Selasa, 20 September 2016

Don't Ever Let Anything to be Unfinish Bussiness

The present is shape from the past. The future is shape from the present.
Trauma masa lalu apabila dibiarkan menjadi unfinish bussiness akan menghambat perjalanan hidup kita dan menimbulkan ketidaknyamanan, meskipun responnya berbeda antara satu orang dengan yang lain, tergantung dari self ego dan peristiwa traumatis tersebut.  Dalam hal apapun, termasuk hal yang sesepele hubungan asmara. Seorang teman bercerita bahwa ia merasa senang karena setiap kali ia ngambek, pacarnya selalu menjanjikan untuk mengajaknya belanja atau pun hal yang bersifat memanjakan. "Dia kayak ketakutan banget kalau aku bakal ninggalin dia makanya dia cepet-cepet ngingetin agenda belanja/nyalon. Jadinya kan aku nggak jadi ngambek. Seneng deh." katanya dengan muka berseri-seri. Dalam hati saya melongo, ini semaacam bersenang-senang di atas penderitaan orang lain. Pacar teman saya itu pernah memiliki riwayat tidak menyenangkan dengan mantan pacarnya, he had been cheated. Alasannya sesederhana cewek itu bertemu dengan lelaki yang lebih kaya secara finansial. Kejadian itu entah disadari atau tidak, menimbulkan luka yang sangat mendalam hingga trauma. Apalagi setelah itu mereka memutuskan berpisah dan membiarkan masalah itu terkubur dalam-dalam. Trauma itu menjadikan pacar teman saya berusaha mencegah mati-matian agar tidak terulang lagi. Jadi, wajar bukan jika pacar teman saya terlihat sangat ketakutan ketika teman saya ngambek, hingga terlupa pada logika bahwa teman saya belum tentu memiliki karakter seperti mantan pacarnya. Drive yang ada pada diri pacar teman saya muncul dari rasa takut, bukan karena dia memang benar-benar orang yang baik. Dia menjalani hubungannya dengan insecure. Menyedihkan, bukan?
Cerita lain menunjukkan respon yang berbeda. Berawal dari pengkhianatan yang sama. Lelaki ini pernah mencintai seorang perempuan dengan penuh. Segalanya ia berikan kepada pacarnya, perhatian, finansial, dan tenaga. Apapun yang pacarnya minta, ia turuti. Hingga terjadilah peristiwa itu. Ia ditinggalkan. Sekarang, lelaki itu sudah memiliki pacar lagi. Respon atas trauma masa lalu, ia menjadi kapok untuk memberikan perhatian seutuhnya kepada pasangannya. Yang terjadi sekarang adalah ia berubah menjadi pribadi yang cuek, dingin, tidak romantis. Ia masih membawa luka masa lalu sehingga ia takut merasakan luka yang sama. Membangun bentenglah ia kemudian.    
Ada lagi yang merespon trauma masa lalu itu dengan menaikkan standarnya. Teman saya memiliki pengalaman buruk ditinggalkan oleh pacarnya, meskipun kali ini bukan karena pengkhianatan, tetapi karena ketidakcocokan. Pengalaman menyakitkan itu menjadikan teman saya menaikkan standarnya dalam memilih pasangan. Ia menjadikan mantan pacarnya itu sebagai patokan. Jika ada laki-laki yang mendekatinya dan kualitasnya (fisik, pendidikan, sosial ekonomi) di bawah mantannya tersebut, langsung ia blacklist. Ia menjadi orang yang sangat pemilih dan standarnya tinggi, sehingga sering dinilai oleh lingkungan pertemanannya sebagai orang yang sombong.
Saya yakin masih banyak lagi ragam respon yang berawal dari unfinish bussiness masa lalu yang terjadi di sekitar kita. Atau bahkan kita sendiri mengalaminya? Who knows? Tidak ada salahnya kita menengok diri kita sendiri dan berani melihat masa lalu dengan obyektif, bukan?  
 
Quote of the day: Don't ever let anything to be unfinish bussiness

Jumat, 22 April 2016

Wahai Perempuan

Memperingati hari kartini, sejumlah artikel di lini masa kompas menyajikan tulisan mengenai pernikahan. Ya, pernikahan dini sekarang ini nampaknya makin menjamur saja. Lulus SMA, baru bekerja setahun atau dua tahun sudah galau ingin cepat-cepat menikah. Padahal usia mereka saja masih remaja. Mereka berdalih jika menikah muda, jarak usia dengan anaknya kelak tidak terlalu jauh dan tampak seperti seumuran. Kayak mereka bangga ketika masih terlihat muda dan cantik tidak kalah cantik dengan anaknya.


Banyak artikel kesehatan dan psikologi yang membahas bahaya menikah usia remaja. Dari segi kesehatan, perempuan usia belasan tahun pembentukan rahimnya belum begitu kuat, sehingga dikhawatirkan berpengaruh bagi kesehatan bayi dan ibu yang mengandungnya. Jika ditilik dari segi psikologis, masa remaja adalah masa yang penuh gejolak. Perkembangan emosi remaja belum stabil sehingga dikhawatirkan berpengaruh bagi perkembangan anaknya, baik semasa dalam kandungan maupun ketika sudah lahir kelak berkaitan dengan pola asuh. Rentang usia remaja sendiri dalam psikologi berkisar antara 12-21 tahun. Jadi, bagi yang berusia 21 tahun berbahagialah karena kalian masih tergolong remaja! Haha. 

Untuk dapat menghasilkan generasi yang baik harus dididik dengan pola asuh yang tepat pula. Harus dari orang tua yang secara kognitif dan emosional sudah matang. Apa kabar lah itu anak kalau orang tuanya aja masih labil alay. Nggak heran kalau perkembangannya anak-anak kecil sekarang makin miris. Saat anak rewel, orang tua bingung bertindak bagaimana, akhirnya kasih dah tu si anak gadget untuk mainan biar diem nangis/amarahnya. Nggak usah kaget kalau misal dia lebih lengket sama gadget dibandingkan sama orang tuanya sendiri. Atau sebaliknya orang tua yang lebih senang berkutat dengan handphone nya dibandingkan berbagi cerita dengan anaknya sendiri. Nggak usah kaget kalau si anak jadi cari perhatiannya di luar rumah dan nantinya pas remaja dia jadi fakir asmara yang ngemis-ngemis cinta. Miris. Itu baru contoh kecilnya saja. Masih banyak contoh-contoh lain di sekitar kita yang kalau ditelusur berasal dari kekurangmatangan orang tua dalam pola asuh semasa kecil.

Menurut kepala BKKBN, usia ideal menikah untuk perempuan adalah di atas 21 tahun dan untuk laki-laki adalah 25 tahun, pas tepat dari sisi psikologis memang individu masuk usia dewasa mulai usia 22 tahun. Mulai usia 22 tahun individu mulai matang secara kognitif dan emosionalnya. Tentang dia mau langsung mengambil usia minimal (awal banget masuk masa dewasa) untuk menikah atau memilih untuk mempersiapkan dulu hingga cukup stabil dan lebih matang, itu pilihan. Kamu tahu mana yang terbaik.

Tapi baguslah sekarang pemerintah juga agaknya sudah lebih menyadari hal itu. Saya sih, mendukung kalau undang-undang perkawinan direvisi. Kalau saya yang ngerevisi, jadi minimal usia menikah bagi perempuan adalah 23 tahun :P. Kita hargai lah Kartini yang sudah memperjuangkan hak-hak perempuan, biar meminimalisir terjadinya KDRT. Karena seseorang yang dewasa, sudah bisa memilah dan menilai mana perilaku suami yang wajar dan mana yang tidak, sudah bisa bernegosiasi dalam menyelesaikan permasalahan rumah tangga secara bijaksana!

Nih, dua artikel dari kompas yang kudu dibaca:
http://health.kompas.com/read/2014/03/18/0913545/Mengapa.Pria.Sebaiknya.Menikah.pada.Usia.25.Wanita.21.?utm_source=RD&utm_medium=box&utm_campaign=Kaitrd


http://health.kompas.com/read/2016/04/06/180000123/Mengapa.Pernikahan.Usia.Remaja.Seharusnya.Dilarang?utm_campaign=related&utm_medium=mobile-kompas&utm_source=health&

Kamis, 21 April 2016

Kepada Friendzoner

Seorang teman bercerita kepada saya. Ia sedang galau karena ada lelaki yang mencintainya dan rela menjadi yang kedua, atau setidaknya ia rela mengantri dan menunggu jikalau suatu saat nanti teman saya ini putus dengan pacarnya.

Setiap hari mereka intens BBM, bahkan telepon hampir setiap hari selama berjam-jam. Teman saya ini melayani dan selalu menanggapi obrolan lelaki itu tanpa sepengetahuan pacarnya. Chat history nya dengan lelaki ini selalu ia end chat karena ia takut pacarnya akan membaca. Semua teman yang ia curhati mengatakan bahwa ia selingkuh. Teman saya ini tidak terima jika disebut selingkuh karena ia jujur dengan lelaki itu bahwa ia sudah memiliki pacar dan akan setia dengan pacarnya tersebut. Ia pun mengatakan kepada lelaki itu bahwa ia hanya menganggapnya sebagai kakak dan sahabat. Lelaki ini tidak keberatan sembari tetap bersikeras untuk menunggu teman saya ini dengan mengatakan tidak ada yang tahu tentang takdir, toh masih pacar belum menikah. Yasudah. Teman saya merasa tidak salah.


Saya mengatakan bahwa secara perasaan mungkin teman saya ini setia dengan pacarnya. Namun, yang menjadikannya masuk kategori selingkuh adalah niat menyembunyikannya. Dalam berhubungan, tidak mungkin dan justru salah jika kamu lantas menghentikan komunikasi dengan teman lawan jenis lain. Apa yang spesial dari selingkuh? Karena ia DISEMBUNYIKAN. Seberapa intim sih pembicaraan kamu dengan teman lawan jenis sehingga kamu merasa perlu menyembunyikannya dari pasangan? Justru dengan jujur kepada pasangan, berarti kita menghargai pasangan dan bisa sebagai sarana kontrol diri jika mungkin komunikasi kamu dengan lawan jenis lain itu dirasa semakin tidak sehat.

Kepada teman saya, ada dua pilihan yang bisa ia ambil. Jujur dan ceritakan apa adanya kepada sang pacar, atau stop semua kontak dengan lelaki “selingkuhan” itu. Teman saya tidak bisa menjawab. Teman saya tidak mau jika memutuskan komunikasi dengan lelaki itu karena ia akan merasa sangat jahat dengannya. Sudah cintanya ditolak, ditolak pula niat baik untuk berkomunikasi dan bersilaturahmi. Teman saya tidak tega melakukannya. Akan tetapi, ia pun tidak mau berterus terang dengan pacarnya perihal ini. Alasannya, ia yakin pacarnya pasti menyuruh teman saya ini men-delete contact BBM lelaki itu. Ujungnya akan sama juga.  

Mendengar cerita teman saya tentang bagaimana lelaki itu mengungkapkan perasaannya dan harapannya jika kelak suatu hari nanti bla bla bla membuat saya tidak habis mengerti dengan interaksi kedua anak ini. Teman saya selalu menegaskan kepada lelaki ini bahwa tidak mungkin putus dengan pacarnya karena kedua keluarga juga sudah saling setuju dan teman saya sangat mencintai pacarnya. Teman saya selalu meminta lelaki ini untuk memupus rasanya. Sementara lelaki ini selalu menegaskan kepada teman saya bahwa ia tidak apa-apa jika di posisi demikian, tidak apa-apa jika menderita menyimpan rasa ini, sambil terus mengungkapkan keyakinannya bahwa takdir tidak ada yang tahu, selama belum menikah Tuhan masih membolehkan berusaha.

Bhay. Nggak akan kelar-kelar nah itu urusan! Orang macam lelaki ini sudah menyerahkan dirinya untuk jadi yang kedua, jadi simpanan, jadi selingkuhan. Jadi mau seberapa keras usaha teman saya meyakinkan bahwa mereka tidak mungkin bersama akan sia-sia. Karena orang-orang seperti ini memang sudah memposisikan dirinya sebagai simpanan atau friendzone atau apalah. Dalam pikiran lelaki ini, tidak apa-apa bukan sebagai yang pertama asalkan masih bisa mengobrol masih bisa bertemu masih bisa menjadi superhero ketika suatu saat teman saya ini membutuhkan teman curhat. Asal dia masih mau membalas BBM berarti pintu masih terbuka, begitu barangkali pikiran lelaki ini. Toh dengan adanya komunikasi yang kontinyu, bisa sebagai sarana pembuktian bahwa cinta lelaki ini lebih besar daripada cinta pacar teman saya itu.

Teman saya ini memang bukan pemberi harapan palsu, tetapi, ia membuka pintu dan secara tidak langsung mungkin sedang menarik dirinya sendiri dalam pusaran. Teman saya tidak ingin berbuat jahat kepada lelaki itu dengan tidak membalas pesannya dan tidak ingin PHP, tetapi dengan karakter lelaki ini yang demikian, teman saya justru sebenarnya sedang berbuat lebih jahat. Dengan meladeni terus obrolan dan ajakan lelaki ini, semakin lelaki ini memupuk rasa cintanya dan merasa bahwa teman saya juga mencintainya. “Kalau tidak cinta, kenapa dia masih mau bales BBM, masih mau telepon, dan masih mau ketemu?”, begitu yang ada di pikiran orang dengan tipe karakter seperti lelaki ini. Lelaki seperti ini hanya bisa menghentikan laju perasaannya jika tidak ada tanggapan dari si perempuan. Baru dia sadar bahwa si perempuan memang benar-benar tidak mencintainya.

Tetapi di sisi lain saya paham kenapa teman saya juga semacam tidak tegas kepada dirinya. Antara mau tetapi tidak mau, ingin tetapi tidak ingin. Rancu. Dan yang bikin miris, di luar sana banyak perempuan-perempuan yang tidak tegas terhadap perhatian salah sasaran dari seorang lelaki. Oh, berlaku juga sebaliknya. Sekarang juga banyak lelaki lemah yang tidak tegas terhadap perhatian salah sasaran dari seorang perempuan. Kenapa bisa nggak tegas sih? Yup, karena dia masih mendapatkan manfaat nih dari si lelaki ini: perhatian. Jadi semacam ban serep. Cadangan kalau pas pacarnya cuek. Tidak sadar bahwa dengan begitu lama-lama kamu membandingkan pasangan dengan selingkuhan. Selingkuhan selalu ada saat dibutuhkan. Iya lah, orang kamu yang sengaja nyari, jadi terlihat selalu ada.

Rasionalisasi yang sama juga terjadi pada sepasang mantan. (((sepasang))). Ada yang tetap menghubungi mantannya dan mengobrol menunjukkan perhatian basa-basi dengan dalih tidak mau memutus tali silaturahmi. Itu benar dan baik, jika, kondisinya kedua belah pihak sama-sama netral tidak ada harapan apapun (harapan balikan tentunya).
 Tetapi, jika salah satu pihak saja menyimpan harapan agar bisa balikan suatu hari nanti, berarti silaturahmi itu tidak murni. Di balik kegiatan silaturahmi itu tersimpan niat dan usaha mengambil hati kembali, bersikap sok-sok care siapa tahu suatu hari nanti si dia akan menyadari bahwa akulah yang lebih perhatian. Sungguh silaturahmi yang tidak sehat dan lebih pantas diakhiri saja silaturahminya.

Dan kenapa saya menuis ini? Karena hari ini adalah hari kartini! Wahai perempuan, come on, kamu bisa lebih peka dan mengerti apa yang sebenarnya lelaki mau.    

Antara Memberi dan Mendapatkan

Tujuan berhubungan itu apa si? Untuk memberi atau untuk mendapatkan?
Memberi dan mendapatkan dong! Yup, pada akhirnya memang seperti itu. Tapi sadarkah jika antara "memberi" dan "mendapatkan" itu berbeda makna? "mendapatkan" merupakan suatu hadiah dari apa yang sudah kita lakukan. Karena kita memberi lantas kita akan mendapatkan. Hukum kausalitas. Sebab-akibat.


Tujuan dan starting poin dalam membina hubungan menjadi penentu seberapa kualitas hubungan tersebut. Keinginan memberi berasal dari keinginan berbagi. Itu terjadi ketika kebutuhan cintamu dari lahir hingga dewasa sudah terpenuhi dari orang tua dan orang-orang sekitar, kamu punya cinta berlebih sehingga kamu ingin membagikannya kepada orang lain. Starting poin itu disebut mencintai untuk memberi.


Beda halnya dengan tujuan mencintai untuk mendapatkan cinta. Starting poinnya berarti kamu kekurangan cinta, kurang perhatian dari entah orang tua atau orang-orang di sekitarmu sehingga kamu mencari orang yang bisa memberikanmu cinta. Dengannya kamu merasa dicintai dan diperhatikan. Jadilah ketika orang itu dirasa kurang memberikan perhatian, kamu marah.
  
Jadi, kamu berada di starting poin mana?

Senin, 08 Februari 2016

Pleidoi yang Edan

Selasa, 9 Feb '16

"i'm sorry i wear hijab but i wear tight pants. i'm sorry i wear hijab but i use harsh words when i'm mad. i'm sorry i wear hijab but most of my friends are boys. i'm sorry i wear hijab but i do mistakes. i'm sorry i wear hijab but i want to be a loved by a man. i'm sorry i wear hijab but i don't cover my aurah properly. i'm sorry i wear hijab but sometimes i can't control myself. i'm sorry i'm just a normal human being. who never stop make mistakes. i am sorry."
Quote di atas marak sekali diposting di media sosial. Sebuah pernyataan apology, sekaligus pleidoi dari beberapa kaum. Entah terpengaruh sentimen pribadi atau memang seperti ini adanya, pleidoi semacam itu terasa sangat picisan bagi saya. Beberapa kalimat memang saya sepakat, tapi ada beberapa pernyataan yang menurut saya terlepas dari koridor dan tidak bisa dikaitkan. 

Bahwa berkata kasar, memiliki banyak teman laki-laki, masih sering berbuat kesalahan, memiliki keinginan untuk dicintai memang benar itu sifat manusia yang tak luput dari kesalahan. Akan tetapi sangat tidak masuk akal apabila hal-hal tersebut dikaitkan dengan jilbab. Sifat-sifat manusia tersebut bisa dilakukan siapapun, tidak melihat agama. Tapi jika sudah berbicara mengenai jilbab, itu sudah merujuk pada identitas agama tertentu. Lebih bagus memang ketika kita sudah mengenakan jilbab maka perilaku-perilaku tersebut diminimalisir.

Permasalahannya sekarang adalah, kita mau memaknai jilbab itu seperti hakekatnya jilbab ataukah hanya dimaknai sebagai fashion belaka? Masalah bagaimana kita mengenakan jilbab itu sudah terlepas dari perilaku manusia tempat salah tersebut.

Ketika seseorang memutuskan untuk mengenakan jilbab, semestinya ia sudah memahami mengenai aurat. Di kalimat "i'm sorry i wear hijab but i don't cover my aurah properly", sangat timpang menurut saya. Dan ini yang dijadikan kalimat sakti bagi orang-orang yang sebenarnya cuma memaknai jilbab sebagai fashion. Ketika berpergian/keluar rumah kadang pakai kadang tidak, masih suka memposting foto tanpa jilbab di sosial media, mengenakan jilbab tetapi lengan baju hanya 3/4 sehingga terlihat bagian auratnya. Jilbab yang diterangkan dalam Al-Qur'an bukanlah seperti itu. Dalam perkembangannya memang diinterpretasikan macam-macam, misalnya ada yang berpendapat bahwa model hijab jaman sekarang seperti pashmina dan kawan-kawannya itu tidak syar'i, ada pula yang berpendapat tidak apa-apa model pashmina seperti itu. Atau ada yang berpendapat jilbab motif itu tidak syar'i karena dapat memancing ketertarikan lawan jenis, ada pula yang membolehkan jilbab motif. Akan tetapi bahwa wanita memiliki kewajiban untuk menutup aurat itu saya pikir semuanya bersepakat. Dan yang disebut aurat adalah seluruh anggota badan kecuali muka dan telapak tangan. Sudah jelas bukan? Inilah yang kadang-kadang menjadikan saya lebih respect sama orang-orang yang tidak berjilbab.

Kecuali jika memang memaknai jilbab sebagai fashion belaka, sah-sah saja. Memang secara tren fashion terlihat lebih menarik, modis, dan elegan dengan misalnya lengan baju 3/4. Tapi tolong, atas namakan itu fashion, bukan melaksanakan perintah Tuhan. Karena Tuhan tidak pernah memerintahkan umat-Nya untuk melakukan sesuatu secara setengah-setengah, karena itu dekat dengan keragu-raguan.

Dari Abu Muhammad Al Hasan bin Ali bin Abi Thalib, cucu Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam dan kesayangannya dia berkata : Saya menghafal dari Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam (sabdanya): Tinggalkanlah apa yang meragukanmu kepada apa yang tidak meragukanmu.(Riwayat Turmuzi dan dia berkata: Haditsnya hasan shoheh).

Sungguh pleidoi yang lucu jika alih-alih memahami jilbab sebagaimana hakekatnya, orang mengkaitkan jilbab dengan sifat manusia yang tak luput dari kesalahan. Jika masih ragu-ragu dan belum yakin menjadikan jilbab sebagai identitasmu, lebih baik tidak usah dulu. Tidak harus berjilbab untuk bisa menjaga perkataan dan tingkah laku, bukan?



Nemu tulisan blog lain nih yang mengungkap dari sudut pandang lain, lebih bisa diterima daripada tulisan saya mungkin. Hehe -->  https://annisaihsani.wordpress.com/2010/08/13/perihal-lengan-baju/

Senin, 27 April 2015

Buanglah Sampah Ke Bawah Meja Anda

Senin, 27 April 2015

Budaya membuang sampah sembarangan ternyata belum juga terlepas dari masyarakat kita. Bahkan hal tersebut juga masih ditemukan membudaya di kalangan yang katanya mengaku akademisi. Kampus. Yep.

Ketika saya sedang melalangbuana ke kampus tetangga untuk mengerjakan laporan praktek kerja, saya duduk di balai-balai yang sengaja disediakan kampus untuk aktivitas mengerjakan tugas. Di balai-balai tersebut ada sekotak jajanan kecil yang disebut kantin kejujuran. Ya, ternyata budaya berjualan di kalangan mahasiswa tidak hanya terdapat di kampus saya saja. Just in case ada yang belum tahu apa itu kantin kejujuran, biar saya jelasin dulu. Kantin kejujuran adalah jenis usaha berjualan a la mahasiswa (lazimnya adalah berbentuk makanan) di mana penjualnya sengaja meninggalkan kotak dagangannya tersebut di suatu tempat tanpa penjagaan. Di kotak tersebut sudah diberi keterangan harga masing-masing item, dan pembeli pun membayar dengan meletakkan uang di kotak kecil sebelahnya. Begitu saja penjual mempercayakan dagangannya. Makanya disebut kantin kejujuran karena yang berbicara di sini adalah kejujuran dari pembeli untuk membayar makanan yang dibelinya sesuai dengan harga yang tercantum.

Nah, di balai-balai tempat saya "nemplok" tersebut ada beberapa mahasiswa yang juga berkutat dengan laptopnya masing-masing. Di antara mereka ada yang membeli jajanan kantin kejujuran tersebut. Selesai makan, plastik pembungkusnya langsung saja ia lempar ke bawah meja tanpa rasa bersalah, bahkan tanpa ia mengalihkan pandangannya dari layar laptop di hadapannya. Demi apa! Kalangan akademisi yang katanya sudah kenyang dicekoki tentang pentingnya menjaga kebersihan ternyata masih belum menjiwai makna kebersihan itu. Hah.

Ada lagi kemudian di antara mereka yang memakan jajan. Sampahnya memang dikumpulkan di dalam sebuah plastik kresek. Beberapa saat kemudian kresek sampah yang ia letakkan di atas meja itu mengundang koloni semut. Ia kemudian memindahkan kresek tersebut ke sudut kursi dan ketika ia beranjak pergi, kresek tersebut tidak sekalian dibawanya.

Okay. Miris rasanya hal tersebut masih ditemui pada mahasiswa. Mirisnya lagi, di sekitar balai-balai itu memang tidak tersedia tempat sampah. Yah, ironis memang. Jadi kepada siapa sebenarnya nyinyiran ini patut ditujukan?

Jumat, 23 Januari 2015

Boys vs Girls While in Problem





Haloo pria, kalau wanitamu sedang punya masalah, perlakukan ia sebagai wanita, bukan sebagaimana dirimu ingin diperlakukan

Haloo wanita, kalau priamu sedang punya masalah, perlakukan ia sebagai pria, bukan sebagaimana dirimu ingin diperlakukan





Jumat, 19 Desember 2014

Berawal dari Petualangan Sherina

Jum'at, 19 Desember 2014

Selamat ulang tahun Universitas Gadjah Mada. Sukses selalu ya, semoga semakin dapat mencetak lulusan-lulusan yang handal, cerdas, dan bermartabat :)

Karena ini hari ulang tahun UGM, saya menonton ulang film anak-anak Petualangan Sherina. Nah lho apa hubungannya? Adaa, bisa-bisa aja disambungin, percaya aja sik.

Mulanya saya nggak tahu kenapa tetiba kepengin banget nonton Petualangan Sherina. Jadilah saya nonton film itu untuk ke sekian puluh kalinya, sambil leyeh-leyeh siang hari panas-panas. Sumpah, nggak pernah bosen saya sama film satu ini. Sangat menginspirasi dan jujur menjadi tonggak impian saya dalam beberapa hal. Gilee sampai segitunyaa cobaa. Biar rada dramatis gitu aja sik.

Saya nonton film itu pertama kali sekitar akhir kelas 4 SD atau nggak awal kelas 5. Pokoknya pas masih baru-barunya itulah. Semua itu berkat bapak saya, big thanks to him :). Jadi ceritanya, beberapa waktu sebelumnya itu saya membaca liputannya di majalah Bobo. Pas baca, saya udah pengin nonton tapi apa daya bioskop di Purworejo udah habis kebakaran. Nah, secara kebetulan, bapak saya mendapat undangan menghadiri pertemuan kesenian di Jakarta, di mana setiap peserta akan mendapatkan CD film Petualangan Sherina gratis. Saya udah seneng banget gilak. Tapi karena suatu hal, bapak ndak jadi menghadiri. Bapak tahu saya kecewa, makanya untuk mengobati kekecewaan saya, bapak membelikan CD film Petualangan Sherina di Purworejo. Waktu itu harganya lebih mahal dibandingkan film-film yang lain, maklum, masih baru kan. Makanya thanks to him banget lah.

Semenjak nonton film itu, saya jadi terobsesi sama banyak hal. Tentu saja obsesi-obsesi itu datang dari alasan yang sangat-sangat sederhana dan lucu. Namanya juga anak kecil *innocent*. Obsesi yang paling ridiculous adalah saya jadi pengin kuliah di UNPAD hanya gegara saya pengin bisa sering-sering main ke kebun teh! Hahaha..konyol abis. Soalnya di film itu terlihat sangat menyenangkan di kebun teh dengan hembusan angin dan pemandangan yang menakjubkan

Itu mungkin kenapa hari ini saya pengin banget nonton petualangan sherina. Karena ternyata saya disesatkan oleh Allah kuliah di UGM. Disesatkan ke jalan yang benar. Tsaaah.
Dan akhirnya saya pun menginjakkan kaki ke perkebunan teh untuk pertama kalinya pas PKPP di Malang kemarin ini, tahun 2014. Thanks God.
Kebun Teh Lawang, Malang

Terus, saya juga jadi kepengin bisa main piano gara-gara salah satu adegan Sherina lagi nyanyi sambil main piano. Kayaknya keren gitu kalau bisa main alat musik, dan piano itu suaranya mendamaikan.




Terus, saya juga jadi terobsesi punya rumah yang atapnya bisa buat duduk-duduk. Saya jadi menyukai tempat-tempat tinggi di mana saya bisa melihat keluasan sekitar dan merasakan hembusan angin.
Dan itu baru terwujud (sebagian) saat kuliah. Kamar kos saya ada di lantai 2, yang depannya ada balkon. Jadi sampai sekarang saya sering duduk di balkon depan kamar, sekedar memandangi langit atau menikmati malam. Makanya saya betah kos di sini dari tahun 2008! hahaha. Atap perpus pusat UGM juga jadi tempat favorit, sayang, sekarang sudah ditutup untuk umum. So sad.

Teruus, saya jadi pengin punya lampu tidur yang dalemnya bisa gerak muter itu. Bagus banget bayangan yang kepantul ke dindingnya.
Tapi apa daya, saya aja takut gelap, gimana lampu itu bisa fungsi maksimal kan yah?

Terus saya juga jadi pengen berada di padang rumput yang luas dan ada danau di tengah-tengahnya. Sepertinya sangat nyaman dan mendamaikan duduk di sana


Terus bintang. Gara-gara waktu melarikan diri dari penculik, si Sherina dan si Sadam sembunyi di Boscha dan di sana Sadam nerangin tentang bintang, saya jadi suka ngeliat bintang.
Makanya dulu pas jaman SMA, waktu demen-demennya baca teenlit, saya sampai fotocopy novel tentang rasi bintang yang ada di perpustakaan sekolah! Nawaitu banget yah. Saya pun sejak kuliah jadi sering nongkrong di balkon sampai larut malam.

Terus yang ini rada susah dijangkau juga nih. Gara-gara liat behind the scene film di bagian credit tittle, saya dulu jadi pengin bisa bikin film. Asyik sepertinya. Itu dulu, keinginan jaman SD. hahha.


Teruus, saya juga sejak itu jadi sering mempertanyakan hal-hal yang ada di dunia ini, gara-gara lagu Lihat Lebih Dekat. "Mengapa bintang bersinar? Mengapa air mengalir? Mengapa dunia berputar? Lihat segalanya lebih dekaat.." Saya jadi mulai banyak pertanyaan-pertanyaan tentang hidup. Rada bermuatan filsafat sebenarnya begitu saya menyadari di kemudian harinya. Dulu kan memang saya sempat kepikiran pengin masuk jurusan filsafat, hard to believe memang :p

Saya dulu juga suka niruin kata-katanya Sherina. "Heh, pengecut, sini kalau berani!". Haha. Waktu itu saya bermusuhan dengan beberapa anak tetangga saya, sejak saya pertama kali pindah ke rumah itu. Nah, pernah pas papasan, mereka ngejek-ngejek dari kejauhan. Terus saya bilang aja ke mereka, persis seperti yang diucapkan Sherina ke Sadam itu. Njuk mereka diem setelah saya ngomong itu. Hahahaha.. so ridiculous.

Haaah..dunia anak-anak dunia meniru dan film memang sangat mempengaruhi kehidupan anak-anak. Bahkan mungkin terbawa hingga dewasa. Like I am. Hahaha

Senin, 15 Desember 2014

Anak Kecil VS Orang Dewasa dalam Hubungan









Hubungan Sedang Bermasalah? Going Through It!

sumber: google

Hidup itu nggak pernah lepas dari yang namanya masalah. Kalau kamu ngeluh kenapa selalu ada masalah, mending akhiri aja hidupmu. Termasuk dalam menjalani hubungan, masalah akan selalu datang serupa dua sisi mata uang.

Pernah denger yang namanya putus? Masih percaya dengan istilah putus baik-baik? Yang namanya putus itu jelas nggak dalam keadaan baik-baik, kalau baik ngapain putus gaes? Nah, sebab putus adalah adanya masalah di mana keduanya sudah tidak mau lagi berusaha menyelesaikan masalah itu. Dan pernah denger juga yang namanya berantem? Yup, hello..masih ada yang menganggap berantem dalam hubungan itu adalah hal yang buruk? Bangun woi, hal yang buruk itu justru ketika ada masalah tapi tidak diselesaikan!

Kebanyakan dari kita cenderung tidak menyukai emosi-emosi tertentu yang tidak menyenangkan seperti marah dan sedih. Menghindarinya dengan membuang jauh-jauh masalah, bukannya melalui masalah untuk kemudian bisa merasakan emosi positif. Makanya ada orang putus-nyambung tuh ya karena itu, ketika ada masalah, males menyelesaikan dan memilih untuk putus. Kalau udah sama-sama lupa sama masalahnya lalu minta balikan lagi. Begitu kena masalah lagi, putus lagi. Nyambung lagi. Udah muter-muter aja di situ. Masalahnya tetap ada, enggak dinegosiasikan sih.

Kalau kamu menjalin hubungan cuma mau seneng-senengnya aja, itu model pacaran anak abege labil. Jadi kalau kamu ngakunya udah kuliah dan masih seperti itu, balik ke jaman SMA aja deh ya. Kalau tujuanmu pacaran untuk nyari kebahagiaan, kamu tersesat. Karena ujungnya ya tadi itu, bakalan gampang putus-nyambung. Bayangkan kalau sampai suami-istri seperti itu, orang bisa menikah puluhan kali selama hidupnya. gilee.

Semakin bertambah usia harusnya kedewasaan juga meningkat. Sudah ngerti dan fasih dengan yang namanya negosiasi dalam konflik. Hubungan yang dewasa itu dapat menjadi sarana untuk belajar menghadapi masalah, belajar berkomunikasi, belajar berbagai emosi. Tuhan menciptakan banyak emosi lho, sayang banget kalau kamu cuma mau merasakan emosi positif aja tanpa mau merasakan yang pahit-pahitnya. Mau kecewa, mau marah, sedih, berdebat, lalui saja semua itu. Karena di situlah terjalin komunikasi dan saling memahami. Ketika salah satu merasa marah tapi tidak dikomunikasikan, tidak ada perbaikan ke arah yang lebih baik dalam hubungan itu.

Yang namanya hubungan itu terjadi di antara dua orang kan? Kalau marah, kecewa, dan sedih itu berakhir dengan perpisahan, berarti gagal, karena cuma mau merasakan emosi itu sendirian. Berproseslah bersama, melalui berbagai emosi itu bersama-sama, bukan sendiri-sendiri. Hubungan yang baik bukanlah yang selalu merasa nyaman dan bahagia bersama. Hubungan yang baik adalah hubungan yang mampu berproses bersama, going through it apapun yang akan ditemui selama hubungan itu. Memang nggak nyaman ketika merasakan emosi-emosi negatif itu. Tapi emosi-emosi itu pun nyata adanya di dunia ini, dan kita sebagai manusia harus bisa berdamai dengan mereka. Emosi-emosi negatif itu juga butuh diterima oleh kita sebagai manusia.

Kecuali memang kalau kalian terlibat hubungan yang tidak mungkin, seperti beda agama, restu orang tua, dan menjalin hubungan dengan istri/suami orang. Kalau ketiga hal itu aman, go ahead guys! Berproseslah!

Kamis, 11 Desember 2014

Supernova: Novelnya atau Filmnya nih?

Baru saja malam ini saya menonton premier Supernova di Jogja bersama dua orang sahabat karib. Jujur saya merating 5 untuk kategori film Indonesia yang bergenre serius. Saya mengenal Supernova seri pertama itu sejak SMP. Waktu itu bulik saya yang punya bukunya. Saat liburan sekolah dan saya menginap di rumah bulik, saya membaca Supernova: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh. Saya tidak membacanya hingga tuntas, hanya sampai halaman belasan atau nggak dua puluhan. Saya tidak paham dengan ceritanya, entahlah seingat saya sepertinya alurnya membingungkan. 

Saya tidak meminjam buku itu dari bulik. Pun dengan Supernova seri setelah setelahnya yang selalu dikoleksi oleh bulik, saya tidak kepikiran untuk mencoba membaca ulang. Sampai Dee menerbitkan Recto Verso pada saat saya kuliah semester 1, itulah pertama kalinya saya membaca karya Dee secara utuh. Dan saya suka. Sampai kemudiannya Dee menerbitkan Perahu Kertas, saya pun baca. Dan saya tidak suka. Ah, perahu kertas terlalu picisan. Recto Verso masih menempati urutan pertama dari karya Dee. Oh ya, membaca Filosofi Kopi pun saya tidak begitu mendapatkan feelnya. 

Tapi saya masih belum melirik seri Supernova. Entahlah, dalam angan-angan saya, Supernova terlalu sulit untuk dijangkau pemahamannya. Saat semua lini masa memperbincangkan pembuatan film Supernova, saya pun sambil lalu saja. Sampai seorang kawan karib mengajak saya untuk menonton premiernya Supernova. Saya mengiyakan, kebetulan saya sedang selo. Awalnya saya merasa biasa aja, tidak terlalu berekspektasi dengan film itu. Tapi pada saat menonton, perlahan saya terpukau. Baru kali ini saya benar-benar menikmati film Indonesia dewasa dari segi content cerita sekaligus penggarapannya. Dan saya baru tersadar. Ini film nyikologis, beneran. Maknanya sangat dalam. Pun sangat realistis, tidak seperti film Indonesia kebanyakan yang utopis atau idealis. Tetiba saja saya jadi merutuki diri, kenapa enggak dari dulu pas SMP itu saya melanjutkan membaca? Ke mana aja saya ini! 

Film ini bisa dipahami, tidak begitu rumit. Ini saya jadi merasa Supernova efeknya berkebalikan dengan harry potter bagi saya. Di Harry Potter, saya lebih dulu menonton filmnya. Saya nggak paham. Ketika saya kemudian membaca novelnya saat SMA (bayangkan, Harry Potter yang muncul sejak saya kelas 6 SD, saya baru membacanya saat kelas X!), baru saya pahami cerita Harry Potter itu. Tapi Supernova ini, saya paham menonton filmnya, justru nggak paham dengan novelnya. Rancu juga si sebenarnya. Saya tidak bisa memastikan. Apakah filmnya lebih mudah dipahami dibandingkan novelnya, atau sebenarnya ketidakpahaman saya dengan novelnya itu simply karena saya masih terlalu muda saat membacanya dulu? Entahlah. Yang jelas, saya akui, penggarapan film ini keren. Pergolakan-pergolakan batinnya sangat kental. Saya kok merasa penggarapan film ini membuka cakrawala baru di dunia perfilman Indonesia, berbeda dengan film-film Indonesia yang lain yang menurut saya kurang greget nggarapnya. Atau saya aja yang selama ini kurang menjelajah film-film Indonesia? Haha.  Penggarapan film seperti ini mengingatkan saya akan penggarapan film Flipped, banyak melibatkan lintasan-lintasan pikiran tokohnya. Dan saya suka model penuturan film yang semacam itu, makanya saya bilang keren :-p. 

Tapi penilaian saya tentang penggarapan filmnya jangan cepat dipercaya juga karena nggak fair. Kalau ditanya perbandingannya dengan novelnya, saya jelas nggak bisa jawab sekarang kan. Biasanya nih sejauh ini, film Indonesia adaptasi dari novel, di mana novelnya sudah saya baca sebelumnya, saya akan kecewa dengan filmnya. Lebih bagus novelnya. Jauh. Tapi sekarang, film Supernova ini, bisa jadi bagi saya penggarapannya sangat memukau tapi bagi orang yang sudah membaca novelnya ia akan kecewa. Sangat mungkin terjadi, bukan? Bagaimana denganmu?  



Selasa, 18 November 2014

Surat Kecil untuk Tuhan

Selasa, 18 November 2014

Tuhan, aku ini sombong ya. Aku berlagak jadi seseorang yang kuat. Dan hampir satu bulan ini kesombonganku meningkat. Maafkan aku, Tuhan. Aku berusaha melakukan apapun agar menjadi kuat, hanya karena aku tidak suka menjadi lemah Tapi aku lupa, Tuhan. Kuasa itu hanyalah milikMu. Dan selama hampir satu bulan ini aku terlalu naif untuk mengatakan bahwa diriku lemah.

Aku sombong berlagak bahwa aku baik-baik saja dengan masalah ini, selama hampir satu bulan ini, padahal sebenarnya tidak. Aku pun sombong berlagak bahwa aku pasti bisa menolong seseorang di sini, di tempat ini dengan segala lika-liku hidupnya yang penuh bopeng luka mungkin. Padahal, bahkan yang berwenang di tempat ini pun masih merasa belum bisa banyak menolongnya selama satu tahun bersamanya.    

"Iyyaaka na'budu wa iyyaaaka nasta'iin". Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan. Pada kalimat itu aku terhenti. Sungguh. Benteng pertahananku lebur. Engkau tengah menyapaku, Tuhan. Hey Swarin, It's okay to see that you're not strong enough to face it alone.     

Memang ya Tuhan, ketika sudah berusaha dan belum membuahkan hasil, kadang-kadang kita hanya perlu menunggu. Karena bagi sebagian orang, Tuhan ingin menunjukkan hidayahNya secara langsung, bukan lewat perantara orang lain. Tuhan ingin memeluknya langsung, karena itulah yang paling mereka butuhkan.

Maafkan aku, Tuhan. 


Sabtu, 01 November 2014

The Thrilling Mr. L

Masih ingat cerita saya yang lalu di bangsal M RSJ Lawang? Saya sempat menyinggung ada pasien yang tangannya diiket karena dalam sejarahnya pernah membunuh dua temannya (baca di sini).

Nah, saya pribadi pernah punya pengalaman yang agak-agak mencekam dengannya. Hari itu dipenghujung minggu di minggu pertama. Beberapa teman ada yang menggunakan weekend untuk main ke Malang kota, ada yang ke Surabaya, ada yang acara keluarga. Tinggal berenam yang stay di RSJ. Saya sendiri sudah kadung membuat janji dengan klien untuk tes inteligensi. Jadilah saya ke bangsal berdua bersama icha, dia juga mau melanjutkan ngetes. Tapi karena icha belum membuat janji, kliennya sedang ngeluyur entah ke mana padahal dia akan ada acara keluarga. Jadi icha mengcancel ngetesnya. Saya ditinggal sendirian di bangsal.

Saya ngetes di ruang makan. Di tengah-tengah saya ngetes, tetiba masuklah Pak L (yang tangannya diiket) ke ruang makan. Dia memang sering tidur di situ sih, tapi tadi karena ruang makan kosong jadi saya menggunakannya. Pas dia masuk saya yang agak-agak nge-freeze. Duh Gusti, semoga dia tidak kenapa-kenapa. Karena selama seminggu itu, saya sempat beberapa kali tidak sengaja bersitatap dengannya dan tatapannya sangat menusuk. Persis seperti tatapan mata tokoh film thriller yang berperan sebagai psikopatnya. Saya sampai merinding. Kadang-kadang saya juga memergokinya sedang berbicara sendiri.

Balik ke pas saya ngetes, Pak L masuk dengan kursinya. Dia kemudian duduk di kursinya menghadap saya di arah jam satu dari posisi saya. Klien saya ada persis di depan saya. Saya berusaha tenang dan tetap fokus ngetes. Sampai tiba-tiba saya mendengar dia berbicara. Reflek saya tengok dia. Ternyata dia tengah menatap persis mata saya, sambil berbicara -entah apa- dan tertawa-tawa. Tuhaan, keluarkan aku dari sinii, ratapku.

Cepat-cepat saya kembali berusaha fokus. Selanjutnya saya tidak menengok ke dia lagi. Saya biarkan dia yang masih menatap ke arah saya, berbicara entah apa, dan tertawa dingin. Hanya sesekali saja dari sudut mata saya tetap mengawasi dia, kalau-kalau ada pergerakan mendadak yang sekiranya membahayakan, saya bisa siap. Helloo, hanya saya yang normal di ruangan ini. Semua kemungkinan buruk bisa saja terjadi. Saya sadar sih kemungkinan besarnya, Pak L ini sedang berbicara dengan halusinasinya. Bagi saya dan orang lain yang melihat, arah matanya memang ke arah saya tapi saya yakin dia tidak sedang mengajak saya bicara. Dia sedang berbicara dengan halusinasinya yang mungkin ada di arah sejajar dengan saya. That's it. Itu cukup melegakan.

Di tengah situasi mendebarkan seperti itu, tetiba dari arah pintu muncullah Mbah M. Masih ingat cerita tentang Mbah M? Kalau lupa, baca lagi. Saya dan klien saya nggodain Mbah M dulu. Beliau merenges dan mendekati kami. Saya menyuruhnya duduk. Beliau pun menurut, duduk di kursi sebelah saya persis. Saya melanjutkan ngetes. Mbah M semacam menyimak kami yang mungkin dalam benak Mbah M kami sedang belajar. Oh well, meskipun tatapan matanya kosong tapi beliau melihat saya dan klien saya secara bergantian dan terlihat memperhatikan alat tes yang saya bawa. Who knows? bukan berarti dia tidak bisa membenak, bukan?

Keberadaan Mbah M seketika membuat saya jauh lebih tenang. Entah ya, saya tahu ini terdengar konyol. Mbah M dan klien saya sama-sama menderita gangguan jiwa, lantas saya mengharapkan mereka berdua bisa menjaga dan melindungi saya dari kengerian Pak L? Oke, fine, saya mungkin sudah gangguan juga. haha. Tapi that's it. Saya merasa aman. Dan Alhamdulillah saya berhasil selamat sampai selesai tak kurang suatu apapun dengan sentausa adil dan makmur. Halah. Belum selesai semuanya sih, masih ada beberapa sub tes yang belum dan sengaja saya jeda biar tidak terlalu lelah. Orang normal saja lelah lho mengerjakan tes itu dalam satu waktu sekaligus.

Ternyata teman sekelompok saya, Vincent, juga mengalami hal yang sama. Ba'da maghrib di hari itu juga, saya melanjutkan ngetes. Kali ini bareng dengan Vincent yang juga melakukan tes yang sama. Malam itu saya tidak berani di ruang makan. Yang bikin saya takut saat itu bukan Pak L tapi justru karena sudah malam dan ruangan tersebut kan luas jadi serem aja kalau di situ berdua doang, bangunan belanda pulak kan. Saya melanjutkan tes di meja kerja mahasiswa. Vincent memilih untuk di ruang makan. Saya selesai lebih cepat. Iya lah, cuma tinggal beberapa subtest sedangkan Vincent dari awal banget. Sambil menunggu Vincent, saya ngobrol-ngobrol dengan perawat bangsal yang sedang jaga.

Setelah selesai, dalam perjalanan balik asrama, Vincent bercerita kalau dia ngetesnya cepet-cepet langsung nggak disambi ngobrol atau istirahat sebentar. Tahu kenapa? Yup, ditungguin Pak L! Gilaa serem abiis. Aku masih untung pas kejadian itu siang hari dan ada Mbah M yang turut menemani. Lha ini Vincent hanya bertiga di ruang makan itu, malam hari pulak. Makanya Vincent langsung set-set-set, keburu takut duluan. Tapi Alhamdulillah bener, kami semua selamat dari bahaya Pak L. Lha serem eh, menurut cerita perawatnya, kejadian dia ngebunuh dua temennya itu juga malam hari pas udah pada tidur. Dipukul kepalanya sampai hancur *ngelusdada*

Sebenarnya sih kalau sekarang udah nggak bahaya-bahaya banget karena toh sudah mendapat perawatan. Buktinya selama kami berinteraksi dengannya baik-baik saja. Yaa meskipun kami tidak ada yang berani menatapnya lama-lama karena ya itu tatapan Pak L sangat dingin.

Tapi saya pernah sekali melihat Pak L tertawa, tapi tawa yang berbeda dengan biasanya dia. Tawa kali itu beneran tertawa senang bukan menyeringai. Ceritanya, waktu itu sore, sudah selesai makan sore sekitar jam setengah 5. Klien kami berempat dan beberapa pasien lain mengajak kami berempat jalan-jalan. Keluarlah kami dari bangsal, berjalan-jalan di sekitar. Saya memang dari awal melihat Pak L ikut, tapi saya biarkan. Tidak apa-apa, Insya Allah aman karena toh ini berbanyak juga jalan-jalannya, pikir saya. Setelah sekitar 10 menit atau seperempat jam, salah satu klien kami baru sadar kalau Pak L ikut. "Waa, kecolongan ki. L kok melu? Ayo, mbalek, mbalek," katanya. Kami semua tertawa. Barulah saya tahu kalau Pak L ini boleh berjalan-jalan tapi di di dalam bangsal. Tidak boleh keluar dari bangsal. Dan sore itu, kecolongan Pak L ikut kami jalan-jalan ke luar. mendengar seloroh teman-temannya, Pak L ini ikut tertawa. Tapi merengesnya itu terlihat merenges beneran, bukan menyeringai dingin seperti biasanya. Dia senang karena kecolongan bisa berjalan-jalan ke luar. Pastinya lak yo bosen to kalau setiap hari pemandangan yang dilihat cuma bangsalnya saja.

Saat itu saya melihat Pak L tidak semengerikan kelihatannya. Dia tidak marah ketika teman-temannya mencandainya pas kecolongan itu. Mungkin pas itu juga suasana hatinya lagi seneng juga kali ya karena akhirnya berhasil berjalan-jalan ke luar makanya nggak marah. Hahaha.

Jumat, 31 Oktober 2014

Bangsal Kedua: Another Amazing Ward

Ini merupakan cerita lanjutan dari cerita pertama. Klik saja sini kalau mau baca. Masuk minggu kedua di RSJ, kami pindah bangsal. Bangsal untuk kelompok 4 adalah bangsal G. Yes, ini letaknya lebih dekat dengan asrama. Hari-hari pertama di sana, saya bingung screening pasiennya. Memang sih di sini pasiennya lebih banyak, tapi yang rumahnya searah dengan klien saya yang di bangsal M hanya ada satu. Itu pun setelah saya tanya perawat, dia masih ada di ruangan dalam (yang dikunci). Sah-sah saja sih sebenarnya kita pakai pasien di ruang dalam, kalau mau asesmen tinggal kita keluarkan aja sebentar, para perawat memperbolehkan kami memegang kuncinya. Nah, setelah saya keluarkan dan mengobrol sebentar dengannya ternyata memang masih rada susah masuk. Dia belum mendapatkan insight mengapa dia bisa dibawa ke sini. Dia pun menolak untuk bercerita ada peristiwa apa sesaat sebelum dia dibawa ke sini. Dia mengaku semuanya baik-baik saja, dia anak baik dan tidak tahu kenapa di sini. Ekspresinya pun masih menunjukkan ekspresi keras dan marah. Akhirnya saya pun mencoba mencari pasien yang lain.

Atas saran dari teman-teman, akhirnya saya mencari yang rumahnya Malang, yang deket-deket sama RSJ biar waktuku nggak terbuang di jalan pas PHN. Karena kan klienku yang pertama sudah menghabiskan waktu 8 jam perjalanan kalau PHN, sudah mendekati perbatasan jawa timur dengan jawa tengah. Di hari ketiga, saya akhirnya menemukan klien. Akhirnya kumenemukanmu.

Bangsal G ini lebih luas ruangannya, dan lebih banyak kapasitas pasiennya. Jika di Bangsal M ruang luar pasien jadi satu dengan meja kerja mahasiswa, di bangsal G ini, meja kerja mahasiswa terletak di ruang tengah yang digunakan untuk ruang makan dan menonton video. Oh ya, di Bangsal G ini televisinya sering dinyalakan. Biasanya nyalain video ndangdut koplo, atau nggak kadang-kadang playlistnya lagu anak muda macam Naff, Padi, dll. Terus pasien-pasien itu juga diperbolehkan untuk karaokean. Bangsal G ini juga punya mainan catur dan gitar.

Bangsal G punya halaman yang luas dengan kursi-kursi yang membentuk letter L di bawah pohon. Beberapa pasien yang masih terjaga di siang hari (banyak pasien pada siang hari tidur karena pengaruh obat) sering menghabiskan waktunya duduk-duduk di bangku itu. Kadang-kadang bermain catur dengan temannya, kadang-kadang bermain gitar dan menyanyi bersama, atau ada juga yang sekedar duduk menikmati rokoknya dan semilir angin. Nyaman sekali memang duduk di sana. Klien saya sendiri sepertinya menjadikan tempat tersebut sebagai tempat favoritnya karena setiap kali asesmen, dia minta di sana bahkan ketika dilakukan tes psikologi. Nggak jarang pula pasien dari bangsal-bangsal lain main berkunjung ke bangsal G dan duduk ngobrol/main bersama pasien bangsal G di bangku bawah pohon itu.

Perbedaan sangat kentara antara bangsal M dan bangsal G. Jika bangsal M hiburannya terbatas, bangsal G banyak terdapat hiburan dan permainan yang bisa digunakan pasien sebagai pengusir rasa bosan. Jika di bangsal M hubungan antar pasien terlihat dekat, di bangsal G tidak begitu terlihat adanya kedekatan personal.

Awal-awal di bangsal G kami berempat sempat kaget dan jetlag. Pasien-pasien itu tampak seperti robot, terutama pada saat jam makan. Pada jam makan, mereka harus makan di meja makan duduk berjajar dan berhadapan. Mereka makan dalam diam dan tidak ada obrolan di antara mereka. Setelah semuanya selesai makan, kursi dilipat dan dinaikkan ke atas meja. Kemudian beberapa ada yang mencuci piring, beberapa mengambil sapu, dan beberapa yang lain mengambil pel. Cara mereka menyapu dan mengepel adalah depan belakang. Jadi sebenarnya pekerjaan orang yang belakang sia-sia karena diinjak lagi oleh teman yang ngepel di depannya. Cara yang menurut logikanya aneh. Mereka pun menyapu dan mengepel dalam diam tidak saling mengobrol. Persis seperti robot. Diam, jarang ada interaksi, apalagi gegojegan, sama temennya. Pun jarang interaksi dengan perawatnya. Sedih ngeliatnya.

Beda lho sama di bangsal M. Cara makan mereka lebih sembarangan jika dibandingkan dengan bangsal G. Di bangsal M, meskipun ada ruang makan, tapi mereka lebih suka makan lesehan. Bahkan kadang-kadang mereka makan sambil jongkok. Terus suasana saat makan juga ramai karena di antara mereka kadang saling mengolok atau becanda dengan perawat bangsal. Entahlah, saya sedang tidak membicarakan tentang baik-buruk. Baik yang terjadi di bangsal M maupun bangsal G, kalau dipikir sisi positifnya semuanya ada dan kalau dipikir sisi negatifnya, semuanya juga ada. Di bangsal M lebih jorok dan berantakan tapi mereka lebih natural dan menjadi diri mereka sendiri. Di bangsal G lebih rapi dan tertata, tapi mereka terlihat seperti robot. Yah, bukankah semuanya itu abu-abu?

Ketika saya memutuskan untuk lebih fokus pada klien saya yang di bangsal G, saya lebih sering nongkrong di bangsal G dibandingkan dengan teman-teman yang lain yang fokus di bangsal M. Di akhir minggu kedua dan sampai minggu ketiga, saya sering ke bangsal G sendirian karena selain yang lain ke bangsal M, mereka juga mulai PHN ke rumah klien selama beberapa hari. Di satu sisi saya kadang kesepian (tapi untungnya ada ners muda yang praktek juga sih jadi ndak sendirian-sendirian amat, mhihi). Tapi di sisi lain saya jadi mulai dekat juga dengan pasien-pasien yang lain. Saya diajak tanding catur sama main dam-daman. Tentu saja saya selalu kalah karena saya nggak mahir catur. Mereka banyak yang jago catur ternyata, hebaat. Sebenernya sih saya ada unsur mengalah, maksudnya biar menaikkan harga diri pasien sih. Hahaha kamuflase sok hero. Yang saya nggak kalah sama mereka ya cuma gitar, sampai ada yang minta ajarin. Huooo hokee, padahal saya juga jauh dari kata bisa, cuma tau accord pokok dan asal genjreng aja *naikin kerah dikit*.

Di saat sudah bosan sendiri dalam cinta, syukurlah di akhir-akhir akhirnya Mbak Ria juga beralih fokus ke kliennya di bangsal G sehingga jadi ada temennya.

Sama seperti di bangsal M, pasien-pasien di bangsal G juga menyapa saat papasan di jalan. Ada yang menyapa dengan sumringah setiap berpapasan dengan saya di jalan. Dia ini juga biasanya saya becandain karena nggak bisa lepas dari kacamata gelapnya, udah macem sok cool aja dia. Ada juga yang sebenernya rada-rada serem. Dia ini pasien yang saya ceritain di awal tadi, yang ada di ruang dalam. Saya hanya sekali mengobrol dengannya dan jarang bersama karena dia ada di ruang dalam. Tapi sampai akhir, dia masih ingat nama saya. Bahkan pernah suatu pagi, entah karena apa, tangannya diiket di tiang. Terus ketika melihat saya datang, dia memanggil-manggil nama saya meminta tolong untuk melepas ikatannya. Omaigot serem juga. Di waktu-waktu tertentu ada kalanya memang pasien yang di ruang dalam itu dikeluarkan. Nah, kalau melihat dia di luar, saya sering sengaja menghindarinya. Tatapan matanya menusuk dan tanpa berkedip. Piye ra serem hayoloh!

Tapi overall, semuanya menyenangkan. Di bangsal M saya seneng karena dengan mereka bisa gojeg sakpole dan mendengarkan mereka saling membully pun membuat kami tertawa. Di bangsal G, meskipun tidak ada gojeg tapi seru banget pas main sama mereka, main catur, dam-daman, gitar, atau mendengarkan mereka berkaraoke ria. Lama-lama kok saya merasa mereka normal dan waras, tidak ada yang sakit di sini. Atau sebenarnya diam-diam saya mulai tertular oleh mereka? Hahahaha

Kamis, 30 Oktober 2014

Bandara, Jarak, dan Imaji

Setiap kali aku menyengajakan naik transjogja dan berdiam agak lama di halte bandara adisutjipto, aku mambiarkan imajiku meraja. Aku membayangkan nya yang ada di indonesia tengah mendekati timur, atau nya yang ada di negeri harry potter datang. Aku menyambut kepulangan nya dan nya dengan senyum termanis.

Imaji memang raja dari segala raja. Aku sangat tahu dengan pasti bahwa nya dan nya sama sekali tidak ada yang mengenalku. Aku pun mengenal nya dan nya hanya dari linimasa. Atau satu nya lagi yang juga berada di indonesia tengah mendekati timur, ia datang dari masa lalu.

Tapi aku menyukai sensasi ketika menunggu kedatangan orang yang mendera jarak dan terhubungkan oleh bandara. Menyambut kedatangannya yang merangkum semua emosi. Letup letupnya begitu buncah, begitu pekat, begitu manis.

Imaji memang raja dari semua raja. Aku punya buncahan rasa itu hanya dengan sedikit menjeda waktuku duduk di bangku tunggu halte transjogja di bandara adisutjipto. Imaji meraja dan selayak candu.


*Dalam transjogja, mengikut saja ke mana berputar. Jumat siang, hari halloween di tahun 2014*

Rabu, 29 Oktober 2014

Bangsal Pertama: Amazing Ward

Kemarin saya bercerita bagaimana selama satu bulan saya berinteraksi bersama ODS (orang dengan skizofrenia) membuka pintu persepsi saya tentang mereka.

Skenario Tuhan memang udah fit perfectly banget. Dari awal, Tuhan kasih masuk saya di bangsal yang berisi pasien-pasien kocak. Dan Alhamdulillah nya, saya juga dikasih kelompok kerja yang santai tidak terlalu mikir ribet. Yah, resonansi juga kali ya. Saya yang nggak suka terlalu mikir ribet juga bergabung dengan orang-orang seperti itu. Ada lho yang hampir semua anggota kelompoknya adalah orang-orang perfectionist, bikin stress aja. Haha.

Balik ke bangsal. Kami dijatah 2 bangsal per kelompok. Karena waktu kami hanya 4 minggu maka pembagiannya adalah satu minggu di bangsal pertama, minggu kedua pindah bangsal, minggu ketiga intervensi dan PHN (home visit), dan minggu terakhir untuk pembuatan laporan dan ujian.

Minggu pertama jatah kelompok 4 (Vincent, Mbak Ria, Icha, dan saya) di bangsal M. Bangsal laki-laki. Yang kami ambil sebagai klien adalah pasien yang sudah di bed luar. Jadi setiap bangsal, tempat pasien dibagi dua ruangan. Pertama ruangan dalam yang dikunci dan mereka hanya dikeluarkan ketika makan. Mereka ini pasien yang masih labil. Sedangkan ruangan luar pasiennya sudah kooperatif, boleh berjalan-jalan ke luar dengan batas jam malam adalah jam 9. Di bangsal M ini interaksi di antara para pasiennya baik. Mereka suka gojeg, bahkan dengan para perawat bangsal.

Seiring membangun kedekatan dengan mereka (karena meskipun sudah tidak stay di bangsal itu, kami masih sering bolak-balik ke bangsal untuk melanjutkan asesmen dan intervensi), para pasien yang ada di bangsal bagian luar itu sering terlihat bergerombol dan bersama-sama. Kami sering berpapasan di jalan kemudian saling sapa dan mengobrol.

Beberapa kali, mereka datang ke asrama cewek dan memanggil-manggil nama kami bertiga. Persis seperti anak kecil yang mengajak temannya bermain. Mereka pun pernah mengawal saya dan teman-teman saya untuk pergi ke instalasi gizi (ruang makan mahasiswa) pada malam hari. Atau mereka yang sengaja nongkrong di depan instalasi gizi pada jam makan mahasiswa hanya untuk bertemu dan mengobrol bersama kami. So sweet.. Di satu sisi mengharukan, tapi di sisi lain juga mengkhawatirkan. Saya dan teman saya sampai hampir takut jika terlalu attach dengan mereka dan sulit untuk dettach ketika sudah selesai nantinya. Ketika seorang klien sulit untuk dettach dengan psikolognya, berarti psikolog tersebut gagal.

Dari empat kelompok, hanya klien-klien kelompok 4 lah yang sampai segitunya. Kami bertiga pernah sampai sengaja mengabaikan ketika mereka memanggil dari luar asrama. Bilang aja lagi tidur atau lagi pergi, demi biar mereka tidak terlalu bergantung dengan kami karena kalau mereka bergantung, berarti kami gagal. Tapi syukurlah lambat laun mereka bisa lepas. Meskipun masih kadang-kadang nongkrong di depan asrama, tetapi tidak seintens sebelumnya.

Di bangsal M ada seorang pasien inventaris, Mbah D. Beliau sudah sepuh dan sudah 30sekian tahun menghuni bangsal itu. Sudah tidak punya keluarga sehingga dibiarkan ada di sana karena keberadaannya di sana juga membantu. Beliau sudah selama kurang lebih 3 tahun ini berhenti minum obat dan tidak pernah kambuh. Hebaat! Di bangsal M, beliau bisa dibilang asisten perawat. Beliau lah yang membantu perawat-perawat mengurusi para pasien, termasuk membagikan minuman dan makanan tambahan dari dapur. Kalau ada yang ngeyel, akan dibentak dan dimarahi oleh beliau. Beliau pula lah yang bertugas mengantarkan buku laporan harian pasien ke kantor. Bahkan beliau hafal semua kunci pintu dan gembok yang digunakan di bangsal M. Supeer, benar-benar asisten tanpa tanda jasa.

Ada satu cerita lucu tentang Mbah D yang kami dapatkan dari perawat. Suatu ketika dulu, Mbah D pernah dipindahkan ke bangsal lansia. Baru beberapa hari di sana, Mbah D demam. Ternyata Mbah D tidak betah ada di bangsal itu. Mbah D sudah terlalu nyaman dengan bangsal M. Bisa disebut bangsal M lah rumah Mbah D. Beliau lebih merasa berharga di bangsal ini. Hahahaha.

Selain Mbah D, ada juga yang lansia, namanya Mbah M. Mbah M ini jalannya ngesot dan sedang dibiasakan untuk belajar berdiri dan berjalan dengan kakinya. Mbah M ini tidak kooperatif tapi tidak membahayakan orang lain. Malah sering dijadikan bahan gojek dan mainan bagi teman-teman, perawat, dan mahasiswa praktek. Jahat sih sebenarnya, tapi lucu dan bully'an kami hanya bersifat gojeg kok, percayalah.

Mbah M ini pronounsationnya sudah nggak jelas. Misal mengatakan "jaluk duwite" dipangkas sama beliau menjadi "luk wite". Kami suka bermain-main dengan Mbah M. Mbah M mau melakukan yang diperintahkan, biasanya gerakan menembak, disuruh berdiri, dan macak ganteng. Nah, kalau dia sudah merasa melakukan apa yang kami perintahkan, dia minta uang atau minta rokok. Kalau kita tidak memberi atau kita tinggal pergi, Mbah M akan memasang ekspresi depresi (yang biasanya melongo kosong), memukulkan tangannya ke kepala sembari mengeluh "waa yok opo iki?!". Sumfah Mbah, njenengan tren gahol seantero bangsal. Sehari nggak ngegodain Mbah M rasanya nggak afdol. hahaha *ketawa devil*

Ada juga yang tangannya diiket ke kursi gegara pernah ngebunuh dua temennya. Ada yang suka menclok di pintu jeruji. Ada yang mengaku-ngaku menjadi teman sebelah bednya. Kasian sekali dia tidak mau mengakui namanya sendiri *geleng-geleng*

Ada pula skandal yang terjadi di antara para pasien. Jadi ada dua pasien yang hobinya duduk di depan pintu jeruji. Mereka berhadap-hadapan, saling mendekat, elus-elus, dan cium-cium. Cowok sama cowok. Oh my gosh area 17+ ini! tapi kami tertawa ngakak dibuatnya.

Di balik tingkah yang aneh dan kadang-kadang nggak nyambung, mereka bisa sangat memukau di saat-saat tertentu. Beberapa dari mereka taat beribadah, rajin sholat. Bahkan kami pernah melihat salah satu pasien yang mengaji bakda sholat maghrib.

Perawat bangsal pun sangat baik kepada kami maupun pasien. Mereka lebih menempatkan pasien tersebut sebagai teman, bukan seorang pesakitan. Amazing lah bertemu dengan orang-orang di bangsal M itu. Besok kita bahas orang-orang di bangsal G yang juga tak kalah amazing.

Lorong

Selasa, 28 Oktober 2014

"There Can Be Miracles When You Believe"

RSJ dr. Radjiman Wediodiningrat, Lawang, Malang


Satu bulan menakjubkan kemarin mengubah pandangan saya tentang rumah sakit jiwa. Selama ini meskipun saya sudah sejak tahun 2008 menggauli psikologi, saya masuk dalam golongan orang yang takut dengan kaum-kaum yang memiliki gangguan jiwa. Selama di S1 pun saya memilih untuk bagian psikologi orang normal kebanyakan saja. Tapi S2 ternyata berkata lain. Tuhan menginginkan saya menyentuh bagian abnormalitas manusia. Skenario Tuhan memang selalu menarik. Mungkin ini maksud Tuhan menempatkan saya kuliah S2 profesi klinis, salah satunya biar saya tidak antipati dengan orang-orang yang kejiwaannya kurang dari batas normal. Biar pandangan saya tentang mereka berubah.

Hari pertama kedua PKPP (Praktek Kerja Profesi Psikologi) di RSJ. dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang, Malang tak disangkal membuat bulu kuduk saya meremang. Tidak hanya karena mendapatkan cerita-cerita mistis di lingkungan rumah sakit, tapi juga takut kalau-kalau tetiba para pasien itu melakukan hal-hal yang membahayakan orang lain. Kalau ini film, genrenya adalah horror-thriller. Well, meskipun saya juga penggemar film thriller tapi kalau menghadapi situasinya secara langsung ngeri juga kali. Dan beberapa peraturan yang disarankan pihak rumah sakit untuk para mahasiswa praktek membuat saya nyaris tidak bisa membedakan itu berbicara masalah mistis atau thriller -__-. Misalnya saja, mahasiswa baik cewek maupun cowok, kalau sudah maghrib tidak boleh keluar sendirian. Tidak boleh ngalamun. Sebisa mungkin jangan membawa handphone di tangan kalau sedang keluar asrama. Begitu maghrib, cucian (bagi yang mencuci) dimasukkan ke dalam asrama. Dan peraturan lainnya. Kalau dibilang thriller, bener juga karena kalau kita keluar sendirian (apalagi bagi cewek), rawan untuk diganggu oleh pasien, termasuk ketika kita terlihat memegang handphone. Kalau dibilang horror pun juga ada kemungkinannya, mengingat banyak perawat bangsal yang kemudian mencetuskan isu horror tersebut kepada kami. Bahkan beberapa waktu lalu pihak yang menayangkan acara Uji Nyali di sebuah stasiun televisi itu ingin menjadikan RSJ ini sebagai setting acaranya akan tetapi tidak diperbolehkan oleh kepala RSJ. Okesip, saya insomnia abis di hari pertama kedua itu.

Tapi semuanya berubah sejak negara api menyerang. Ketika sudah berinteraksi dengan para pasien bangsal, saya mulai berani. Tidak seseram yang saya bayangkan sebelumnya. Saya membayangkan harus sangat berhati-hati saat ngobrol dengan pasien karena sewaktu-waktu pasien itu bisa kambuh. Tapi ternyata kita bisa mengobrol dengan mereka seperti kita ngobrol dengan orang biasa. Yaa memang kita berhati-hati, jangan sampai membuat mereka tersinggung atau membuka kembali hal yang menjadikan dia kambuh. Intinya, jangan sampai kita membuka dan kemudian tidak bisa menutupnya kembali. 

Dan yasudah, begitu saja. Hari-hari selanjutnya saya bersama teman-teman mendapatkan teman-teman baru. Setiap hari selaluu saja tertawa melihat tingkah mereka. Pun mereka suatu saat bisa sangat memukau kami. Atau kadang-kadang dibingungkan oleh cerita pengalaman mereka hidup di dunia yang mereka ciptakan sendiri. So interesting.

Di saat yang lain pun, saya menjadi mempertanyakan, sebenarnya siapakah yang lebih normal, kita atau mereka? Karena mereka di sini sangat berkembang, bisa beraktivitas, memiliki kehidupan yang teratur, dan teman-teman yang mendukung. Tapi ketika mereka sudah keluar dari rumah sakit (dinyatakan bisa rawat jalan), banyak yang hanya bertahan beberapa bulan atau beberapa minggu saja di rumah. Setelah itu mereka balik lagi ke rumah sakit karena kambuh. Why? Mereka sehat ketika di rumah sakit tapi sakit ketika kembali ke rumah. Why? Sungguh ironis. Tapi memang tidak semuanya seperti itu sih. Yang kemudian sembuh dan tidak balik lagi juga adaa.

Kami bertujuh belas dibagi dalam empat kelompok. Masing-masing kelompok mendapatkan jatah dua bangsal. Semakin lama kami bisa masuk kehidupan mereka, bisa dekat dengan mereka. Jika berpapasan di jalan, mereka menyapa kami dan memanggil nama kami, bahkan mereka yang bukan kami ambil sebagai klien. Atau kadang-kadang mereka bergerombol dan mengajak kami jalan-jalan di sore hari. Persis seperti seorang teman. Saya pun mulai menganggap mereka sama seperti orang-orang biasa.

Ketakutan saya terhadap mereka pun menghilang. Mereka juga sama seperti kita kok. Kalau kita memperlakukan mereka dengan baik, mereka juga akan baik sama kita. Hal yang rada mengerikan dari para pasien sih beberapa dari mereka ada yang suka ngegodain cewek-cewek gitu bahkan sampai ke pelecehan seksual. Ada yang ketika ketemu di jalan, tetiba dipepet sama pasien laki-laki tak dikenal, digodain atau dikasih bunga. Ada yang dikasih surat dan diajak menikah. Ada yang colek-colek, ada yang sok-sok'an mau memeluk, bahkan ada yang menunjukkan ketegangan *tiiit* nya pada kami. Hii, untung saya tidak ikut mengalami hal terakhir yang saya sebutkan itu. Teman saya yang mengalaminya saat ngobrol dengan pasien itu. Hanya itu saja kengeriannya, tidak sampai diteror atau dicelakai dikejar-kejar macam film thriller. No, not at all. Mereka jinak kok..jinak-jinak merpati.

Lepas dari semua tetek bengek kampus atau profesionalitas, berinteraksi dengan mereka selama sebulan kemarin membuat saya bersyukur. Saya, keluarga saya, dan siapapun yang membaca ini, meskipun ada saat-saat sulit dalam kehidupan, tapi kita masih diberi kesehatan jiwa. Tuhan masih menganugerahi kita kekuatan untuk melewati masa-masa sulit itu sehingga kita masih punya "diri sendiri". Mereka-mereka, para pasien itu, seperti layaknya badan tanpa jiwa. Mereka hidup tapi mati. Mereka kehilangan diri mereka sendiri. Sangat menyedihkan.

Tapi akan selalu ada harapan. Mereka tetap bisa melanjutkan hidup. Mereka tetap bisa meraih cita-cita. Seperti kata dosen kami "it's fine. Meskipun halusinasi dan waham atau apapun gangguannya itu masih ada, sepanjang dia tidak menyakiti diri sendiri dan orang lain, it's fine.". Seperti pula kata panitia saat lomba layang-layang untuk pasien dalam rangka memperingati hari kesehatan jiwa sedunia, "Dengan layang-layang, kita melihat langit seperti keluarga skizofrenia melihat harapan. Tidak mudah melayangkan layang-layang itu, seperti pula butuh perjuangan orang-orang dengan skizofrenia dan keluarganya dalam melihat harapan kesembuhan."

Yes, "there can be miracles when you believe", kata Mariah Carey.


Sabtu, 02 Agustus 2014

Lebaran Liburan

Stasiun Kutoarjo (01/08)
Minggu, 3 Agustus 2014

Lebaran sebagai tradisi identik dengan 4 hal: mudik, macet, semua harga naik, dan larisnya tempat wisata.

Mudik, jelas, bagi orang-orang rantau di seluruh penjuru nusantara, moment lebaran dirasa paling pas untuk pulang dan berkumpul dengan sanak family berkat adanya libur serentak nasional selama kurang lebih satu minggu. Dampak ke belakangnya jelas menimbulkan macet lalu lintas karena penduduk di ujung nusantara mana pun sebagian besar meluangkan waktunya untuk pulang ke kampung halaman pada moment lebaran ini. Yang namanya macet, yaa tahu sendiri lah, perjalanan yang harusnya bisa ditempuh dalam waktu 4 jam dalam kondisi normal misalnya, bisa jadi molor menjadi 6-8 jam tergantung tingkat keparahan macetnya. Mudik dan kemacetan nggak usah dibahas lebih lanjut lagi ya. Itu topik paling utama yang menghiasi berita-berita di media, jadi tahu sendiri lah ya kayak mana gambaran mudik dan macet itu.

Oke, daripada bosen ngebahas mudik dan macet, beralih saja lah ke isu nomor 3: Semua harga naik. Yang ini saya nggak tahu pasti apa sebabnya. Kalau mau agak intelektual sedikit sih, mungkin ini terkait dengan prinsip ekonomi, equilibrium antara penawaran dan permintaan. Jadi, musim lebaran kan banyak orang yang membeli-beli, entah baju entah bahan makanan atau apapun itu. Nah, banyaknya permintaan itu tidak seimbang dengan ketersediaan barang sehingga harganya dinaikkan agar bisa menjadi seimbang. Termasuk juga harga angkutan umum juga naik karena mobilitas orang di musim lebaran meningkat dari hari biasanya. Itu penjelasan dari segi yang sedikit ilmiah. Tapi si dulu waktu kecil saya sering, ungg entah dibohongin atau beneran, dibilang kalau harga-harga pada naik karena penjual-penjual itu butuh duit buat lebaran dan buat kasih wisit (uang saku) ke anak-anaknya. Okesip, abaikan alasan tidak masuk akal ini.

Dan di era lebaran bisa dipastikan tempat-tempat wisata penuh berjubel. Moment liburan (agak) panjang sering dimanfaatkan untuk berlibur ke tempat wisata bersama sanak family atau teman-teman lama. Masa-masa lebaran seperti ini ada dua jenis foto yang bertebaran di sosial media. Pertama foto keluarga besar, settingnya biasanya di suatu ruangan di sebuah rumah, atau bisa juga di beranda rumah. Yah pokoknya setting-setting yang mengindikasikan rumah atau kampung halaman. Kedua, foto yang bersetting di sebuah tempat wisata. Personilnya bisa keluarga, bisa juga teman-teman.

oke, bagian yang berkumpul bersama dengan keluarga itu bisa dibilang hukumnya fardhu ain. Tidak sama hukumnya dengan bagian pergi bertamasya di saat lebaran, bukan? Tetapi bagi sebagian besar orang, merasa tidak afdol jika tidak piknik di saat lebaran. How come? Saya rasa tidak ada alasan yang masuk akal untuk membenarkan hal itu. Tapi sepertinya hal itu sudah membudaya dalam masyarakat kita. Pembelaan apa sih yang sebenarnya digunakan? Coba nih, waktu lebaran otomatis harga tiket masuk tempat wisata memberlakukan edisi lebaran, which is lebih mahal dari biasanya. Belum perjalanan menuju destinasi wisata yang macetnya minta ampun bisa menghabiskan waktu di jalan dua kali lipat lebih banyak dari waktu tempuh normal. Belum lagi sudah sampai di tempat wisata, di sana penuh sesak. Mau menikmati apa?? Dan percaya tidak percaya, destinasi wisata terfavorit waktu lebaran adalah pantai! Nggak di kota kecil seperti daerah saya, nggak di kota besar seperti jogja, sama aja. Saya nggak paham kenapa -__-.

Daerah tempat tinggal simbah saya dekat dengan pesisir. Dulu waktu kecil tiap kali lebaran ke tempat simbah, selalu ditanya "wis maring segara po rung?" (udah main ke pantai belum?), seperti sudah mentradisi kalau lebaran itu ritualnya main ke pantai. Dulu waktu kecil sih memang saya dan saudara-saudara saya sering jalan-jalan waktu kumpul di rumah eyang. Tapi kebanyakan berdestinasi ke rumah kerabat yang mungkin jarang kontak seperti eyang buyut atau besannya eyang saya. Jarang ketika kemudian menuju ke tempat wisata.

Entah saya terkena doktrin dari orang tua atau dari budhe-budhe saya ataukah saya yang menarik kesimpulan sendiri bahwa sangat tidak asyik ketika berlibur ke tempat wisata di saat musim lebaran. Alasannya ya itu, tidak bisa menikmati tempat wisata, kalau di pantai misalnya, ya tidak bisa menikmati indah dan syahdunya suasana pantai, plus tarif masuknya lebih mahal. Kecuali kalau momentnya occasional banget. Misalnya benar-benar bisa bertemu teman-teman atau saudara itu hanya sekali setahun waktu lebaran itu, dan atau tempat yang akan dituju benar-benar hanya bisa dikunjungi waktu liburan panjang lebaran karena sangat jauh dari tempat tinggal. Tapi tren yang marak di masyarakat biasanya tidak dalam situasi yang exceptional seperti itu. Dari segi orangnya, sering bertemu, yaa minimal lebih dari sekali dalam setahun. Dari segi tempatnya, tempat tersebut bisa dikunjungi kapanpun dalam artian terjangkau jaraknya. Tapi kok ya masiih saja ngotot main ke sana waktu lebaran. Bisa toh kita ke tempat itu di lain kesempatan bersama orang-orang yang sama? Kenapa harus pas lebaran?

Ujung-ujungnya yang terjadi yaa macet lagi. Sesak lagi. Berjubel lagi. kemarin hari jumat, saya harus kembali ke perantauan karena tuntutan tugas. Kepadatan stasiun kutoarjo meningkat sekitar 5 kali lipat dari biasanya. Tidak hanya mereka-mereka yang memang harus kembali ke rantau, tetapi juga mereka-mereka yang meniatkan perjalanan mereka untuk piknik. Rata-rata ke jogja. Naik Prameks. Itulah juga mengapa penumpang prameks kepadatannya meningkat 3 kali lipat. Saya terpojok berdiri di sudut pintu, hanya bisa menggerakkan kaki seperempat langkah ke samping. Ke depan atau belakang pun tidak bisa. Sudah itu saja. Pun laju kereta jadi lebih pelan karena beban muatan yang berlebih. Yang biasanya hanya satu jam perjalanan kutoarjo-jogja, molor jadi hampir 2 jam perjalanan. 
Penuhnya penumpang prameks (01/08)

Turun di stasiun Tugu, langsung disambut pemandangan sesaknya sepanjang jalan malioboro. Huah, apa sih yang orang-orang nikmati di kerumuman itu? Saya saja selama hampir 6 tahun berada di Jogja, tidak pernah menjadikan malioboro sebagai tempat nongkrong saat malam minggu. Rame, bikin capek dan tua di jalan doang meen! Itu baru malem minggu yang setiap seminggu sekali ada. Bayangkan kalau pas musim liburan gini seperti apa padetnya. Malioboro baru terlihat pesonanya ketika dalam kondisi tidak terlalu ramai. Lebih bisa diresapi nuansa historis dan budayanya. Bayangin aja kamu belanja-belanji di malioboro yang penuh sesak gitu, bisa tuh milih-milih barangnya dengan tenang? Lagi asyik pilih-pilih udah disergap kerumuman orang-orang yang misuh karena kamu pilihnya kelamaan. Nggak asyik. Bandingkan dengan kamu nyari barang di malioboro saat suasana santai tidak terlalu riuh, kamu bisa kan pilih-pilih santai, kalau perlu sambil ngobrol ngalor ngidul dengan penjualnya kali aja dia kasih harga sangat miring khusus buat kamu berkat keramahanmu dengan beliau.
Ujung jalan malioboro. Diambil sembari menunggu taksi (01/08)

Satu lagi, kalau kamu doyan banget foto, ini juga perlu dipertimbangkan. Di saat yang penuh sesak, background fotomu adalah kerumunan orang. Kadang-kadang malah ada orang yang jahil asal timbrung di belakang kamu. Rese. Belum nanti kalau di hasil fotonya, enggak kelihatan sama sekali kamu lagi ada di tempat wisata mana. Suram sekali hidupmu. Bandingkan kalau pas suasana nggak terlalu ramai, kamu bisa dapat background foto landscape malioboro atau pantai atau tempat wisata manapun yang kamu kunjungi, lebih memorable. asiik. Coba deh, lebih manfaat yang mana hayo loh?