Selasa, 03 Juli 2012

Kami Masih Bersama Menyusun Keping Mimpi (Setahun Sudah)

Selasa, 3 Juli 12
10.56 pm

Tepat setahun yang lalu. 2-3 Juli 2011. Ya. Setahun lalu. Lembaran itu dimulai. Di tempat itu, aku berucap tekad mengenyam mimpi. Saat itu aku belum sepenuhnya percaya atas apa yang terjadi pada diriku.

Allah memang Maha Mengetahui. Ia menunjukkanku jalan menuju apa yang kubutuhkan. Menuju apa yang selama ini kusebut "mimpi".

28 Juni 2011. Ya. Aku yakin itu namaku yang tertulis di sana. Bersama dengan 25 nama lainnya. Inikah jawaban Allah atas kegundahanku selama ini? Di saat aku mulai melemah, mulai tertatih menyusun keping-keping mimpi itu sendirian, Allah menunjukkan jalan-Nya. Allah tidak membiarkanku sendirian berada di jalan ini. Allah menempatkanku ke dalam suatu wadah. Wadah tempatku menyusun keping-keping mimpi. Wadah yang diharapkan dapat membuatku makin mendekat kepada-Nya.

2-3 Juli 2011. Di tempat yang jauh dari keramaian itu, selama dua hari penuh, kami ditempa. Kami disiapkan untuk memasuki dunia baru kami. Bukan benar-benar baru memang, sebagian besar sudah memulai meski masih terseok, termasuk aku. Sebagian lainnya memang sudah cukup matang berada di dunia itu.

Entah, waktu itu berbagai macam perasaan bercampur aduk. Rasa syukur yang membuncah, terharu, tidak percaya, dan entah rasa lain yang tak punya nama mungkin. Aku yakin, 25 anak lainnya pun merasakan hal yang sama.

2 Juli. Berangkat pagi-pagi sekali. Sampai lokasi, kami dibekali berbagai materi dan motivasi. Sore masing-masing kelompok menampilkan sesuatu. Di sini, canda tawa dan keakraban di antara kami mulai mencair. Dan malamnya adalah hal yang paling berkesan bagiku. Kami menyebutnya istana lilin. Kami duduk melingkar, mengelilingi lilin-lilin yang menyala redup. Lilin yang ditata dengan formasi tertentu sehingga terbaca nama wadah mimpi kami ini. Malam yang penuh perenungan. Perjalanan hidup kita masing-masing, mimpi-mimpi kita, jejak langkah kita, hingga kita bisa berada di sini saat ini. Masing-masing dari kami berbagi pengalaman dan saling berucap harapan. Istana lilin. Hingga satu per satu nyala lilin meredup dan padam. Tak ada lagi nyala yang tersisa. Istana lilin. Sungguh, saat itu, aku merasa Allah tengah memelukku erat. Allahu Rohim.

3 Juli. Hari yang mengaduk-aduk emosi. Kami diajak berselancar dan menyelam dalam berbagai macam emosi. Permainan imajinasi. Masih tentang hidup yang kita jalani. Menguakkan memory. Reminisense. Aku ingat, saat itu, aku hanya ingin bertemu dan melihat wajah kedua orang tuaku. Aku ingin memeluk mereka. Ada suatu amanah lain dari dunia kuliah yang harus kujalani selama dua bulan penuh mulai keesokan harinya. Dan aku hanya ingin bertemu kedua orang tuaku sebelum aku menjalaninya. Aku ingin mengucapkan bahwa aku sangat mencintai mereka. Tapi aku tak bisa pulang. Aku tak bisa memeluk mereka hingga keberangkatanku esok hari. Dan..saat aku mendengar suara mereka dari seberang telepon, lidahku kelu. Linang bening sudut mata menetes. Entah. Materi hari itu hanya mengingatkanku pada bapak dan ibu. Mereka jua lah yang selalu membangunkanku kala terjatuh saat menyusun keping-keping mimpi itu. Karena mereka punya keping mimpi yang sama. Lantas, adzan Maghrib mengiringi kepulangan kami ke rumah masing-masing. Acara itu selesai. Kami menyebutnya pdkt. Banyak hikmah yang kami dapatkan dari sana.

Kini kami ada dalam satu wadah besar. Di pundak kami masing-masing kini memikul sebuah amanah. Tanggung jawab terhadap diri sendiri, dan tanggung jawab kepada Allah tentu saja. Untuk melanjutkan menyusun keping mimpi. Kini tak lagi sendirian.

3 Juli 2012. Hari ini. Tepat setahun. "Lantas apa yang sudah kau buktikan kepada dunia,hei ilalang kecil?" Kataku di depan cermin. "Sudah cukup banggakah kau sekarang dengan namamu dalam wadah itu, sehingga kau terlena?"

Aku menciut. Sudah. Cukup untuk hal-hal yang membuatmu terlena. Sudah saatnya kamu bangkit, menyusun keping dengan lebih mantab dan terarah. Amanah terbesarmu adalah berjuang menyusun keping mimpi di jalan Allah.
Ya Allah, tuntunlah kami dalam menapaki jalan hidup yang Engkau pilihkan untuk kami ini agar dapat mencapai ridho-Mu. Amin. 

PS. Jalan kita masih panjang, kawan. Tetaplah bergandengan tangan, berjuang bersama-sama. Allah is always with us. Keep fight, keep smile! Allahu Akbar! 


FLP Generasi XIII

 

Senin, 02 Juli 2012

Gadis Itu Bernama Chita

Minggu, 1 Juli '12

Howdy,howdy! Kali ini aku pengen cerita something funny. Bisa dibilang lucu, bisa dibilang memprihatinkan, bisa juga dibilang luar biasa. Ini pertama kalinya aku menceritakan tingkah polah saudara sepupuku. Namanya Tegar dan Ega. Kakak beradik. Masih SD. Tegar naik kelas 5 dan Ega naik kelas 2.

Hari Minggu siang mereka datang bersama ibunya (bulikku). Ketika kedua sepupu sedang asyik bermain komputer bersama bapak, sang bulik bercerita tentang perbedaan sifat kedua anaknya.

Pertama Tegar. Tegar ini anaknya cenderung pemalu kepada lawan jenis. Suatu saat sepulang sekolah, Tegar ini mengeluh kepada ibunya kalau ia jijik melihat teman perempuannya.
"Mak, Anggi ki jian, njijiki banget. Huek. Njijiki banget pokok'e. Hiiih!" (Ma, Anggi menjijikkan sekali. Huek. Pokoknya menjijikkan. Hiiih!)
"Kenapa? Korengen?" (korengen adl bekas luka)
"Ora. Anggi mosok nganggo kathok cekak banget!" (Nggak. Masak Anggi pake' celana pendek banget-hotpant!)
"Halah. Paling kowe yo seneng, ndelokke terus to?" (Halah. Palingan kamu juga seneng, ngliatin terus to?)
"Hiih, ora. Njijiki malah!" (Hiih, nggak. Menjijikkan malah!)
Kesimpulan dari percakapan itu adalah Tegar tidak suka dengan perempuan yang mengumbar tubuhnya. Meski agak-agak rancu juga. Itu pertanda dia benar tidak suka atau karena belum suka aja? Mengingat usia yang masih belia? -__-

Lain dengan kakaknya, Ega justru cukup populer di antara teman perempuannya. Pernah pulang sekolah, Ega sudah disamperin sama dua cewek temen sekelasnya. Setelah ganti pakaian, Ega pergi main sama temennya itu. Entah ke mana. Ketika Tegar pulang sekolah, ibunya nanyain Ega main ke mana (mereka satu sekolah).
"Kae isih pacaran. Njagong'e dempet-dempetan," jawab Tegar sambil lalu. (Itu masih pacaran. Duduknya mepet).
-__-

Sementara itu, ada satu orang anak perempuan kecil yang usianya satu tahun di bawah Ega. Namanya Chita. Di lingkungan tempat tinggal mereka, hanya Chita yang seumuran dengan Ega. Jadi ceritanya mereka sering main bareng. Chita sering main ke rumah Ega untuk mewarnai bersama. Ega ini seringkali menyiksa Chita. Menyiksa di sini dalam artian disuruh-suruh, bahkan bisa sampai main tangan.Dan Chita'nya mau-mau saja. Poor Chita..Pas Chita udah capek jadi orang yang disuruh-suruh mulu sama Ega, Chita ngambek dan bilang sama ibunya kalau nggak mau main lagi sama Ega. Tapi keesokan harinya, dari halaman rumahnya, Chita udah kembali berteriak-teriak memanggil Ega. Udah ngajak main bareng lagi aja tu anak! Haha. Dan Chita pun kembali rela disuruh-suruh.

Suatu hari, Tegar tidak tega melihat Chita yang menderita. Ia pun memanggil Chita untuk bermain bersamanya saja. Ketika Chita berjalan menuju ke arah Tegar, Ega sontak berteriak "Chita! Mrene! Karo aku wae!" (Chita! Sini! Sama aku aja!) Woot,woot..ungkapan rasa cemburu kah? Anak sekecil itu? Aduuuh.. #geleng-geleng kepala.

Oh ya, ada satu lagi. Tapi aku lupa tokoh perempuan ciliknya siapa. Intinya suatu hari Ega pernah foto berdua dengan salah seorang perempuan. Fotografer dan koreografernya adalah pamannya Ega. Si Paman ini agak-agak nakal, sengaja mengarahkan gaya pose foto sehingga tampak seperti dua bocah yang lagi ciuman, padahal senyatanya tidak sedang ciuman. Entah disadari atau tidak, Ega sangat suka dengan hasil foto yang satu itu. Bahkan, Ega mengajak patner perempuannya itu untuk berkunjung kembali ke rumah pamannya agar difoto lagi. Gubraaak! Ada-ada aja ini bocah!

Tapi teteep..patner in crime'nya Ega adalah Chita. Pokoknya, kalau terlalu sering bersama Chita, Ega kesal dan tidak suka. Tetapi ketika udah lama nggak ketemu, tak urung, Chita-lah orang yang paling dicari oleh Ega. Begitu pula dengan Chita. Kalau terlalu capek dinakali, Chita tidak suka dengan Ega. Tapi giliran lama nggak lihat, bakalan nyari juga.

Hmm..could it be love? Ya. Tapi cinta di sini bukan layaknya cinta yang dialami kaum remaja dan galauers kebanyakan. Cinta di sini masih dalam arti luas dan murni. Tidak ada tendensi yang mengarah kepada intimacy. Yang mereka rasakan hanyalah berbagi. Atau mungkin yang sebenarnya terjadi adalah bibit-bibit cinta intimacy itu sudah mulai tertanam dalam otak anak-anak akibat dari pendidikan yang mereka terima? Pro dan kontra. Abu-abu.

But, apapun itu, tingkah laku anak-anak terkadang sangat menggelikan ketika kita memandangnya dari kotak orang dewasa. Mungkin apa yang dialami Tegar sama Ega itu biasa aja bagi lingkungan pergaulan mereka. Karena mereka berperilaku sesuai apa yang mereka rasakan. Tapi bagi kita yang udah lebih gedhe, tentu membayangkan kalau hal itu terjadi pada orang-orang seusia kita, yang berperilaku dengan didasari pemikiran, lebih dari sekedar rasa. And that's very funny, you know. Hahahaa...

Sampai ketika mereka pamit pulang, aku sempat menggoda Ega "salam ya buat Chita!" Haha.
#Piss sepupu