?"
"SAH.."
"Alhamdulillah." Setelah diulangi, kali ini dinyatakan sah. Alhamdulillah. Waah, mbak dwi sudah jadi istri orang sekarang. :)

Lantas kedua mempelai masuk ke dalam untuk berganti busana.
"Besok kalau kamu nikah mas kawinnya puisi ya? heheheh.." seru tokoh 5 dari arah seberang tokoh 1. "Haha..boleh, boleh. Kamu besok juga mas kawinnya itu mesti sama mbak M***," sahut tokoh 1 (#eh). Never mind, it's just a joke :P
Musik mengalun mengisi kekosongan. Para utusan studio foto dan video pun berganti mengambil gambar para tamu undangan. Tokoh 3 kembali ke tempat duduknya. Keenam tokoh yang lain akhirnya menghela nafas lega setelah tahu bahwa tokoh 3 berhasil mengambil video dengan benar. Haha.

Ketujuh tokoh kembali duduk diam-diam di kursinya sambil menanti giliran diangsurkannya piring sajian makan dari pemuda leladen. Mata mereka berbinar menyambutnya dan lantas menyantap dengan lahap hingga tak tersisa. Memang, keberangkatan pagi buta dari Jogja membuat mereka belum ada yang menyentuh makanan hingga saat itu. Belum lagi tokoh 1 menyelesaikan sisa suapan, asap rokok mulai bertebaran menyerbunya. What?? Not good at all, batin tokoh 1. Tokoh 1 pun segera menyelesaikan suapannya dengan megap-megap sebelum akhirnya pindah ke tempat duduk di depan tokoh 2 dan tokoh 5..  

Prosesi pernikahan adat jawa: 10.30
Mempelai perempuan duduk di kursi penganten. Ketika mempelai laki-laki datang dari arah pintu masuk dengan diiringi oleh kedua orang tuanya, mempelai perempuan juga berjalan menuju mempelai laki-laki. Pun dengan diiringi oleh kedua orang tuanya. Sampai pada suatu tempat mereka berdua berhadap-hadapan, mereka pun saling melempar daun suruh. Lantas, mempelai laki-laki menginjakkan kakinya pada sebutir telur hingga pecah dan mempelai perempuan membersihkan kaki suaminya tersebut. Lantas mereka berdua berjalan beriringan dengan dipandu oleh ayah dari mempelai perempuan menggunakan selembar kain merah. Mereka duduk kembali di singgasana pelaminan. Selanjutnya acara pangkon timbang, kacar-kucur dan serangkaian kegiatan simbolis lainnya dalam adat jawa. Diakhiri dengan sungkeman kepada orang tua kedua belah pihak mempelai. Di sini, tiba-tiba saja perasaan tokoh 1 mengharu biru. Bagaimana rasanya ketika kita meminta doa restu kepada kedua orang tua kita untuk memutuskan hidup bersama suami atau istri pilihan? Bagaimana rasanya ketika kita harus ikhlas melepaskan anak kesayangan kita untuk hidup berumah tangga bersama seseorang yang dipercaya mampu menjaga anak kita? Ya, bagaimana rasanya? Ah, kita akan melewati fase itu. Suatu hari nanti.

Lantas, acara ceramah oleh seorang kyai memecah keheningan dengan lelucon-leluconnya yang khas. Tentang bagaimana seharusnya mengarungi hidup berumah tangga itu, tentang bagaimana menghargai suami/istri, dan mertua.
"It's all about expectation. How we can reach the equilibrium together with our spouse," batin tokoh 1. Pembahasan yang mengena dibalut dengan humor-humor yang menggelitik dari pak kyai memenuhi halaman depan rumah mbak dwi. Dan satu yang mengena bagi ketujuh tokoh: doa-doa bagi yang belum menemukan jodoh. Dan pesannya adalah segeralah menikah biar rezekinya bertambah.
"Wah, tadi gimana doanya? Bapaknya cepet banget ngucapinnya, aku susah ngingetnya," kata tokoh 1 kepada tokoh 2 dan tokoh 5. Tokoh 1 terlihat antusias sekali ingin mengingat doa bagi yang belum menemukan jodoh. Ungkapan dari hati terdalam agaknya. Haha. (Peace ya tokoh 1..!)
"Tenang, tenang, aku hafal kok. Mau aku kasih?" tokoh 2 menanggapi dengan tergelak. Hm..memang di usia-usia segini mungkin itulah hal yang cukup sensitif untuk dibahas. Mengingat banyak juga teman-teman lain seusia mereka yang sudah memutuskan untuk melabuhkan bahtera rumah tangga bersama seorang pasangan hingga akhir hayat. (Etciee..)  


Bergambar bersama: 11.30 am
"Teman-teman dari Mbak dwi dan mas bambang dipersilakan untuk bergambar bersama." Suara dari pranatacara membahana. Ketujuh tokoh dengan semangat berdiri dan bersiap untuk "bergambar bersama". Agak aneh memang, ada kosakata baru dari situ. Bagi yang bingung, FYI, bergambar bersama adalah sama dengan berfoto bersama. Ketujuh tokoh naik ke atas pelaminan untuk "bergambar bersama" kedua mempelai. Kemudian bersalam hangat sembari mengucapkan doa kepada kedua mempelai. Ketujuh tokoh lantas berpamitan.  


Es buah pojok lapangan kemiri: 11.50 am
Tokoh 6 dan tokoh 7 melajukan motornya. Sementara tokoh 1, tokoh 2, tokoh 3, tokoh 4, dan tokoh 5 berdiri di pinggir jalan, menunggu angkot bertuliskan jalur 4 lewat.
"Aah..ada es buah tuh. Nge-es dulu aja yuk, angkotnya lama, haus banget aku." Tokoh 4 berkata sambil megap-megap kehausan seperti ikan yang kehabisan air. Tokoh 1 paham, ini pasti gara-gara minuman yang diambil oleh bapak-bapak sebelah tempat duduknya. Jadi ceritanya, minuman tokoh 4 ini udah habis dan mau minta minuman milik tokoh 1 yang terlihat masih lumayan banyak. Tokoh 1 menunjuk pada kursi kosong tempat dia meletakkan minumannya. Dan yaah..matanya tertumbuk pada seorang bapak-bapak yang tengah asyik menyeruput minuman milik tokoh 1 ini dengan tatapan tak bersalah. Oh, okay, cukup tahu aja, batin tokoh 1 masih dengan tatapan tak mengerti.

Okay, balik lagi, kelima tokoh berjalan menuju suatu sudut lapangan tempat nongkrong penjual es buah. Kelima tokoh itu pun memesan es dan menyeruputnya dengan ganas. Mentari terik itu memang tengah menyorot bumi tanpa ampun. Aah..segarnya air es ini. Biipbiiip.biipbiiib. Satu pesan masuk. "Kalian di mana?" Sms dari tokoh 6. "Minum es di pojok lapangan." Dan ternyata tokoh 6 dan tokoh 7 sudah di jalan dan tengah berada di warung makan bergenre fastfood di kecamatan sebelah. Yasudah.  


Angkot bertuliskan angka 4, pojok seberang lapangan.
Kelima tokoh yang tersisa (minus tokoh 6 dan tokoh 7), memutuskan untuk berjalan menghampiri angkutan umum yang sedang ngetem di sudut seberang. Kalau belum penuh angkot tidak akan berjalan. Jika ada dua orang di dalam angkot dan ditambah dengan 5 orang, maka angkot diperkirakan akan segera melaju. Masuklah kelima tokoh itu ke dalam angkot. Panas pengap segera menyerang. Setelah beberapa saat, angkot pun melaju. Di pojokan tempat mereka minum es, beberapa anak masuk ke dalam angkot (mereka juga tamu undangan pernikahan itu). Tambah pengaplah suasana di dalam. Tokoh 1 kegencet di sudut. Kegencet oleh para alien. Sumpeh, cewek sendiri ini guweh di sini, rutuk tokoh 1 sambil mengibas-ibaskan tangannya. Kepanasan.


 Pasar kutoarjo: 1.00 pm
"Ini beneran mau jalan kaki? atau ngangkot aja? Panas lho.." kata tokoh 1.
"Jalan aja. Deket kan sini-situ"
"Iya. Kalau kamu capek ada yang mau gendong lho." Gubraak! siapa itu yang bilang?? Mana sini, mau aku bacok orangnya! (tokoh 1 memaki-maki sambil mengacungkan parang). Jadilah kelima tokoh berjalan kaki dari pasar kutoarjo menuju senepo. Jalanan yang menjadikan tokoh 1 serasa back to memory. Masa-masa SD dan SMP. Pun dengan tokoh 4 yang pernah menjadikan jalan-jalan itu sebagai tempat tumbuhnya ketika sekolah dulu. Back to memory.

Kelima tokoh itu melepas penat di rumah tokoh 1. Di teras rumah, sudah menunggu tokoh 6 dan tokoh 7 yang ternyata sudah sampai duluan. Tokoh 2, tokoh 3, tokoh 4, dan tokoh 5 menunggu jadwal kereta jam 3 sore nanti. Sekedar minum dan makan camilan seadanya. Sesekali gurauan mencuat di antara mereka. Tak ketinggalan tokoh 1 pun ikut terkena korbannya. "Mati gue," rutuk tokoh 1. Sudahlah, biarkan saja mereka bicara. Akhirnya tokoh 1 pun membiarkan teman-temannya yang lain memberikan 'pukulan-pukulan' terhadapnya. Mungkin tokoh 1 sudah capek. Makin dilayani makin menjadi, dan pengabaian adalah bentuk yang paling cocok untuk meredakannya. Haha.  


Pamit: 2.30 pm
Setelah kenyang menyantap mie ayam dari tetangga belakang rumah tokoh 1, tibalah saatnya pulang ke Jogja. Tokoh 1 tetap tinggal di kutoarjo, di rumahnya. Motor milik tokoh 7 didaulat untuk menjadi transportasi bolak-balik mengantarkan tokoh 2, tokoh 3, tokoh 4, dan tokoh 5 sampai stasiun. Mereka berboncengan bertiga biar cepat. Kloter pertama adalah tokoh 2, tokoh 4, dan tokoh 5. Kemudian tokoh 2 balik lagi. Lalu berangkatlah tokoh 7 mengantar tokoh 2 dan tokoh 3 menuju stasiun. Lantas kloter terakhir adalah penunggang motor: tokoh 7 dan tokoh 6.

Dengan begitu, rumah tokoh 1 secara resmi menjadi lengang. Tokoh 1 pun segera mencakung dalam kamarnya. Berbagi cerita bersama kedua orang tuanya.


PS. Selamat buat Mbak Dwi dan Mas Bambang yang sudah mulai melabuhkan bahtera rumah tangga. Semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawwadah, warrohmah. Amiin.

Senin, 27 Februari 2012

"Mendadak Itu Nggak Enak"

Senin, 27 Feb 12
8.57 pm

"Mendadak itu nggak enak"

Kata-kata yang diucapkan oleh seorang penyiar radio di Kota pelajar ini dalam siarannya sore hari tadi. Maksud penyiar itu adalah menggiring ke suatu iklan yang dipromosikan lewat radio. Tapi itu sedikit menggelitikku. Haha..merasa tersodok dan ya, aku membenarkan kata-kata itu. Sesuatu yang mendadak itu memang nggak enak. Contohnya, biasanya rame mendadak sepi. Nggak enak kan? Biasanya makan terus mendadak nggak pernah makan. Nggak enak kan menahan lapar?

Perubahan mendadak yang membuat nggak enak itu nggak hanya perubahan dari situasi menyenangkan menuju situasi tidak menyenangkan. Perubahan yang mendadak dari miskin menjadi kaya juga nggak enak karena otomatis gaya hidup pun menjadi berubah secara mendadak. Perubahan tempat tinggal di Indonesia menuju luar negeri juga nggak enak di awal-awal, meskipun itu hal yang menyenangkan bagi kita. Pasti kita perlu waktu untuk beradaptasi.

Dalam beradaptasi, kita harus benar-benar memahami diri kita sendiri. Orang seperti apa diri kita sebenarnya. Ketika kita kehilangan diri kita atau merasa kabur, maka proses adaptasi itu terhambat. Mungkin beberapa orang perlu situasi tertentu untuk mengembalikan jati dirinya. Jadi, jangan kau kira ia marah padamu ketika ia terlihat menghindarimu. Mungkin saja ia sedang berada di tahap itu. Karena perubahan mendadak yang ia alami. Meskipun mungkin kondisi itu merupakan hal yang menyenangkan baginya, tapi ia butuh adaptasi yang lebih ketika perubahan itu mendadak. Tunggulah sampai ia menemukan kembali dan bisa melihat dengan jelas jati dirinya. Nggak lagi merasa kabur. Ingat kata penyiar radio "mendadak itu nggak enak" :)

PS. Ia hanya butuh menemukan peta untuk bisa menemukan dirinya kembali. Percayalah. Yang ia butuhkan hanyalah keadaan netral, bukan siapapun. (Hey, ia juga sudah punya banyak teman yang bisa membantu menetralkan kondisi , tak perlu kau rekomendasikan temanmu )

Maaf, tulisan ini sangat acak, random. Ditulis dengan hidung mampet dan mata pedes (aka flu!) Huah..Harap maklum.
Song of this night: Terpesona - Glen Fredly feat Audi. Pas lagi keputer di Swaragama FM di jam 9.37 pm



Jumat, 02 Desember 2011

Ajari Aku - Adrian Martadinata

Ajari aku ’tuk bisa
Menjadi yang engkau cinta
Agar ku bisa memiliki rasa
Yang luar biasa untukku dan untukmu

Ku harap engkau mengerti
Akan semua yang ku pinta
Karena kau cahaya hidupku, malamku
‘tuk terangi jalan ku yang berliku

Hanya engkau yang bisa
Hanya engkau yang tahu
Hanya engkau yang mengerti, semua inginku

[ajari aku 'tuk bisa mencintaimu]
[ajari aku 'tuk bisa mengerti kamu]

Mungkinkah semua akan terjadi pada diriku
Hanya engkau yang tahu
Ajari aku ’tuk bisa mencintaimu

Rabu, 23 November 2011

Mbolang With My Pal

Kamis, 24 Nov '11
1.52 am

Dini hari..lagi aku terjaga dari lelapku yang tanpa sengaja. Dan pasti, mata ini masih sulit untuk kembali terpejam. Ia memaksaku untuk mengarungi alam maya (baca: onlen). Dan aku masih nggak percaya kalau ini sudah hari kamis! Nggak berasa ganti harinya ya kalau kita ketiduran? haha..So, mari kita buat saja ini hari Rabu..

Rabu yang semacam memutari kota Jogja bersama seorang sahabat (baca: alien). Bukan sengaja untuk kenalan pada setiap jalan di kota pelajar ini, tapi kami memang benar-benar melindasnya untuk mencari beberapa tempat penelitian. Berbekal alamat (yang Insya Allah bukan alamat palsu) dan selembar koyak peta Jogja, kami siap menantang jalan. Meski petir menyambar, meski puluhan ninja menghadang, kami menantang dengan tegar (sst, semua itu hanya dramatisasi saja). Kali ini baru survey tempat penelitiannya si sahabat dan koordinasi dengan ketua kelompok industri salah satu makanan khas jogja itu. Ada yang menarik perhatianku dan menggelitik tanya: sebagian besar industri khas suatu kota, baik makanan maupun benda kerajinan, menyatu dalam sebuah kampung. Jadi kalau di Solo kita mengenal kampung batik laweyan, di daerah belakang Malioboro kita mengenal kampung bakpia patuk, di Bantul kita mengenal kampung kerajinan kulit Manding, dan dimana lagi kita mengenal kampung apa lagi. Semacam ada komunitas pengrajin yang bertempat tinggal menyatu di satu kampung.

Lantas bagaimana industri khas suatu daerah itu bisa menjadi satu kampung? Apakah terlebih dahulu dibentuk suatu kampung yang khusus diperuntukkan bagi suatu industri dan kemudian bagi siapa yang tertarik dalam produksi itu dipersilahkan untuk menempati rumah-rumah yang tersedia di situ (semacam rumah dinas, barangkali)? Atau di sebuah kampung yang sudah berpenghuni, ada seseorang atau sekelompok yang memprakarsai terbentuknya kampung industri tertentu dan memberdayakan para tetangganya untuk ikut bergabung dalam memproduksi makanan/barang kerajinan khas tersebut? Lantas bagaimana kondisi psikologis masyarakat di dalamnya jika yang terjadi adalah mereka menempati "rumah dinas", bukankah mereka butuh penyesuaian diri dengan tempat tinggal baru dan bekerja sama dengan orang-orang baru? Bagaimana pula kondisi psikologis masyarakat di dalamnya jika yang terjadi adalah masyarakat pemberdayaan tadi, yang berarti mereka suka-nggak suka, mau-nggak mau harus mau dan suka ikut bergabung dalam industri khas yang tengah diberdayakan oleh sang pemrakarsa. Bukankah bagi mereka yang nggak suka, ada semacam keterpaksaan dan penyesuaian yang lebih untuk dapat menyukai aktivitas baru mereka? Dan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin konyol itu berhasil membuat sahabat saya garuk-garuk tembok sebelum akhirnya ia menyarankan untuk menanyakan sendiri pada yang mengalaminya. Mendengar itu pun saya juga hanya bisa garuk-garuk pohon dan manggut-manggut membenarkan sarannya itu. Masuk akal juga sarannya. Haha..

Setelah mendapat contact person ibu ketua kelompok industrinya, kami cabut dari daerah yang baru pertama kali kujamah setelah 3 tahun menghuni Jogja (jujur banget!). Kami menuju kos-kos'an sahabatku tadi dan jreng, jreng, jreng dia menyodoriku sebutir gitar dan aku menerimanya dengan tercengang nggak bisa berkata dan tidak bisa melakukan apa-apa. Lebay kalau ini, kejadian sebenarnya adalah kami sudah sepakat bahwa aku akan belajar gitar. Ciee..sok-sok'an nggitar, padahal biasanya juga tukang pegang sapu doang. Cuma gara-gara bentuk antara mereka berdua mirip, aku jadi menggemari gitar, penasaran apa siih bedanya gitar sama sapu?

Menggenjrenglah kami..dan senar-senar gitar yang aduhai itu minta dipetik ternyata. Ya sudah, dari pada mereka ngambek dan memutuskan untuk demo, kami menuruti permintaan mereka untuk dipetik. Waah, senar-senar itu beneran minta dihajar sepertinya, karena gara-gara menuruti permintaan mereka, ujung jari-jari kiriku sakit dan kapalen! haha..But, it's okay, sebutir gitar yang teronggok di kos-kosan sahabatku itu berhasil membuatku makin penasaran untuk memetik barisan senar nan manja itu. Oh ya, FYI alias sekedar info, kata "memetik" tidak sama dengan "menggenjreng". Dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar memang pasangan kata gitar yang lazim digunakan adalah "memetik gitar". Tapi ternyata aku baru menyadari kalau antara "memetik gitar" dan "menggenjreng gitar" berada dalam kutub yang berbeda. Memetik gitar ternyata jauh lebih susah karena kita perlu memperhatikan ketukan lagu secara lebih detail. Waktu aku dengan muka polos menanyakan bagaimana cara tahu ketukannya, sahabatku tadi dengan santai+nyengir ra cetho menjawab "insting". Oh, iya, iya..tanpa rasa curiga aku meng-iya-kan saja jawabannya itu. Tapi kemudian muncul pertanyaan baru yang sampai sekarang cukup membuat galau: Bagaimana caranya memunculkan insting itu? Dan aku semakin galau karena dia cuma bisa tertawa dan tidak memberikan jawaban apapun! Ck,ck,ck..Jadi pelajaran moralnya adalah kau harus bersiap menghadapi ketidak cetho-an jika kau memutuskan menjadi murid dari sesosok alien, karena percayalah, alien itu tidak cetho! hahaha..peace lho my pal! :P

Tengah hari lewat dikit..cabut untuk kembali ke cangkangku (baca: kos-kosan) karena mendung mengundang. Untung aku memenuhi undangan mendung yang dilayangkan pada seluruh makhluk di bumi Jogja, kalau tidak aku pasti terjebak hujan mengganas di jalanan..Hujan tahu kalau aku lebih suka mencandainya di balkon depan kamar, pesona hujan akan lebih tampak menawan jika dilihat dari sana. Tsaah! :D

Okay, kurang dari sejam lagi udah subuh ini..Selamat hari Kamis, selamat berburu berkah hari ini. Dan terima kasih Allah, atas keberkahan yang Kau berikan di hari Rabu :)

Random: Sesore rabu, aku dan seorang teman kos (baca: Ajeng) menjadi blog walker dan menemukan adanya konspirasi cinta segitiga antara 3 lelaki..apakah mereka maho? haha..*lupakan

PS. Song for this early morning: Seperti Pelangi - Dygta. Gara-gara ng-play beberapa lagu dygta yang ada di playlist sahabatku tadi, aku jadi ng-play beberapa lagu dygta yang ada di playlistku juga. They're kinda my all time fovorite songs, hehe. Dan satu ini yang menurutku best of the best diantara mereka. :)